
Aku berusaha menghubungi Xia, setelah berkali-kali aku mencoba akhirnya dia mengangkatnya.
"Aku Jane!" ucapku.
Aku harus meyakinkan Xia supaya heaker hebat itu mau melanjutkan pembicaraan denganku.
"Iya, Kak Jane ada apa?" Xia ternyata tak mempunyai firasat buruk terhadapku.
"Aku memerlukan bantuanmu!" kataku.
"Bantuan apa?"
"Aku akan mengatakannya nanti, setelah aku bertemu denganmu!" kataku.
"Pergilah ke alamat yang akan kukirim pada kakak! Aku akan menemui Kakak, di sana!" ucap Xia.
Tanpa banyak basa-basi lagi Xia menutup panggilannya secara sepihak.
Aku hanya punya satu harapan, yaitu Xia. Wanita itu tak akan berbohong kepadaku, kebenciannya pada Arkana Grup pasti tak akan membuatku tersesat.
Meri dan pemilik gudang senjata mungkin bisa membohongiku karena Arkana bisa dengan mudah menyuap mereka. Tapi Xia, tak akan bisa dimanipulasi oleh Keluarga Konglomerat itu.
Tak lama Xia mengirimi ku sebuah alamat, ternyata dia ada di kota Palembang.
Aku pulang dan mengambil beberapa pakaian serta meningalkan senjata yang di berikan oleh pria tadi di bawah kolong tempat tidurku.
Aku langsung terbang ke Palembang mendatangi alamat yang dikirim oleh Xia, ternyata letak alamat itu sangat jauh dari kota Palembang.
Ke esokan harinya aku baru sampai setelah menyetir cukup lama, masuk ke dalam perkebunan kelapa sawit yang jalannya masih tanah merah. Saat aku keluar dari mobil jib yang kudapat dari Arkana Hotel di Palembang kota.
Sebuah rumah panggung berdinding papan yang kumuh. Rumput belukar yang tinggi mengelilingi bangunan itu.
Di tempat itu ada seorang Pria yang mungkin berusia 50 an dan tampak berantakan. Dia memelihara kambing di depan rumahnya.
Dua orang anak kecil keluar dari rumah pangung itu. Kedua anak itu memakai seragam sekolah dasar dan berpamitan pada pria itu.
"Maaf, pak! Apa ini rumah Xia ?" tanyaku.
"Siapa kamu ?"
"Nama saya Jane! Saya teman Xia waktu dia bekerja di Jakarta !" jelasku.
Ponsel di saku jaketku bergetar, ternyata aku mendapat pesan dari Xia.
Maaf kan aku Jane!
__ADS_1
Dia ayahku, hanya dia akan bisa membantumu untuk saat ini.
Aku mencoba menghubungi nomor ponsel Xia, tapi ponselku malah direbut oleh pria tua yang kutanya tadi. Tanpa ampun, pria tua itu memukul ponselku mengunakan kayu sampai hampir hancur.
"Kau dari Arkana !" tanyanya, aku hanya diam saja karena masih merasa heran.
Ternyata pria tua yang tampak sangat lemah di hadapankujug, sepertinya beringas juga.
"Apa yang kau inginkan dari anakku?" tanyanya lagi.
"Aku putus asa!" ucapku, kupandang wajah keriput kusam pria tua itu dengan seksama."Aku harus tau, seperti apa Brian Devano dan juga Zidane Arkana yang asli!" kataku.
"Sebaiknya kau tak tau, pergi lah!" usirnya.
"Jika anda benar-benar Ayah Xia, anda pasti tau siapa mereka berdua. Anda sudah berkerja sebelum Pak Sadewo di tunjuk menjadi CEO Arkana Grup!" kataku.
"Maaf nak aku tak bisa membantumu!Pergilah dari sini !" bentak orang tua itu.
Apa aku harus menyerah?
Jujur saja ini sangat berat!
Tapi aku harus melakukannya, aku harus melakukannya. Sebelum Kak Brian sampai di Indonesia aku harus bisa memecahkan khasus ini.
"14 tahun yang lalu, saat usiaku masih 14 tahun aku di serang seorang lelaki yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku !" kataku.
Aku sebenarnya ingin melupakan kejadian malam itu, tapi kejadian itu membuatku hidup seperti ini. Hidup bagaikan manusia yang tak punya hati.
"Dia menyerangku di rumahku sendiri! Saku hampir mati!" aku menundukkan kepalaku, menguatkan diriku sendiri.
"Luka itu masih ada sampai sekarang!" lanjut ku.
"Karena dia tak hanya menyerang fisikku, tapi juga melecehkanku secara seksual.
"Tapi kenapa orang itu tak bisa di tangkap?!" air mataku mulai menetes karena kesedihanku sudah berubah menjadi amarah.
"Laporan tes DNA seperma hilang sebelum ada yang membacanya! Sampai sekarang aku tak bisa menemukan orang itu !" kataku.
Tanpa sadar air mataku berhenti mengalir dan tuhuhku bergetar karena mengingat kejadian malam itu. Mataku kabur dan kepalaku tiba-tiba pusing, aku kehilangan kesadaranku.
Aku masih ingat bagaimana lelaki itu menendang dan memukuli tubuhku dengan sekuat tenaganya hinga tubuhku tak bisa kugerakkan lagi.
Berkali-kali aku mintaan untuk berhenti, berkali-kali juga aku memohon agar tak membunuhku. Tetapi orang itu tak hiraukan kata apa pun yang kulontarkan.
Saat itu aku bahkan tak bisa menagis lagi karena rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku tak bisa melihatnya karena orang itu menutup mataku dengan dasi yang awalnya dia kenakan.
__ADS_1
Orang itu juga mengikat tanganku dengan tali entah dari mana ia dapat.
Yang paling keji dari semua kejahatan yang dilakukan orang itu terhadapku adalah. Dengan penuh nafsu yang waktu itu bagiku sangat mengerikan, dia menyetubuhi tubuh mungilku yang bahkan baru mengalami mestruasi beberapa bulan sebelum kejadian.
Setelah selesai melampiaskan nafsunya yang menjijikan itu, aku masih bisa mendengar kaca pecah meski samar-samar. Kupikirkan salah satu kakakku pulang, tapi aku sadar diri. Ternyata aku sudah di rumah sakit dengan banyak selang di sekujur tubuhku.
Aku tak sadar selama tiga hari, ternyata orang yang penyerangku itu menikam perutku sebelum dia pergi.
Aku harus kehilangan banyak darah dan sebuah keajaiban aku bisa berdiri di sini sekarang.
Aku mengalami patah tulang di berapa tulang rusuk, tangan kanan dan kaki kiriku. Serta Hamil anak bajingan itu, tapi harus kugugurkan karena tubuhku masih kecil. Lagi-lagi pihak keluargaku gagal mengetes DNA calon janin itu.
Sayup-sayup ku dengar suara burung berkicau, perlahan aku membuka mataku. Aku tidur di sebuah kasur lantai yang tampak lusuh dan lantai kayu bangunan yang sedikit berdebu.
Aku meregangkan tubuhku dan pandanganku tertuju pada Ayah Xia yang sedang menyiapkan sesuatu tak jauh dari sana.
"Maaf Paman, pasti berat mengangkat saya ke mari ?" kataku.
"Tubuhmu bahkan lebih ringan dari sekandi beras, tidak papa!" katanya.
Aku pun duduk dan melipat selimut usang yang di buat paman menyelimutiku waktu aku pingsan tadi.
Aku berdiri dengan agak susah karena kepalaku masih sakit, tapi ku paksakan untuk mendekat ke meja makan yang bertema lesehan di ruang tengah rumah ini .Ternyata Ayah Xia sedang menyiapkan makanan.
"Makanlah !" kata Paman.
Aku hanya menganguk dan tersenyum, tau aja paman ini perutku memang sangat lapar.
"Jika kau bertemu pria yang menyerangmu, apa yang akan kau lakukan!" tanya Ayah Xia yang membuatku mau tersedak.
"Aku ingin membunuhnya, tapi aku akan bertanya dulu ke padanya kenapa dia melakukan itu padaku!" kataku jujur.
"Aoa kau sangup membunuhnya?" tanya Ayah Xia.
"Aku pasti bisa, tapi untuk jaga-jaga aku sudah meminta seseorang melakukannya!"
"Lalu kenapa kau di sini?"
"Aku harus memastikan sesuatu!" kataku, aku mengambil tas ku yang ada di dekat kasur dan menyodorkan flaseDisk pada ayah Xia.
Paman melihat isi flasedisk itu dengan labtop ku dengan seksama.
"Bocah itu akhirnya menjadi bom waktu untuk Arkana!" kata paman.
"Jadi Kak Brian benar-benar melakukan penghianatan pada Arkana ?" tanyaku.
__ADS_1