
Kawanan semut dan pohon besar
"Jane temani aku keluar ya!" kata Zidane.
"Baik, pak! Saya akan siapkan mobil!" kataku.
Aku pergi ke garasi dan melihat sekilas bagunan labirin Zidane, fikiranku mulai terbayang hal-hal menyeramkan lagi. Aku mencoba mengalihkan perhatianku pada mobil-mobil Zidane yang semua dirusak paksa oleh gerombolan Kak Brian.
Akhirnya aku mengunakan mobilku yang terlihat seperti rosokan, jika dibandingkan dengan semua mobil-mobil mewah nan mahal milik Zidane Arkana.
Tapi tak ada pilihan lain, jika lelaki itu tak nyaman dengan fasilitas minimalis di mobilku, itu bukan kesalahanku.
Saat aku menyetir keluar garasi aku melihat Zidane mengenakan setelan jas hitam milik Boby yang terlihat pas-pas saja di tubuh Zidane.
Aku sering melihat Boby mengenakan setelan monoton itu, tapi tak pernah aku menganggap penampilan Boby istimewa.
Tetapi entah kenapa aku melihat aura pemimpin yang bijaksana, memancar dari sosok Zidane dengan setelan jas itu.
Mataku mungkin sedang sakit.
"Tampan banget sih anak orang!" pujiku di dalam mobil.
Aku masih seorang wanita biasa yang normal, tak mungkin aku tak memuji keindahan aura Zidane saat ini.
Zidane segera membuka pintu mobilku dan duduk di kursi pemumpang di sebelahku.
"Rasanya tak nyaman!" kata Pak Zidane.
"Apanya, pak?!" tanyaku, aku takut ketahuan karena telah mengagumi penampilan Zidane pagi ini.
"Pandanganmu pada Boby, kenapa membuatku tak nyaman?!" kata Zidane.
"Mungkin bukan karena itu pak, bisa jadi karena jas bapak agak ke besaran!" kataku.
"Apa baru saja kau mau bilang kalau Boby lebih gagah dari pada aku!" katanya tegas.
Ni cowok sensitif amat, lagi dapet yaaaa.
"Ya jelas gagah bapak!" kataku.
Nyeremin bapak, pinteran bapak, Tajir--an juga bapak... Boby mahhh nggak ada apa-apanya pak!
"Kenapa pendapatmu tentangku, menurutku jadi cukup penting begini!" katanya.
"Pak... Kenapa waktu itu bapak menolongku?" tanyaku. Aku mengalihkan topik pembicaraan karena rasanya tak enak aja bicara kemesraan sama seorang seperti Zidane Arkana.
"Kapan?"
"14 tahun yang lalu!"
"Saat itu aku sering memperhatikanmu karena Brian menyukaimu!" katanya.
"Kak Brian!"
__ADS_1
"Dia selalu kabur dari rumah saat jam lima sore dan aku mengikutinya secara diam-diam!" katanya.
Kabur dari mana....
Rumah yang ditinggli Kak Brian saat ini, apa bukan rumah keluarganya...
Terus dia sengaja mendekatiku... Ada tujuan apa Kak Brian melakukan hal semacam ini pada korbannya.
Apa dia ingin memastikan jika aku tidak akan pernah mengingat secara detail, tentang kejadian penyerangannya terhadapku 14 tahun yang lalu.
"Awalnya aku hanya penasaran, tapi aku merasa Brian jadi berlebihan!
"Ketika kau tak mengangkat telfon darinya, dia selalu saja melakukan kekerasan pada pengawal atau pembantu di rumah!" jelas Zidane.
"Lalu hari itu?! jika aku membiarkan dia ada di sekitarmu, mungkin kau tak akan diserang!" lanjut Zidane.
Dia yang nyerang aku, Pak!!!
Sedekat itu Pak Zidane dengan Kak Brian?!
Tapi kenapa Kak Brian tak pernah bilang kalau mereka dekat...
Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua???
Zidane ternyata memgajakku pergi ke tempat desainer faforitnya di Jakarta, butiknya saja sangat mewah dengan ruangan khusus VIP dan pelayanan yang sangat mengesankan.
Hari itu Zidane banyak membeli setelan jas dan baju santai, yaaaa baju santai aja buatan desainer. Orang kaya mahhh bebas.
Bagasi dan kursi belakang mobilku penuh dengan barang-barang branded tapi bukan punyaku, Aku melirik sekilas wajah digin Zidane yang sedang mengemudi.
Saat pulang Zidane bersikeras untuk mengemudikan mobil yang kami tumpangi.
"Pak laper, Pak!" kataku.
Dia melirikku sekilas dan tersenyum kecil.
Semenjak aku mendapatkan ingatan tentang detail kejadian 14 tahun yang lalu, membuatku tidak menjaga jarak lagi dengan Zidane.
Zidane adalah sosok yang pernah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri. Jadi untuk apa aku menjauh darinya.
Tetapi aku juga merasa sedikit berserah karena apapun yang kulakukan saat ini hanya untuk memanfaatkan dia.
"Kita makan di hotel!" katanya.
Aku hanya diam saja dan menantikan setiap tikungan menuju hotel, masa makan harus di hotel.
Zidane tak bisa makan di sembarang tempat, dia hanya makan makanan yang dimasak dan dihidangkan langsung oleh koki-koki Italia, selain koki di rumahnya.
Kami masuk ke dalam restoran itu dan melihat sebuah pemandangan yang cukup membuatku mau bacok-bacokan. Dia adalah Brian Devano yang sedang makan dengan seorang wanita cantik dengan gaun merah yang seksi.
"Kalian di sini juga?" tanya Brian.
Penjahat itu menyapa kami duluan.
__ADS_1
"Iya, Kak!" sahutku kesal.
"Dia hanya teman lama Jane!" kata Brian Devano, mungkin dia mengartikan rasa kesalku dengan cemburu.
Aku hanya melengos tak mau tau, rasanya malas sekali aku melihat wajah sok polos Brian.
Untungnya seorang pelayan dengan jas lengkap dan sangat rapi menghampiri kami dan menunjukkan ruangan untuk kami.
Zidane Arkana yang tak suka makan di tempat biasa dan dilihati oleh banyak orang.
"Kau cemburu?" tanya Zidane.
"Cemburu ke Kak Brian?" tanyaku balik.
"Siapa lagi?!"
"Aku lebih cemburu, Pak Zidane belanja bnyak sekali barang tanpa membelikanku apa pun!" jawabku jujur.
"Kau tak pandai menutupinya Jane perasaanmu Jane!" kata Pak Zidane.
"Kalau bapak menangkap perasaan cemburu dariku ke Kak Brian, berarti aku bisa berkamuflase dengan baik!" kataku, sambil tersenyum licik.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Zidane.
"Tenang saja aku akan sebisa mungkin tak merugikan dan mengecewakan bapak kok!" kataku.
Makanan kami tiba dengan cepat, Zidane makan makanan yang biasa dia pesan dan aku juga sama memakan makanan yang biasa Zidane pesan juga.
"Aku sangat percaya padamu Jane!"
"Aku juga sangat percaya pada bapak, jadi jangan coba menghianatiku!"
"Apa kau sedang mengancamku?"
"Anggap saja begitu! meski aku berperan sebagai benalu tapi aku tak akan merugikan bapak!
"Anggap saja aku kawanan semut yang tinggal di pohon besar!
"Aku akan mengusir hama lain yang bisa merusak pohon besar itu !" kataku mengacungkan garpuku pada Zidane yang kuibaratkan pohon besar.
Dia hanya menangapi perkataanku dengan senyuman, hari ini kami makan bersama dengan santai tanpa ada ketegangan apa pun.
Ternyata Kak Brian menungguku di parkiran dia berdiri di dekat mobilku.
"Kalian berdua membuatku terlihat seperti penjahat!" gumam Zidane padaku. Aku tak menangapinya karena fokus dengan ke marahanku pada Kak Brian.
Kak Brian menghampiriku dan berdiri di depanku. Zidane segera meninggalkan kami, sepertinya Zidane adalah orang yang cukup menghargai hubungan asmara setiap insan.
"Jane kita harus bicara!" katanya.
"Bicara apa, pak!" kataku merubah sebutanku padanya.
"Jane, aku senang kau marah padaku karena wanita tadi! Tapi kenapa kau membebaskan lelaki ini dia yang menyerangmu 14 tahun lalu !" kata Brian dengan nada tinggi, suaranya mengema di gedung parkir nan luas ini, beberapa orang yang jauh jadi melihat ke arah kami.
__ADS_1