Mafia Hunter

Mafia Hunter
Geli


__ADS_3

Setelah selesai Zidane berdiri dengan baju dan tangannya bersimbah darah dia lalu melepas tali ikatan Pak Dewanto dengan perlahan. Zidane menendang tubuh tambun Pak Dewanto jatuh dari gedung terbengkalai itu.


Zidane menyuruh Boby untuk melepas dua orang lainnya.


"Dimana pun kalian berada, aku pasti tau! Jadi jangan coba-coba kabur dariku!" kata Zidane pada kedua tahanannya.


Mereka berdua hanya menunduk takut dan berjalan keluar gedung dengan tubuh gemetaran. Mereka berdua dilepaskan bahkan diantar ke rumah mereka oleh Pak Robet.


Zidane, sebenarnya mahluk seperti apa dirimu?!


Kau begitu sangat tega sampai-sampai memotong 10 jari manusia yang masih hidup, tetapi di sisi lain kau membebaskan dua orang yang menyakitimu. Kenapa semua yang kau lakukan itu tampak seperti keputusan yang ambigu.


Aku sama sekali tidak bisa menebak arah ke mana kau akan berjalan, seolah kompas insting yang kupunya tidak berjalan dengan baik ketika di hadapanmu.


Tetapi aku tak peduli, yang penting kau harus lebih kuat dari Brian. Agar kau bisa membalaskan dendamku pada sahabatmu.


Dini hari itu juga Zidane dan Boby serta Leo kembali ke Jakarta, sementara aku masih di sini untuk memgontrol secara penuh tiga tempat ilegal Vano Company.


Memberi keamanan yang lebih, supaya terhindar masalah di kemudian hari. Aku pergi setelah tiga hari di sana untuk memastikan Brian tidak melakukan pergerakan yang mencurigakan.


Saat aku sampai di bandara Ibukota, aku dijemput Boby di bandara.


"Apa kau sekarang merubah keputusanmu?" tanya Boby.


"Keputusan apa?" tanya Boby.


"Untuk selalu berdiri di samping Pak Zidane!"


"Memangnya aku bisa kabur?" tanyaku.


"Mungkin kau masih diizinkan kabur, jika pamit ke Pak Zidane langsung!" kata Boby.


"Aku sudah terlanjur janji pada Pak Zidane! Dan aku bukan tipe orang yang akan mengingkari janjiku!" jelasku.


"Kau kuat juga!" kata Boby dengan nada ejekan. "Pengawal baru akan mutah di jari pertama!" kata Boby.


"Kau pikir itu lelucon?" tanyaku.


Boby hanya membalas ke pertanyaanku dengan senyuman, Boby pasti sering melihat aksi brutal Zidane yang lebih mengerikan. Hal seperti yang dilakukan oleh Zidane kepada Pak Dewanto bukanlah sebuah kekejaman yang tidak bisa ditoleransi oleh orang bernama Boby itu.


Aku sampai di kediaman Zidane Arkana jam delapan malam, karena aku dan Boby makan dulu di perjalanan pulang tadi.


Boby memarkirkan mobilnya sementara aku keluar duluan dari mobil untuk menemui Zidane, karena ada yang ingin kulaporkan kepadanya.


Tak seperti biasanya jantungku bereaksi cukup serius, apa ini rasa takut. Bagaimana aku tidak takut secara langsung aku melihatnya menyiksa seseorang dengan cara yang begitu brutal. Tetapi aku tak boleh gugup dengan hal-hal seperti itu.

__ADS_1


Aku harus memiliki mental yang kuat jika ingin mendekati orang ini, hal seperti yang dilakukan oleh Zidane kepada Pak Dewanto adalah sesuatu yang harus kutoleransi meski berat.


Tok Tok Tok


Seperti biasa aku mengetuk pintu kamarnya dulu sebelum dijawab oleh Zidane aku belum berani masuk ke dalam kamarnya. Cukup lama aku berdiri di depan pintu menunggu sahutan orang di dalam kamar yang tak lain adalah Mafia terkenal di dunia bernama Zidane Castello Arkana.


Karena aku merasa terlalu lama menunggunya, aku memutuskan untuk turun ke lantai satu dan bertanya pada pengawal yang selalu menjaga di depan pintu masuk rumah Zidane.


"Pak Zidane ke mana?" tanyaku.


"Di kamar!" jawab pengawal itu.


"Kok aku panggil-panggil enggak nyaut?" tanyaku dengan bahasa santai.


Berbeda dengan Zidane dan juga Boby, pengawal Zidane yang satu ini adalah orang Indonesia tulen. Berbicara dengannya menggunakan bahasa sehari-hari orang Indonesia pasti mudah dimengerti olehnya.


"Mungkin beliau sedang mandi, ketuk lagi saja!" kata Pengawal itu.


Aku segera naik lagi dan mengetuk pintu kamar Zidane lagi.


"Siapa?" tanya Zidane dari dalam.


"Saya Jane, pak!" kataku.


"Masuklah!"


Tak lama Zidane keluar dengan baju santai dan langsung mendekat ke arahku.


"Boleh aku memelukmu!" katanya.


Aku mendongak dan melihat wajahnya sekilas, tak ada ekspresi apa-apa di sana.


"Kenapa anda ingin memeluk saya?!" tanyaku agak canggung, permintaannya dia membuatku merasa canggung sekali.


"Untuk keberhasilanmu atas Vano Compeny!" kata Zidane.


"Ooohhhh!" sahutku canggung.


Ternyata dia hanya ingin mengucapkan selamat kepadaku atas keberhasilanku merebut Vano Campeny dari tangan Brian dan juga Pak Jenderal.


Aku maju dan memeluk Zidane, tubuhnya terasa dingin karena mungkin dia habis mandi dengan air dingin. Baunya juga wangi dan cukup membuatku tenang.


Tapi Zidane memelukku cukup erat dan mengunakan perasaannya aku bisa merasakan perasaan yang cukup dalam, hal itu menekan tubuhku.


"Bapak kenapa?" tanyaku.

__ADS_1


"Biarkan begini sebentar ya, tolong!" katanya pelan dan nada suaranya sedikit berbeda.


Apa seorang Zidane Arkana juga butuh pelukan hangat, lelaki ini benar-benar tak bisa ditebak. Baru beberapa hari lalu dengan tanpa perasaan dia menganiyaya orang dan sekarang dia memelukku dengan erat seperti bocah yang kurang kasih sayang.


Aku mengelus punggung lebar Zidane agar dia merasa lebih tenang, aku tau dia tak baik-baik saja. Bisa kudengar dari deru nafasnya yang melintas di punggungku, tampaknya dia masih punya hati nurani. Beban yang ia pikul karena telah menyiksa banyak orang dengan kejam, pasti sangat berat sekali.


Ia melepas pelukannya dariku. Aku kaget karena dia menyibakkan rambutku yang terurai ke belakang. Wajahnya yang dingin menyusup ke leherku dan membuat jantungku berdesir keras.


Entah kenapa tubuhku ini tak menolak, biasanya aku akan menolak dengan brutal jika diperlakukan lawan jenis ssampai sejauh ini. Rasa geli yang menggelitik menyusuri tuhuhku karena nafas hangat Zidane di area leherku. Aku mencoba tak bersuara karena jika aku bersuara, aku yakin acara malam ini akan jadi acara 18++.


"Pak?" bisikku.


"Upa!" jawabnya.


"Udah pak, geli!" kataku.


Zidane pun melepas pelukannya padaku dan tingkahnya seperti orang kebingungan.


"Maaf aku terlalu terbawa suasana!" katanya.


Aku masih melihatinya ekspresi wajahnya yang tampak sangat canggung sekali.


"Bapak yakin masih perjaka?" tanyaku.


"Kenapa?" tanyanya, dia duduk di sofa dan aku mengikutinya.


"Pertahankan pak!" kataku. "Jika orang-orang yang bapak bunuh menjadi hantu! Bapak tinggal kencingin hantu itu aja.


"Kata orang, hantu takut dengan kencing pejaka ting-ting!" kataku.


"Kau percaya tahayul ya!"


"Aku orang Indonesia asli, pak!" kataku.


"Aku tak percaya, kau bisa mempercayai hal-hal mistis macam itu!" kata Zidane.


"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Zidane, akhirnya dia mulai serius.


"Saya sudah memastikan kondisi di sana sangat kondusif dan Pak Jendral belum terdeteksi melakukan pergerakan apa pun!" kataku.


"Kira-kira serangan macam apa yang akan dia gunakan?"


"Saya yakin Pak Jendral akan menyerahkan urusan semacam ini kepada Kak Brian!


"Jika aku tidak salah prediksi Kak Brian pasti akan mengunakan media lagi untuk menjatuhkan Arkana Grup!

__ADS_1


"Kak Brian adalah tipe orang yang sangat berhati-hati dan teliti, dia juga suka menyerang seseorang secara psikis!" jelasku.


"Kau benar! Dia akan berusaha mencari kesalahan Arkana Grup sekarang!" kata Zidane.


__ADS_2