Mafia Hunter

Mafia Hunter
Pacar Lukas


__ADS_3

Aku berjalan mengikuti Lukas, lelaki dengan tubuh menawan dambaan setiap wanita itu secara perlahan.


Lukas menunjuk lorong pintu masuk kamar yang hanya berukuran lebar satu setengah meter.


"Saat aku sampai di sini, dia langsung membukakan pintu untukku, lalu tanpa ku perintah, ia menciumku dengan buas sekali!" ada senyum bahagia di wajah Lukas. "Mungkin dia tau, kalau aku sudah mengetahui perselingkuhannya! Jadi dia ingin menenangkan aku!" kini wajah bahagia itu berubah menjadi sangat menyedihkan.


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ekspresi labil Lukas. Lelaki gagah berwajah Western ini usianya hanya bertaut satu tahun denganku. Tapi lagaknya masih seperti balita berusia  tiga tahun.


"Kau masih bercinta dengannya, padahal kau sudah tau dia berselingkuh darimu?!" tanyaku dengan nada mengejek.


"Kau tak pernah merasakan sebuah hal yang dinamakan 'kenikmatan bercinta'!Jadi kau pasti menganggapku aneh karena masih mau bercinta padahal sudah diselingkuhi!" Lukas tak Terima dengan ejekan--ku padanya.


Aku tak bisa berkata apa-apa jika seseorang sudah mengatakan tentang kenikmatan bercinta. Karena aku belum pernah merasakan hal itu, bukan belum tapi tak bisa.


"Lalu, setelah kalian bercinta di ruang tamu!" aku menuntut penjelasan lebih dalam dari Lukas.


"Kami melakukan sekitar tujuh posisi, jadi kami sangat kelelahan!" kata Lukas. "Dua jam lebih kami bercinta!" kata Lukas dengan ekspresi bahagia lagi.


"Setelah itu kami tidur di ranjang!" lanjut Lukas. "Pas aku bangun dia sudah tak di sampingku, jadi aku mencarinya!


"Ternyata dia menerima panggilan telepon di ruang tengah!".


"Kalian bertengkar lagi di sini?" tanyaku.


"Iya!" Lukas tersenyum seperti balita yang ketahuan mencuri permen.


Aku berjalan ke dapur, mencari jejak Lukas. Tak mungkin ruangan tengah yang begitu luas itu berlumuran darah manusia, jika tak ada penusukan tubuh korban dengan senjata tajam.


Tetapi aku tak menemukan jejak apa pun di dapur.


"Kau menusuknya--kan?!" tanyaku pada Lukas.


"Iya!"


"Kau dapat dari mana  senjatamu?"


Tak mungkin Lukas mendapatkan senjatanya dari dapur, jika iya pasti korban akan mengejar Lukas yang berusaha mengambil senjata yang diambil Lukas.


Manusia normal pasti akan bertahan untuk hidup jika dalam bahaya, meski mereka tau mereka pantas mati.


"Aku membawanya dari luar, aku menyimpannya di tasku!" ucap Lukas tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Jadi Lukas berencana membunuh pacarnya.


"Kau bercinta dengannya untuk perpisahan!" ujarku.


"Aku memang berencana ingin membunuhnya, tapi setelah bercinta dengannya aku memikirkan lagi.


"Namun emosiku langsung tersulut saat dia menelfon seseorang dengan mesra!" Lukas tampak sangat merana ketika mengatakan itu.


"Itu tetap dihitung sebagai khusus pembunuh berencana!" kelakarku.


Hampir setiap parabotan di ruang tengah terkena noda darah. Meja, kursi, TV bahkan dinding dan tirai.


Aku bisa melihat dari sekema noda darah korban Lukas, orang ini tak berusaha melawan namun hanya menghindar.


"Dimana mayatnya?" tanyaku.


Lukas hanya menunjuk ke arah kamar mandi. Aku juga bisa melihat noda darah dilantai yang memanjang. Lukas menyeret korbannya yang sudah mati ke dalam kamar mandi.


"Apa yang ingin coba kau lakukan? Kenapa kau menyeret mayat ke dalam kamar mandi?!" tanyaku pada Lukas.


"Dia terlihat kotor sekali, jadi aku memandikannya! Aku tak suka melihatnya kotor!" ucap Lukas santai sekali.


Sifat Lukas dan Pak Jendral itu sama, mereka suka menyakiti pasangan bercintanya. Tetapi Lukas tak sesering Pak Jendral,


Entah itu hanya tamparan atau jambakan, pasti para wanita itu mendapatkan penyiksaan dari Pak Jendral.


Sementara Lukas dia orang yang setia, namun pasangan yang ia pilih selalu tak setia. Sebab Lukas jarang mendapatkan orang yang satu selera dengannya, yaitu selera pria yang menyukai pria juga.


Jika merasa sakit hati atau akan ditinggalkan oleh pasangannya, Lukas akan emosi dan akan melakukan kekerasan pada pasangannya.


"Lalu dimana senjatanya?" tanyaku.


"Itu!" Lukas menunjuk sebilah pisau yang sudah di cuci bersih di atas wastafel kamar mandi.


Kamar mandi yang sama, dengan terendamnya jasat korban pembunuhan Lukas di bathup.


Tubuh itu sangat ringkih, rambutnya hitam pendek. Wajahnya seperti peri yang tak punya dosa. Benar-benar tipe pria yang akan dikejar Lukas sampai ke liang kubur.


Hanya satu keuntungan jika Lukas membunuh orang di Hotel Arkana. CCTV TKP bisa dengan cepat di urus oleh Tim Monitoring, serta evakuasi korban bisa dengan mudah dijalankan oleh Tim Keamanan.


Benar saja tak lama Tim Keamanan sudah sampai di kamar Lukas. Mereka sudah siap dengan pakaian ala petugas forensik dari kepolisian agar mereka tak mencemari TKP.

__ADS_1


"Bereskan semua!" kataku pada petugas yang dikirim Alan ke sini.


"Baik, Nona!"


Aku keliling kamar mencari barang pribadi milik korban Lukas, setelah mengumpulkan semua aku segera membawa Lukas yang hanya dibalut kimono mandi pergi ke kamar lain, untung saja jaraknya tak jauh dari kamar sebelumnya.


Aku memeriksa seluruh isi tas korban Lukas, aku menemukan KTP dan langsung ku foto dengan ponselku, ku kirim pada Meri untuk di identifikasi.


Pemuda itu bernama Daniel Santosa, ternyata adalah seorang mahasiswa ekonomi yang berkuliah di Jakarta Selatan, tetapi berdomisili di provinsi lain.


Pertemuan Lukas dan Daniel


Setahun lalu Lukas datang ke acara ulang tahun temannya, di sini-- lah Lukas bertemu Daniel untuk pertama kalinya.


Lukas jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Daniel. Lukas suka pria tampan yang terlihat lemah dan patuh.


Daniel adalah mahasiswa di Fakultas terkenal, dia juga pintar, namun dia terlahir di keluarga yang miskin dan banyak anak.


Daniel adalah makanan empuk bagi Lukas, dengan iming-iming uang dan pendidikan yang layak akhirnya Daniel mau menjadi pacar Lukas.


Dengan tinggi 170 cm, berat 55 kg serta usianya yang masih 23 tahun, pacar yang amat idela untuk Lukas.


Siapa yang bisa menolak kharisma dan harta yang Lukas punya. Bahkan pria normal akan mudah tergiur oleh rayuan-rayuan maut Lukas.


Hanya dengan sering datang ke kampusnya, berdalih ingin bertemu dengan temannya. Lukas jadi sering jumpa dengan Daniel.


Lukas juga tak sungkan mengajak Daniel makan bersama di restoran-restoran mewah dan memberikan lelaki lemah itu perhatian lebih.


Sampai pada suatu hari Daniel bercerita tentang latar belakangnya pada Lukas. Daniel juga bercerita jika keluarganya sudah tak mampu membayari uang kuliahnya.


Bagaikan turun hujan di musim kemarau panjang, Lukas langsung menawarkan jasanya sebagai sultan yang banyak duit.


Pendekatan yang halus, wajah yang tampan, setatus bagaikan raja dan hati yang baik. Daniel akhirnya terperangkap cinta Lukas.


Meski Daniel awalnya adalah pria normal, namun dia bisa melayani Lukas asal semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Lukas.


Uang memang bisa membeli tubuh manusia, tapi tidak dengan hatinya.


Lalu satu bulan terakhir Daniel mengenal sosok perempuan yang membuatnya sadar, jika dirinya adalah pria normal yang menyukai lawan jenis.


Pria normal yang patut mendapatkan mendali, karena bisa bertahan dengan Lukas setahun lamanya.

__ADS_1


Selain Lukas punya jiwa kepemilikan yang tinggi, Lukas juga cukup kasar ketika bermain cinta dengan pria di atas ranjang.


__ADS_2