
Setelah aku berbicara pada Zidane aku kembali ke rumah yang kutempati, ternyata koper dan tas tanganku sudah ada di depan pintu kamarku. Sementara Boby tidur di sofa dengan menyalakan televisi yang sedang menayangkan acara pencarian bakat menyanyi dangdut yang banyak dramanya.
Aku mematikan televisi, karena aku tidak begitu menyukai acara semacam itu, lalu membangunkan Boby.
"Pindah ke kamar sana!" kataku, sambil menguncang tubuh Boby.
Lagi-lagi dia hampir memelintirku, reaksinya heboh sekali.
"Sakit tau!" kataku, sambil memijat-mijat pergelangan tanganku yang dipelintir Boby.
"Maaf!" katanya, Boby pun duduk dan aku duduk di sampingnya.
"Kelihatanya kau banyak musuh!" kataku.
"Kau juga!" katanya.
Aku hanya tertawa nanar mendengar jawaban Boby dan memandangnya tak percaya, bagaimana aku bisa menyangka dia akan menjawabku dengan kata-kata tepat itu.
Dia yang biasanya lemah lembut dan jaga perkataannya di depanku sekarang sudah mulai kurang ajar. Mungkin inilah yang dinamakan menjadi teman, awal-awal memanggil dengan ucapan sopan, lama-lama memanggil dengan nama-nama hewan.
"Bob kamu sudah pasang semua yang kusuruh kan?" tanyaku.
Sebelum aku berangat menjalankan misi di Vano Campeny, aku memberi code pintu masuk rumah Kak Brian kepada Boby. Lalu aku menyuruh Boby memasang kamera tersembunyi di rumah Kak Brian, komplit beserta penyadap suara.
Aku menyerahkan tugas memata-matai rumah Kak Brian kepada Meri yang selalu ada di Ruang Monitoring. Menyadap ponsel dan data lokasi mobil yang digunakan Kak Brian, aku tidak ingin kehilangan orang ini untuk kedua kalinya.
"Sudah semua, aku sudah melakukan semua perintah yang kau berikan kepadaku, Nona Jane Monika!" jawab Boby, dia masuk ke kamarnya dan memberikan sebuah labtop padaku.
"Memang ada yang aneh?" tanyaku.
"Sementara ini belum!" kata Boby.
Kenapa aku merasa ada yang janggal, Meri juga bilang tak ada yang aneh di ponsel dan gps mobil Kak Brian. Pria brengsek itu pasti sudah membuat rencana, jika dilihat dari peranginya dia nggak akan sediam ini. Apa yang dilakukan oleh Zidane melebihi lambang batas kesabarannya.
Karena terlalu kepikiran aku menghubungi Meri melalui pesawat telepon.
"Mer, tolong kirimkan Leo ke rumah Pak Zidane!" kataku.
"Ok!" katanya, tanpa meminta banyak penjelasan.
Inilah hal yang paling kusukai dari sosok Meri, dia tidak pernah bertanya secara detail tentang apa yang kau perintahkan kepadanya.
__ADS_1
Satu jam kemudian Leo datang dengan taksi, aku menyuruhnya masuk ke dalam rumahku.
"Apa kau bisa melacak seluruh anggota keluarga Arkana dari sini tidak?" tanyaku, Leo segera mengambil labtob dari dalam tasnya dan membukanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Leo.
"Aku merasa ada yang tidak beres!" kataku.
Leo sedang sibuk melacak keberadaan para anggota keluarga Arkana di leptopnya.
"Pak Sadewo, tak dapat kulacak!" kata Leo.
"Apa?"
Aku segera menghubungi Nyonya Anggun istri Pak Jendral, aku harus memastikan apakah Pak Sadewo ada di kediamannya atau tidak.
"Hallo!" jawab Nyonya Anggun, suaranya sedikit parau, sepertinya dia sedang flu berat.
"Nyonya apa Pak Sadewo pergi ke luar kota?" tanyaku langsung.
Meski dia adalah istri atasanku, tetapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbahasa bagi menawarkan kesopanan kepadanya.
Pasti ada sesuatu yang terjadi di kediaman Jenderal Arkana, tetapi hal itu bukanlah sebuah prioritas lagi bagiku. Aku harus melacak di mana keberadaan Kak Brian, bukan Pak Jendral.
Pak Jendral hanyalah sebuah boneka yang dinyawai oleh Kak Brian.
"Trimakasih Nyonya, maaf mengganggu istirahat anda!" kataku, aku pun menutup panggilanku tanpa persetujuan dari Nyonya Anggun.
Mungkin memang berat menjadi Nyonya besar di keluarga Arkana, kemewahan hanya salah satu kenikmatan. Nyonya besar harus menahan rasa sakit yang panjang karena Pak Jendral yang sering main perempuan dan meremehkan Nyonya Anggun yang semakin menua.
"Leo coba lacak kartu kridit Pak Sadewo!" perintahku.
"Pak Sadewo baru saja bertransaksi di pom bengsin di pinggir kota menuju puncak!" kata Leo.
"Mungkin Pak Sadewo pergi ke vila, ini kan akhir pekan!" kataku lega.
"Pak Sadewo tak membawa pengawal sama sekali, beliau bahkan menyetir mobilnya sendiri!" kata Leo.
"Apa kau bisa melacak ke beradaan Pak Brian?" tanyaku.
Leo tak menjawab permintaanku, tetapi dia langsung sibuk dengan labtopnya.
__ADS_1
"Mobil Pak Brian berada di kompleks Vila Arkana puncak!" kata Leo.
"Apa aku harus memanggil pak Zidane?" tanya Boby.
"Kirim saja beberapa pengawal ke sana secara diam-diam secepat mungkin, usahakan jangan ada yang mencurigai pergerakan kita!" kataku.
Apa yang akan Kak Brian lakukan, Kenapa tidak ada yang bisa kutemukan di Ruang Monitoring
Apa ada tikus di Ruang Monitoring. Apa dia Meri?
Tetapi Meri tidak akan pernah mengkhianatiku.
LIMA HARI KEMUDIAN
"Leo kemarilah!" kata Zidane.
Kami berada di sebuah arena olahraga pribadi yang terletak di lingkup kediaman Jendral Arkana. Zidane sudah berada di dekat ring tinju, aku baru menyadari sesuatu yang tak sesuai dengan prediksiku sedang terjadi.
Aku yang merasa janggal pada Leo melihat ekspresinya dalam-dalam, lelaki muda berusia 23 tahun itu apa dia pelakunya. Apakah Leo adalah kaki tangan Brian dalam membunuh Pak Sadewo.
Aku bisa melihat tubuh kurus Leo sedikit bergetar saat Zidane melihatnya dari atas arena tinju. Wajahnya yang kecil tetapi manis itu tampak sangat gelisah saat Zidane memberi kode untuk cepat naik.
Aku tak menyangka jika Brian akan melakukan hal yang sejauh ini.
Zidane pasti ingin membuat pertunjukan yang mengerikan, aku tak bisa membiarkan tirani itu membahayakan dirinya. Di tempat ini ada banyak mata yang melihat, apa lagi Brian dan Pak Jendral juga menyaksikan.
Kedua orang licik itu bisa saja memanfaatkan momen penyiksaan Leo, menjadi sebuah manfaat bagi mereka. Aku tak bisa membiarkan semua itu terjadi, aku harus melakukan sesuatu.
Aku maju duluan sebelum Leo dan langsung naik ke atas arena tinju, aku merebut kain untuk melapisi tangan ketika akan bertinju dari genggaman Zidane.
"Kemarilah Leo!" kataku. "Kau bisa bertarung kan?!" tanyaku.
Zidane tampaknya tau dengan apa yang sedang kulakukan, dia sama sekali tak keberatan karena aku merebut tali pelapis tinjunya. Ia pun segera turun dari arena tinju itu dan berjalan melewati Leo serta menepuk pundak Leo dan tersenyum ke udara.
Senyum yang indah untuk sebuah Kemenangan yang menyakitkan bagi seorang putra.
Leo pun naik ke atas arena, karena dia juga tak punya pilihan lain selain berduel denganku. Di tempat ini ada beberapa anggota keluarga Arkana dan juga Brian, aku ingin menunjukkan bahwa kubu kami bukanlah lawan mereka.
Leo berdiri di depanku, dia menatapku serius. Wajahnya mengambarkan kebencian entah pada siapa tapi tak mungkin padaku.
"Serang aku!" kataku.
__ADS_1