Mafia Hunter

Mafia Hunter
Curiga


__ADS_3

..............


POV JANE


............


"Apa kau tau apa yang dilakukan Brian di Eropa?" tanya Zidane kepadaku.


Aku sudah dipanggil lagi oleh Zidane, untuk menemuinya di kantornya.


"Saya tidak tau pasti, Pak! Saya hanya tahu, jika Kak Brian ke Eropa karena tugas rahasia yang diberikan oleh mendiang kakek anda!" jelasku.


"Aku dan Brian mempunyai usia yang sama, kami tumbuh bersama di bawah didikan kakekku.


"Dulu kami bahkan lebih dekat dari sekedar saudara! Tapi dia selalu menyembunyikan sesuatu dariku," ucap Zidane. "Termasuk keberadaan--mu!" lanjut Zidane.


Pandangan mata Zidane mengarah padaku, saat dia mengatakan kalimat terakhirnya.


"Keberadaan saya?" tanyaku dengan penuh keheranan.


Apa yang disembunyikan Kak Brian, tentangku, kepada Zidane. Harusnya tak ada hal yang pantas untuk disembunyikan tentangku, kepada calon majikan baruku.


"Lupakan perkataanku tadi!" perintah Zidane dengan nada kecewa yang amat mendalam.


"Aku sangat berharap padamu tentang khasus senjata ilegal ini!" ucap Zidane tanpa memberiku waktu untuk mencerna kalimat terakhirnya tadi.


"Iya, Pak! Saya mengerti!" ucapku dengan tegas.


Aku sangat terkejut dengan curahan hati Zidane kepadaku. Meski aku tau tirani itu curhat tanpa sengaja.


Sebuah fakta yang mencengangkan, Zidane tumbuh bersama dengan Kak Brian. Kupikir hal itu cuma bualan orang-orang di Arkana Grup.


Karena dilihat dari mana pun, Zidane dan Kak Brian bukan manusia yang mempunyai kesamaan meski sedikit.


Hanya saja mereka sama-sama pintar, itu saja.


Dari sifat, penampilan sampai bagaimana mereka bertindak, semua berbeda.


Jadi jika masa kecil mereka dididik oleh orang yang sama, bisa saja salah satunya tak menyerap didikan kakek Zidane dengan benar.


Malam ini aku tak langsung pulang ke kediaman Zidane, setelah sepulang kerja aku meminta izin pada Zidane untuk pergi ke Ruang Monitoring terlebih dahulu.


Karena ada beberapa dokumen yang menyangkut khasus penyelundupan senjata ilegal, yang harus kuambil di Ruang Monitoring.


Pak Sadewo dan Zidane sudah sepakat, tentang aku yang akan menyelesaikan khasus itu. Jadi mau-tak mau aku harus bersiap diri untuk menyelesaikan kasus itu.


Tiba-tiba ponselku berdering, nama Kak Brian muncul di layar depan dengan sangat jelas.


Aku langsung meraih ponselku dan ku angkat panggilan dari Kak Brian.

__ADS_1


"Hallo, Jane!" Kak Brian langsung menyapaku sebelum aku sempat menyapa


"Iya, aku Jane!" ucapku.


Suara Kak Brian Terdengar berat, dia pasti amat kelelahan. Kak Brian adalah seseorang yang tak bisa diam, dia pasti banyak bergerak juga di Eropa.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.


"Yaaaaa... Masih bernafas!" kataku.


"Kau ini!!!" Kak Brian tak suka aku berbicara begitu santai. "Jangan seperti itu!".


"Iyaaaaa... Aku baik!" ralatku.


"Apa kau masih berkerja?" tanya Kak Brian.


Aku memandangi sekitarku, entah kenapa aku bingung harus menjawab apa.


"Masih!" ucapku ragu. "Aku sedang di Ruang Monitoring!" lanjut ku.


"Zidane pasti menyulitkanmu! Kuharap kau bisa bertahan!".


"Tidak kok!" jawabku jujur, bukan Zidane yang menyulitkanku selama Kak Brian tak ada, tetapi para Anggota Keluarga Arkana lainnya.


Aku ingat dengan curhatan Zidane tadi siang tentang Kak Brian, jadi aku ingin sedikit mengorek informasi pribadi Kak Brian.


"Mungkin seminggu lagi!" jawab Kak Brian tanpa ragu. Itu artinya, pekerjaaan Kak Brian sudah hampir selesai.


"Apa kau sudah rindu padaku?" tanya Kak Brian dengan nada meledek.


"Di sini tanpamu terasa sangat berat!" ujarku. "Semua beban Keluarga Arkana berada di atas kepalaku, aku tak sanggup kak!" keluhku.


"Aku akan cepat pulang, jadi bertahanlah sebentar lagi yaaa!" seperti biasa Kak Brian selalu ramah dan lembut ketika menanggapi keluh kesahku.


"Janji yaaaa!" pintaku.


"Janji! Aku akan cepat pulang!" katanya tanpa ragu. "Cepat selesaikan pekerjaanmu lalu pulang! Jangan begadang di kantor terus!".


"Baiklah!"


"Sampai rumah langsung tidur yaaa!"


"Iya cerewet!"


Kami tertawa bersama, lalu aku Kak Brian mematikan panggilan ponselnya padaku karena seseorang mengajaknya bicara dengan bahasa asing.


Saat ini Kak Brian berada di Eropa sangat sulit menemukan orang yang memakai bahasa Indonesia di benua itu. Hal yang wajar jika seseorang mengajak Kak Brian dengan bahasa asing yang tidak kuketahui artinya.


"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Meri padaku, namun aku tersentak karena lamuanku masih berfokus kepada Kak Brian.

__ADS_1


"Akhhhh kau membuatku kaget saja!" d€sahku sambil ku elus dadaku dengan tanganku sendiri.


"Ini data penyelundupan senjata ilegal yang dilakukan oleh Pak Jendral?!" Meri sudah bisa menebak jawaban pertanyaannya sendiri, saat melihat layar komputer yang berada di depanku.


Sebab saat ini aku sedang meneliti dokumen dimiliki oleh Tim Alpha, tentang penyelundupan senjata ilegal yang dilakukan oleh Pak Jendral.


"Kenapa kau membaca Dokumen itu?" tanya Meri padaku.


"Pak Zidane bilang, ada seseorang yang menggunakan nama Arkana untuk menyelundupkan senjata selain Pak Jendral.


"Jadi dia ingin aku menyelidikinya!" jelasku kepada Meri.


"Kurasa bosmu yang baru itu mempunyai intuisi yang sangat jeli!" ucap Meri.


Wanita tomboy itu berekspresi seolah memang ada sesuatu yang janggal,  di dalam sindikat penyelundupan senjata yang dilakukan oleh Pak jendral.


"Sebaiknya kau mempersiapkan diriit! Karena aku yakin kau pasti akan mengalami kesulitan saat menyelidiki kasus itu!" kata Meri.


"Apa kau tau sesuatu?" tanyaku pada Meri.


"Sebaiknya kok tolak saja, jangan membahayakan dirimu!" kata Meri.


Sepertinya Meri tahu apa yang ada di dalam pikiran Zidane, sebenarnya siapa yang diincar Zidane kali ini.


"Jika kau memang peduli padaku, harusnya kau pembantuku!" aku berusaha membujuk Meri untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia ketahui, tapi tidak ku ketahui.


"Jika kau menerima tugas dari Pak Zidane itu! Ibaratnya kau sudah berdiri di ujung pisau bermata dua!" Meri masih saja bertele-tele dan aku sudah tidak sabar untuk merayunya agar dia berbicara yang sesungguhnya.


"Aku sudah gak peduli lagi!" aku sudah putus asa, karena ini adalah satu-satunya jalan yang harus kutempuh agar Zidane mau mempercayaiku seratus persen.


"Jane!...," Meri masih mencoba untuk menghentikan niatku.


"Cepat kirimkan semua data mengenai penyelundupan senjata ilegal, yang dilakukan oleh Pak Jendralal ke laptopku!" nada bicaraku sudah berubah menjadi perintah.


"Kau bisa dalam bahaya Jane!"


"Tolong bantu aku kali ini saja! Meri!" pintaku dengan nada yang lebih lembut.


Aku tahu Meri tidak akan pernah menolak perintahku atau permintaanku, karena dia menganggapku bukan hanya sekedar penyelamat hidupnya. Namun hacker hebat itu sudah menganggapku seperti saudaranya sendiri.


Meskipun begitu aku tidak semena-mena memberi perintah kepada Meri, hanya kali ini saja aku meminta permintaan yang mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup Meri.


Bagaimanapun caranya,  aku harus berhasil menyelesaikan tugas dari Zidane dengan baik. Karena hanya dengan cara ini,  aku bisa membalaskan dendamku yang sangat dalam ini kepada orang itu.


"Apa kau bisa menyingkirkan Pak Brian?" tanya Meri tiba-tiba.


Aku langsung memandang wajah Meri dengan kebingungan.


"Jika kau bisa menyingkirkannya, aku akan mengcopy semua data yang kau inginkan!" lanjut Meri.

__ADS_1


__ADS_2