Mafia Hunter

Mafia Hunter
Kepulangan Kak Brian


__ADS_3

Aku sama sekali tak menyangka, ternyata ada rahasia di balik rahasia keluarga Arkana ini. Jika pandangan orang awam keluarga Arkana ini adalah keluarga sultan yang sangat akur dan tak mungkin miskin. Maka pandangan bagi pegawai inti adalah keluarga Arkana yang terdiri dari rombongan sychopath mafia yang kejam dengan memanfaatkan kemampuan Tim Alpha.


Tetapi pandanganku kini pada Keluarga Arkana jadi berubah. Kak Brian yang dulu sangat kuhormati adalah salah satu dalang yang membuat semua jadi tumpang tindih.


Seseorang yang kupikir adalah orang yang paling baik, ternyata adalah orang yang paling jahat. Entah kenapa aku merasa sangat terpukul karena kenyataan ini.


Bodohnya aku malah merangkai puzzle yang lepas dan tak beraturan. Aku hanya punya satu alasan, aku ingin membunuh penyerangku 14 tahun lalu dengan ke dua tanganku sendiri.


Aku tau aku tak akan mampu melakukannya, dan hanya satu orang yang mau dan mampu membantuku Zidane Arkana. Aku harus bisa menyelesaikan ini semua dan punya alasan yang tepat untuk menjatuhkan Brian dengan cara yang tak mungkin dia sangka-sangka.


.


.


Jam dua malam dini hari aku menjemput Kak Brian yang baru saja turun dari pesawatnya, seperti biasa aku langsung menerima pelukan hangatnya.


Apa kami pacaran?!...Jawabanya tidak!


Entah seperti apa perasaannya padaku, tapi aku tak merasa kita punya hubungan yang mesra. Kami hanya rekan kerja yang selalu akur, itu saja.


Kak Brian malah mengangkat tubuhku saat dia masih memelukku.


"Kamu jadi enteng begini, apa Zidane tak memberimu makan dengan baik?" tanya Kak Brian.


"Dia hanya menyediakan mie istan di dapur rumah yang kutingali !" kataku berlagak kesal.


"Kasian sekali kucingku ini, apa kau senang kembali ke pelukanku seperti ini?" tanyanya.


"Kak turunkan aku dulu, ngak enak dilihat banyak orang !" kataku.


Kak Brian melakukannya di tengah keramaian, meski tengah malam banyak para penjemput yang menunggu penumpang pesawat yang baru tiba di bandara.


Apa iya mahluk ini adalah penjahat, kenapa aku jadi bimbang begini...


Wajahnya, ekspresinya yang selalu ceria. Serta orang ini juga sangat perhatian dengan semua rekan kerjanya.


Tapi Xia dan Ayahnya tak mungkin akan berbohong padaku.


Kak Brian memaksa untuk menyetir mobil dan langsung menuju ke rumahnya. Aku pun ikut masuk dan membantunya membawa barang-barang kecil yang tak terlalu berat miliknya. Sedangkan Kak Brian menurunkan dua koper besar dari bagasi mobil.


"Menginap saja di sini, sebentar lagi kan pagi!" kata Kak Brian.

__ADS_1


"Iya, aku akan menginap di sini!" kataku, kami masuk rumah, dan aku sengaja mengintip nomor pin pintu rumahnya dan menghafalnya.


Kak Brian tingal di sebuah rumah kompleks perumahan yang biasa saja, tapi cukup besar untuk tingal sendiri. Perabotan di rumahnya bernuansa etnik Jawa yang sangat kental, membuatku agak tak percaya kalau ini rumah Kak Brian.


Kak Brian adalah orang yang cukup fleksibel dan instan, tampaknya nuansa rumah ini tak akan membuatnya nyaman.


Ini memang bukan pertama kalinya aku masuk rumah ini, tapi ini pertama kalinya aku melihat isi rumah ini dengan sangat teliti.


"Kakak suka parabot bernuansa kayu ukir begini ya ?" tanyaku.


"Ohhhh parabot ini peningalan Ayahku! Sayang kalau dibuang, jadi aku bawa ke sini!" jawabnya, dia menaruh koper yang ia bawa di kamarnya.


Aku pergi ke dapur untuk minum, rumah ini hanya satu lantai dengan dapur yang luas dan bersih. Dapur di sini bergaya minimalis dengan pintu kaca yang langsung tembus ke halaman samping yang tampak asri meski malam hari.


Aku kembali ke ruang tengah yang terdiri dari ruang televisi dan perpustakaan kecil di sana. Aku duduk di sofa putih panjang itu dan menyandarkan tubuhku di sana.


"Kau ngantuk, ya?" tanya Kak Brian.


"Tubuhku terasa mau remuk!" kataku jujur.


"Kau bisa tidur di kamar itu!" katanya, dia menunjukkan pintu di sebelah ruang tv ini dan aku pun masuk dan lampu otomatis menyala sendiri.


Kenapa kamar itu persis sekali dengan kamarku dulu. Kamar seorang gadis SMP dengan kasur berukuran Single dan lemari kayu berwarna pink, dengan kaca lebar di dinding luar. Ayah tiriku merubahnya karena dulu aku amat suka melihat bintang di langit.


Aku mencoba mengendalikan diriku, tapi dadaku terlalu sesak dan aku pun keluar dari kamar itu dengan nafas memburu dan keringat dingin keluar dari dahiku.


"Jane, kau kenapa?" tanya Kak Brian yang langsung mendekatiku.


"Aku akan tidur bersamamu saja kak!" kataku sembarangan, bagaimana aku bisa tidur dengan Kak Brian.


"Kamar itu banyak debunya, apa sudah lama tak dibersihkan?" alasanku, memang kamar itu berbau pengap seperti tak pernah dialiri sirkulasi udara dalam jangka waktu yang cukup lama.


"Kurasa pembantuku tak membersihkannya!" kata Kak Brian.


Kak Brian menuntunku ke kamarnya yang luas dan bergaya minimalis tapi dengan parabot kayu yang biasa tak ada ukiran-ukirannya.


Dia menidurkanku di sisi kanan tempat tidur dan dia tidur di sisi kiriku.


"Apa kau masih trauma jika di sentuh lelaki?" tanyanya.


"Trauma bagaimana?" tanyaku, aku tak pernah cerita apa pun pada Kak Brian tentang apa yang pernah kualami.

__ADS_1


"Biasanya kau akan menjaga jarak dariku!" jelasnya.


Aku memiringkan tubuhku dan menatap wajah Kak Brian yang tidur terlentang lekat-lekat.


"Mwsa aku begitu?" tanyaku, sebenarnya aku sadar aku terlalu berlebihan tapi aku tak bisa mengendalikan diriku jika sudah disentuh lawan jenis.


Kak Brian berbaring miring juga ke arahku, dan aku secara refleks memundurkan tubuhku darinya.


"Itu! Kau baru saja mengatakan tidak menyukaiku, dengan memundurkan tubuhmu!" katanya.


Aku memandangi wajah Kak Brian yang membelakangi lampu di meja sebelah ranjang.


Wajah ini.....


Ingatanku tiba-tiba kembali ke kejadian 14 tahun lalu. Bentuk wajah itu samar-samar yang kulihat sebelum aku pingsan, karena dipukul penyerangku di bagian kepalaku di ruang tamu rumahku dulu.


Aku terperanjat, karena aku mengingat sesuatu yang sepertinya sudah hilang dari kepalaku.


"Siapa yang bertamu subuh-subuh begini !" kata Kak Brian, dia langsung bangun dari kasur dan keluar dari kamar.


Sementara aku masih bengong dan mencoba mengumpulkan ke sadaranku kembali.


Apa Kak Brian pelakunya?!


Jika bukan kenapa aku bereaksi seperti itu.


Apa menang hanya kebetulan?


Bayangannya, kenapa aku jadi mengingat hal yang terjadi di malam itu...


Sayup-sayup aku mendengar suara dua orang pria mengobrol, karena pintu kamar tak di tutup dengan rapat. Aku turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Kak Brian.


Di ruang tv, ruangan yang tepat di depan kamar Kak Brian. Zidane dengan pakaian santai serba hitam, duduk di sofa putih di depan tv, dia memandangku sejenak yang baru keluar dari kamar Kak Brian.


Aku menunduk hormat pada Zidane, karena dia masih atasanku sekarang. Aku berjalan di depannya melewatinya untuk ke dapur menghampiri Kak Brian yang sedang memyiapkan minuman untuk Zidane.


Kenapa dia kesini?


Apa dia pikir aku akan menghianatinya?


Jangan samapai dia berfikir aku menghianatinya...

__ADS_1


Aku merebut dua gelas di tangan Kak Brian. "Biar aku saja, Kak!" kataku sambil tersenyum manis kearahnya.


__ADS_2