
Aku membuka pintu kamar hotel dengan kartu yang ditingalkan Brian di lobi. Aku segera masuk duluan bersama tim sapu bersih Tim Alpha.
Mayat wanita itu tergeletak tanpa busana selembar pun di bawah dinding kaca yang menghadap ke luar. Kondisinya amat mengenaskan, melihat bagaimana kondisi mayat wanita ini membuatku merinding. Karena siapa pun yang membunuhmu, dia menyiksanya seperti menyiksaku 14 tahun lalu.
Aku mengenakan sarung tangan lateks dan membalikkan mayat yang telungkup itu. Lalu aku mengambil kamera dan memotretnya setiap bagian tubuh wanita yang wajahnya sudah rusak itu.
Aku mengambil tisu karena ada cairan seperma keluar dari **** ********** wanita itu bercampur dengan darah. Kumasukkan tisu itu ke dalam sebuah plastik transparan.
Aku melakukan semua itu karena aku yakin orang yang membunuh wanita ini bukanlah Pak Jenderal, tapi Kak Brian.
Dia menyetubuhi wanita ini saat wanita ini sudah tak berdaya, persis sama seperti yang Brian lakukan padaku 14 tahun lalu.
Aku beranjak ke barang-barang pribadi wanita itu yang masih tergeletak di atas meja ruang tamu. Aku membukanya, kulihat kartu tanda penduduk wanita ini.
Ternyata wanita ini adalah wanita yang kulihat beberapa hari lalu makan siang di hotel. Dia bersama Brian waktu itu, sedangkan aku bersama Zidane.
Aku semakin yakin, dengan semua bukti ini. Pembunuhan ini ulah Kak Brian bukan Pak Jendral.
Aku menuju ke tempat tidur yang masih rapi untuk ukuran dibuat bersengama dia manusia. Aku menyusuri setiap senti ruangan itu, aku harus mendapatkan bukti kuat kalau itu ulah Kak Brian. Agar aku bisa lapor ke Zidane dan memanas-manasi hatinya agar cepat menghabisi Kak Brian.
Tapi Nihil aku tak mendapatkan apa pun lagi. Aku mengambil ponsel wanita yang sudah mati itu lalu aku langsung memeriksa seluruh riwayat panggilan dan seluruh data di ponsel itu.
Tapi sepertinya Brian sudah meretas ponsel wanita ini lebih dulu, karena tak mungkin mereka tak ada kontak tapi bisa bertemu. Benar, aku tak dapat menemukan apa pun dari ponsel wanita ini juga.
Aku mengetik nama wanita ini di data base kepolisian yang bisa diakses oleh ruang Monitoring. Ternyata wanita ini bernama Prianka Molien dia berusia 24 tahun terdaftar di sebuah agensi model di indonesia.
Aku tak mungkin menjebak Brian dengan hal remeh seperti ini, lelaki licik itu pasti bisa menghindari kasus ini dengan mudah.
Aku harus menutupi ini dari publik tapi tak usah kututupi dari Zidane, menurutku Zidane harus tau tentang kecurigaanku.
Jika pembunuhan ini terungkap ke publik, pasti akan membuat nama Hotel Arkana jadi turun dan mungkin saham Arkana Grup bisa turun lagi. Zidane pasti takkan menyukai hal itu.
__ADS_1
Meski aku tau Zidane tak akan menghukum Brian karena khasus ini, paling tidak nama Brian jadi turun di mata Zidane.
Akhirnya aku memanipulasi supaya mayat ini ditemukan di tempat yang sepi dan jarang dikunjungi orang, dan membuat Prianka Molien seolah dirampok dan dianiyaya beberapa lelaki dewasa yang cukup kuat.
Setelah selesai aku kembali ke ruang Monitoring dan melihat apa yang didapat Meri tentang perusahaan cangkang yang dibangun oleh Brian. Meri memberiku dua amplop coklat besar dan sebuah flashdisk.
"Trimakasih Meri--ku sayang!" kataku, aku mencium pipinya sebelum pergi dari sana.
Sebagai tanda terima kasih aku hanya bisa melakukan hal itu.
Aku pulang sekitar jam tujuh sore dan belum melihat mobil yang digunakan oleh Zidane berangkat ke kantor pagi tadi, tapi aku yakin Boby ada di rumah karena mobilnya ada di garasi.
Zidane dan Boby berangkat ke kantor dengan dua mobil yang berbeda pagi tadi.
Aku masuk ke dalam rumah yang kutempati dan melihat Boby sedang tertidur di sofa panjang ruang tamu.
Aku melihat dia mengigil karena udara ac, aku pun segera mengambil selimut di kamar Boby yang tak di kunci. Ukuran kamarku dan kamarnya hampir sama, tata letak barang-barang saja yang berbeda, tapi perhatianku tertuju pada sebuah lemari besi di samping lemari kayu.
Karena penasaran aku membuka salah satu lemari yang tampak seperti lemari es yang besar tapi tidak bisa. Lemari itu seperti sebuah brankas yang harus pakai sidik jari untuk membukanya.
Aku pun keluar sambil membawa selimut dan menyelimuti tubuh Boby.
"Mama! Mama di mana!" gumam Boby, aku melihat ekspresi ketakutan di wajah Boby yang tampak nyata.
Aku menyentuh kening Boby dan dia malah terbangun mungkin dia kaget karena apa yang kulakan padanya. Aku kaget dengan reaksi Boby yang cengkram pergelangan tanganku.
"Kau sudah pulang?" tanya Boby, ia melepaskan cengkraman tanganku setelah melihat wajahku.
Dia duduk dan mengelap keringat dingin di dahinya, sepertinya orang ini memiliki beban yaang cukup berat di hidupnya.
"Sudah!" jawabku, sedikit terkejut dengan reaksiku.
__ADS_1
Aku segera mengambil dua amplop dari tas tanganku yang tadi kugeletakkan di meja, karena harus memgambil selimut ke kamar BoBy.
"Pak Zidane belum pulang, kemana dia?" tanyaku.
"Pak Zidane menyuruhku kembali terlebih dahulu. Aku tidak tahu kemana dia pergi, dia membawa mobilnya sendiri!" kata Boby.
"Kenapa kau tak membuntutinya?" bentakku.
Tiba-tiba aku merasa khawatir pada atasanku itu.
"Kenapa aku harus mebuntuti Pak Zidane, siapa tau Pak Zidane mau menemui kekasihnya!
"Kan nggak enak kalau aku mengekorinya terus!" jelas Boby.
Iya juga, kenapa aku jadi over protektif gini sama Pak Zidane.
Aku masuk ke kamar dan bersiap untuk mandi, setelah selesai mandi Pak Zidane menelponku.
"Jane naiklah ke kamarku!" katanya dan langsung menutup pangilannya.
Aku sama sekali sudah tidak kaget lagi sama kelakuan dingin seorang Zidane Arkana. Orang ini memang suka seenaknya sendiri, mungkin karena setatus ekonomi yang ia sandang. Bersikap sombong tak menghargai orang lain, adalah sebuah hal biasa bagi umat manusia.
Aku segera memenuhi perintahnya untuk secepatnya menemuinya di kamarnya. Hanya dengan pakaian santai kaus ublong dan celana kolor pendek, serta kucepol rambut setengah basahku.
Aku sudah tau, penampilanku bukanlah sebuah masalah yang diperhatikan oleh Zidane. Tampil berantakan di depannya bukanlah sebuah masalah besar, untuku ataupun untuknya.
Yang terpenting bagiku adalah orang ini pasti akan membantuku, untuk menghapus Brian dari muka bumi ini. Sementara Zidane Arkana menilai keberadaanku hanya karena aku selalu membantunya untuk membebaskan Arkana dari pengaruh Brian.
Bisa dibilang tujuan kamu sama, jadi tidak ada salahnya jika kamu bekerja sama meskipun dengan cara saling memanfaatkan.
Selama yang kita lakukan saling menguntungkan satu sama lain, tidak akan ada yang namanya penghianatan antara kami berdua.
__ADS_1
.
.