Mafia Hunter

Mafia Hunter
Nasi Goreng


__ADS_3

Dia hanya menghela nafas dan memandaangku denganpenuh arti, aku bisa melihat orang ini ingin mengatakan banyak hal tapi dia tetap diam.


Aku mengantar Zidane kembali ke rumah, sebab Boby sudah pulang duluan. Di perjalanan aku dan Zidane hanya diam seribu bahasa, padahal beberapa hari lalu kami sudah amat akrab.


Aku tak tau harus bicara apa, apa lagi baru saja Zidane harus dipenjara karena kasus yang menyangkut diriku. Aku merasa sangat bersalah karena aku sangat tahu,  jika keberadaan Zidane 14 tahun yang lalu di dalam rumahku adalah untuk menolong nyawaku.


Namun betapa terkejutnya kami bahwa banyak pengawal yang tergeletak di tanah, saat aku dan Zidane sampai di kediaman Zidane.


Aku pun segera berlari ke dalam rumah Zidane yang acak-acakan, diikuti oleh Zidane.


"Apa yang terjadi?" tanyaku entah pada apa, karena semua pengawal Zidane tumbang tak tersisa.


Aku langsung ke atas, mengikuti Zidane yang berlari duluan. Di sana aku dan Zidane melihat Boby pingsan di atas lantai, dengan banyak luka pukulan di sekujur tubuhnya. Aku segera menghampirinya dan membangunkannya.


"Bob...! Boby...bangun Bob...!" kataku.


Zidane berjalan pelan menuju kamarnya yang pintunya sudah terbuka lebar. Aku bisa melihat keadaan di dalam kamar Zidane dari tempatku bersimpuh.


Lelaki tangguh itu memperhatika ruangan kamarnya, tanpa mengeluarkan emosi di wajahnya.


Bisa-bisanya dia tetap tenang saat rumahnya dikacaukan oleh segerombolan orang gila.


Kenapa dia bisa setenang itu?


Tak lama datang para medis dan membawa semua pengawal ke rumah sakit, Zidane yang menenghubugi mereka.


"Mari kita ke hotel saja, Pak!" kataku.


"Hotel?" tanyanya sedikit kaget.


"Semua berantakan, bapak mau tidur di mana?! Bahkan kasur bapak aja di bacok-bacok begitu!" jelasku.


"Kita tidur di kamarmu saja!" katanya,


Sekarang aku yang kaget, karena sebelum aku mengatakan penolakan Zidane berjalan ke rumah yang kutempati.


"Pak tempat ini masih tidak aman, sebaiknya kita tidur di hotel saja!" kataku.


"Kamarmu juga cukup luas! Apa kau punya bayangan untuk melakukannya di kamar mandi juga?"


"Nelakukan apa? Maksut bapak?!"


Mau tak mau aku harus membukakan pintu rumah itu dan masuk ke dalam bersama Zidane. Tampaknya rumah yang kutempati tak ikut diobrak-abrik.


Dia langsung masuk dan memeriksa kamar-kamar yang kosong.


"Mereka tak membersihkannya! Aku sedikit sensitif dengan debu!" katanya.


"Kamar Boby aku tak punya kuncinya!" kataku sambil berusaha membuka pintu kamar Boby. Ayo lah terbuka pintu kampret...


"Apa di sini ada sesuatu untuk di makan? Aku lapar!" tanya Zidane.


Aku melepaskan gagang pintu kamar Boby dan kearah dapur untuk memeriksa kulkas.


Banyak sih... tapi aku nggak bisa masak....


Zidane menghampiriku dan melihat isi kulkas dari belakang bahuku.


"Mari kita memasak!" katanya.

__ADS_1


.


.


.


.


Aku hanya bengong duduk di meja makan, karena memperhatikan kelihaian seorang Zidane Arkana di dapur.


Tak ada bayangan dia bisa membunuh serangga sekalipun jika dilihat dari sudut ini.


Dia terlihat seperti pria biasa yang sangat mencintai keluarganya. Bahkan ia bisa memasak untuk keluarganya saat sang istri sibuk di luar.


Apa yang kupikirkan???


Ada raut wajah yang tak biasa kulihat di sana


Apa itu sebuah ke bahagiaan?


Wajah dingin tanpa ekspresinya itu, ternyata pernah tersenyum bahagia meski sudah lama sekali.


Dia pernah punya ekspresi bahagia di masa-masa kuliahnya.


Kenapa dia berubah?


Kelihaianya memainkan pisau tak hanya dilakukan di depan korban-korbanya, tapi di dapur pun dia memotong sayur dan daging seperti seorang chef di kontes masak.


"Turunkan pandanganmu, dan berhenti menganalisaku!" kata Zidane.


Dia pasti tidak nyaman dengan pandanganku yang tak mau lepas darinya sedetikpun.


Rugi sekali rasanya jika tak memandang pemandangan indah ini, Kapan lagi bisa melihat mafia memasak.


Dia hanya mengenakan kemeja putih tipis yang dilipat bagian lengannya, dan memperlihatkan otot lengannya yang kekar. Tentu saja body indahnya tercetak sempurna karena kemeja yang dia kenakan sangat pas di tubuhnya.


"Aku tak pernah belajar memasak! Tapi aku adalah manusia yang punya insting bertahan hidup!" katanya.


"Insting bertahan hidup?" tanyaku sambil tersenyum heran. Konglomerat terkaya di Asia pun punya insting semacam itu.


"Jane trimakasih! Kau sudaah percaya padaku!" katanya, dengan senyuman di wajahnya. Senyuman yang tak mengerikan, tapi senyuman tulus yang menghanyutkan.


"Tentang bapak nggak belajar masak?" tanyaku.


"Tentang 14 tahun lalu. Kau membelaku di kantor polisi!" katanya.


"Ohhhh...!"


Aku tak mungkin bilang pada pak Zidane kalau Kak Brian pelaku sebenarnya, aku harus bisa menguasai keadaan agar tujuanku menghabisi pelaku sebenarnya berjalan mulus. Dia bilang dia dekat dengan Kak Brian, bisa-bisa dia menghianatiku. Aku harus lebih pandai lagi mengadu domba mereka berdua, agar Zidane dengan senang hati mau membunuh Kak Brian untukku


"Kak Kian yang bersaksi untuk anda, awalnya aku juga mencurigai bapak!" kataku bohong.


"Apa kau permintaanmu untuk membunuh seseorang itu?! Adalah membunuh pelaku yang melakukannya itu padamu?" tanyanya.


Aku memandangnya lekat-lekat dan membaca setiap gestur dan ekspresi wajah Zidane.


"Iya!" jawabku.


"Aku akan melakukannya untukmu!" katanya sangat yakin, namun aku yakin dia pasti akan ragu,  jika tahu orang yang telah menyiksaku 14 tahun yang lalu adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya Zidane mematikan kompor dan menghidangkan dua porsi nasi goreng dengan aroma yang tak bisa kutolak.


"Akan kupegang janji bapak!" kataku.


"Tapi apa aku boleh minta tolong padamu lagi?" tanyanya, sambil memakan nasi gorengnya.


"Apa pak m?"


Dia memandangku yang menatapku lekat-lekat,


"Aku mendapat trauma karena melihatmu dalam keadaan yang mengerikan 14 tahun lalu. Aku jadi sulit dekat dengan wanita, dan aku masih perjaka sampai sekarang!" katanya santai.


Kenapa mengatakan itu Zidane?


Mau mancing atau mau nyebur ni orang?!


Masih perjaka?! Boleh kubuktikan nggak tuh...


Jane tenangkan dirimu.


Bapak pikir aku nggak trauma.


Pertanyaan sebenarnya adalah, kok bisa Zidane trauma melihatku seperti itu?


Jika dia psychopath, dia harusnya senang dan bahagia ketika melihat manusia tersiksa.


"Bantuan seperti apa!" kataku, mencoba tak berpikiran jelek dulu.


"Ciuman, kalau bisa lebih!" dia mengatakannya masih santai sambil makan.


Ketelen nggak tuh nasi???


Bisa-bisanya pas makan ngomongin ciuman dan hal yang lebih dari itu!!!


"Jika kau tak mau, aku tak akan memaksamu!" katanya.


"Maaf pak sepertinya saya tidak bisa membantu bapak! Saya juga sulit menerima hal semacam itu dari lelaki, serangan itu membuatku juga mengalami trauma!" kataku jujur.


"Lalu apa yang kau lakukan di kamar Brian waktu itu?" tanyanya.


"Kami hanya ngobrol!" kataku.


"Kau yakin?!"


"100% yakin! Apa saya harus bersumpah?!"


"Itu urusan pribadimu, aku tak mau ikut campur!" ralatnya.


Zidane menghabisakan nasi gorengnya lebih dulu dan pergi ke kamar mandi setelah menaruh piringnya di tempat cuci piring.


Saat aku selesai makan, aku harus mencuci piring kami. Aku ini asisten yang harusnya memasak untuk bosku,  tapi dengan santainya aku bisa menikmati masakan Zidane tanpa rasa malu.


Tetapi aku lebih baik tidak memasak dari pada membuat Zidane sakit perut, atau dirawat di rumah sakit karena keracunan.


Aku masih di area dapur, menata piring yang sudah kucuci ke tempatnya kembali.


Zidane memghampiriku dengan keadaan telanjang dada hanya melilitkan sehelai handuk di pingangnya.


"Aku tak punya baju ganti!" katanya.

__ADS_1


__ADS_2