
Tampaknya pria ini sudah tidak waspada lagi terhadapku. Dia dengan santainya memutar tubuhnya dihadapanku, berjalan-jalan kecil menuju meja kerja satu-satunya di bawah itu.
"Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri!" ucap pria itu.
Memang pria itu memiliki usia yang hampir sama dengan ayahku. Dia juga jenaka, serta memiliki jiwa kebapakan. Aku pikir dia memang orang yang seperti itu, meski sedang menghadapi orang lain selain aku.
Namun aku tidak boleh senang dulu, karena ada seseorang yang berdiri di pihakku. Siapa tahu ini hanya umpan.
Pria itu berdiri di depan meja kerjanya, dia menyentuh sebuah tempat pensil dan dia menggesernya Lalu setelah pintu rahasia lain terbuka di hadapanku.
"Masuklah!" ucap pria itu.
Aku curiga jika pria paruh baya ini menganggapku sebagai putrinya, namun aku tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti perintahnya untuk memasuki Ruang Rahasia lain itu.
Aku memang beberapa kali menemani Kak Brian untuk bertransaksi senjata ilegal. Yang aku ketahui hanyalah tempat ini, Kak Brian tidak pernah bertransaksi senjata ilegal di tempat lain.
"Kau tahu kenapa sistem tata surya hanya boleh memiliki satu matahari?" tanya pria itu.
Kami memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam senjata api, dalam berbagai model.
Senjata-senjata itu hanya digantung di dinding, meski ditata dengan rapi.
"Karena akan kacau!" jawabku.
"Kau benar!!!" pria itu tertawa terkekeh seperti menyukai jawabanku.
"Tetapi aku tidak menyangka, jika kau yang akan mereka gunakan!" pria paruh baya itu kembali berbicara dengan nada yang sedih.
Aku mulai faham apa yang dimaksud pria paruh baya ini. Zidane sedang menggunakanku untuk menguasai Arkana Grup.
"Namun aku merasa lega, karena ternyata orang yang mereka gunakan adalah orang yang cukup pintar sepertimu!" pria itu kembali tersenyum nanar kepadaku.
"Jika anda tahu saya cukup pintar, harusnya anda tidak mengulur waktu!" kataku.
Pria paruh baya itu tidak menjawab perkataanku dan langsung berjalan menuju salah satu sisi dinding bangunan yang cukup luas serta dipenuhi senjata api itu.
Ternyata ada sebuah lemari rahasia yang hanya diketahui oleh dia membukan, bagaimana cara membukanya.
Dari sana dia mengeluarkan sebuah koper yang tidak terlalu besar.
"Kupikir kau juga butuh senjata, karena mulai sekarang kehidupanmu pasti sangat mengerikan!" pria paruh baya itu malah memberikan sebuah koper kecil kepadaku.
Aku berpikir pria ini benar-benar ingin menguji seberapa besar kesabaran yang kupunya.
"Semua rahasiaku ada di situ! Kau harus menggunakannya dengan baik, ingat itu!!!" kata pria itu.
Aku bukanlah seorang yang bisa mempercayai orang lain dengan sangat mudah, tetapi aku juga tidak bisa memaksa orang ini untuk menuruti perintah dariku.
__ADS_1
Pria paruh baya ini sudah bekerja dengan Pak Jendral sebelum aku bekerja di Arkana Grup. Tidak mudah baginya menghianati tuannya hanya karena, gertakan dariku.
Aku mengambil koper yang dia berikan kepadaku, lalu aku memutuskan untuk pergi saja dari sana.
Menyakiti orang ini bukanlah sebuah ide yang brilian. Meski sekarang aku berdiri di pihak Zidane, bukan berarti aku bisa seenaknya berbaku hantam dengan orang-orang Pak Jendral.
Aku tidak ingin terlalu mencolok untuk saat ini.
.
.
Aku mengemudikan mobilku dengan perasaan gagal.
Tidak ada cara lain yang terlintas di pikiranku. Bagaimana mendapatkan catatan transaksi ilegal yang dilakukan oleh Pak Jendral dan Kak Brian, yang rinci.
Aku harus membuktikan jika dokumen yang diberikan oleh Meri kepadaku, adalah hal yang nyata.
Aku baru bisa bertindak dengan leluasa, jika mengetahui bahwa kecurigaanku benar-benar ada buktinya.
Saking gugupnya aku berhenti di tengah jalan.
Aku gugup jika apa yang kini ku pikirkan adalah sebuah kebenaran.
Sebuah kebenaran jika Kak Brian, mungkin saja adalah dalang dari kasus korupsi penyelundupan senjata ini.
Aku mungkin sudah mempersiapkan diri untuk merasa kecewa, tetapi entah kenapa aku belum siap untuk menerima. Jika seorang yang sudah kau anggap sebagai kakak lelakiku sendiri itu, melakukan hal yang menjijikan seperti menikam tuannya dari belakang.
Satu-satunya orang yang akan mengusut perlakuan seperti itu, hanyalah Zidane.
Jika Kak Brian benar-benar melakukan korupsi, berarti Kak Brian sudah tahu jika suatu saat Zidane akan kembali ke Indonesia.
Kak Brian mengumpulkan amunisi untuk melawan raja yang sesungguhnya.
"Orang itu pandai berpura-pura!" lenguhku, dalam keputus-asaan.
Kak Brian selalu terlihat seperti seekor anjing yang tidak akan menggigit siapa pun. Namun ternyata anjing itu adalah seekor harimau yang sedang menyamar.
"Hebat sekali!" kataku.
Aku benar-benar masih tidak mempercayai Jika Kak Brian mempunyai ambisi semacam itu terhadap Arkana Group.
Jadi selama ini kau hanya membohongiku?!
Untuk apa kau berbohong padaku?
Padahal jika kau jujur, mungkin aku tidak akan meninggalkanmu seperti ini!
__ADS_1
Jika kau sangat licik, pasti aku tetap berdiri di pihakmu!
Dan memintamu secara langsung untuk menemukan orang itu, membunuhnya untukku!
Tetapi aku tidak bisa seperti seekor ayam yang beraliran kesana kemari saat ada yang menawarkan makanan.
Zidane sudah janji kepadaku dan aku akan mempercayainya.
.
.
Koper itu berisi senjata api laras pendek berwarna putih. Ada beberapa selongsong peluru cadangannya juga.
Awalnya aku cukup lega karena ternyata pria paruh baya tadi tidak memberiku bukti apa pun.
Tetapi saat aku memperhatikan saya langsung peluru cadangan, ada salah satu pelurunya terlihat berbeda dari peluru lainnya.
Aku segera mencabut peluru itu dari selongsong dan memperhatikannya dengan seksama.
Peluru itu bisa ditarik dan di dalamnya ada sebuah kartu memori yang bisa dikoneksikan ke laptop.
Tanpa berpikir panjang aku segera mengambil laptopku yang dari tadi ku taruh di jok belakang mobil yang ku kendarai.
Aku segera melihat isi dari flash disk itu.
Sesuai dugaanku, rahasia yang dipegang oleh pria paruh baya itu sangat mirip dengan dokumen yang Meri berikan kepadaku.
Sekarang tugasku adalah mencari siapa yang menerima uang hasil penjualan senjata itu.
Apakah benar kok pilihan yang menerima dan menjalankan perputaran uang itu.
.
.
.
.
Satu-satunya harapanku adalah Xia. Mantan Heaker Tim Alpha yang kabur beberapa tahun yang lalu.
Kenapa Xia kabur dari Tim Alpha aku juga tidak begitu tau, tapi intinya Xia melakukan kesalahan yang cukup besar.
Tetap wanita berkebangsaan Tionghoa yang sangat lancar berbahasa Indonesia itu, selalu rutin menghubungiku.
Aku juga tidak ada niat untuk memberitahu orang lain, jika aku masih berhubungan dengan Xia.
__ADS_1
Selama Xia tidak merugikan ku aku juga tidak akan merugikannya.
Aku harus menghubungi Xia dan menanyakan di mana keberadaannya, aku harus bertemu langsung dengan wanita itu. Agar aku mendapatkan beberapa informasi rahasia Arkana Grup.