
"Dulu dia hanya diam saja, saat di tuduh banyak hal yang tidak dia lakukan! Kakeknya berharap punya cucu yang bisa diandalkan tapi tak ada yang mampu, jadi Zidane menjadi korban didikan kejam ayahku!" kata Pak Sadewo.
"Zidane memang tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin dari awal! Dia adalah pria yang lembut yang tidak akan menyakiti siapapun meskipun dia disakiti oleh orang lain! Karena kelebihannya dianggap oleh kelemahan oleh kakeknya.
"Akhirnya kakeknya mengirimnya ke Italia, tak ada yang menyangka dia bisa bertahan sampai sekarang dan berkembang begitu pesat!" lanjut Pak Sadewo.
"Jika saja 14 tahun yang lalu, dia membantah tuduhan polisi atas penyerangan itu dia mungkin tak akan dikirim ke Italia!" ujar pak Sadewo, wajah sumringahnya kini menjadi sedih.
"Kurasa Pak Zidane tak menyesal pernah dikirim ke Italia, pak!" kataku.
"Apa dia cerita masalah itu padamu?" tanya Pak Sadewo.
"Sedikit!" kataku jujur.
"Dia tak pernah bicara pada kami secara pribadi semenjak kembali ke Indonesia! Kupikir dia sangat membenci kami!" katanya.
"Tidak, Pak! Pak Zidane sangat peduli dengan keluarganya!" kataku.
"Aku juga menyadari hal itu! tindakannya pada Jendral juga bisa kumaklumi.
"Dia pasti berharap Jendral bisa berfikir lebih dewasa jika dipukul sedikit!" kata Pak Sadewo.
Dipukul sedikit, tapi Pak Jendral yang kutemui hari ini. Masih tak bisa bicara dengan baik, padahal sudah semingguan dia kena pukul Pak Zidane.
aku goyah
Aku menjenguk, Pak Jendral yang sedang duduk di ranjang tidurnya. Sebagian wajah Pak Jendral masih di perban dan dia belum bisa bicara dengan baik.
"Napa ketini?" tanya Pak Jendral yang langsung nyolot ketika melihat wajahku masuk ke dalam ruang rawat pribadinya di dalam rumah megahnya.
"Menjenguk bapak lah!" kataku, meski cara bicara Pak Jendral tidak jelas, tapi sebagai orang Indonesia yang bahkan bisa membaca tulisan semrawut tak akan susah mengartikan kata-kata tak jelas yang dikeluarkan dari mulut Pak Jendral.
"Tamu tetia bangt sama didan, tamu tak ingt Brian yang....!" kata Pak Jendral.
"Tujuan saya masuk ke Tim Alpha bukan untuk Kak Brian!" kataku.
"Begitu ya!" kata seseorang lelaki, dia muncul dari ruangan sebelah yang entah ruangan apa. Lelaki itu kak Brian.
"Jadi aku selama ini salah paham!" katanya.
Rasanya aku ingin sekali menghajar lelaki di depanku itu, dia mengunakan setelan jas hitam yang tampak sangat pas dengan tubuh kekar yang atletisnya. Aku tau aku belum mampu mengalahkan orang ini sendirian, jadi aku hanya diam saja mematung di kursi dekat ranjang Pak Jendral.
"Jika kau ingin menjadi Nyonya Arkana kenapa kau tak bilang dari awal?" tanya Kak Brian, dia semakin mendekatiku yang masih duduk di kursiku.
Sedangkan aku hanya bisa melihati setiap ekspresi gerak-gerik bangsat itu dan mencoba menahan amarahku.
__ADS_1
"Jane, aku bukan lelaki biasa seperti dugaanmu! Kau pikir hanya Zidane yang bisa mengabulkan ke inginanmu sekarang?" tanya Kak Brian dia mencondongkan tubuhnya di depan kursiku. Aku masih menatap tajam mata elangnya.
"Apa yang bisa kau lakukan untukku Pak Brian?" tanyaku.
"Apa saja yang kau mau, aku akan menjamin itu akan menjadi milikmu!" bisiknya di telingaku, aku hanya diam dan menahan emosi dengan mengepalkan tanganku.
Berikan nyawamu padaku, apa kau bisa?
Kau tak bisa kan....
Aku akan mengambilnya sendiri bagaimana pun caranya....
Meski aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku akan pastikan kau merasakan rasa sakit yang dulu kau berikan padaku Brian Devano.
Sebuah kecupan mendarat di leher bawah telingaku, aku tersentak dan mendorong Kak Brian tapi dia tak bergerak. Dia adalah pria yang kuat, mana bisa aku hanya mendorongnya begitu. Tapi kecupan lain mendarat di bibirku, mataku terbelalak.
Berani sekali kau menyentuhku Brian!!!
Aku menendang perutnya, aku mencari sela nafasnya dan kupukul lehernya. Aku berhasil memanfaatkan kelengahannya dan menjatuhkannya ke lantai. Aku pun segera berlari ke luar dari kamar, dan menabrak beberapa orang wanita berbaju seksi menuju kamar rawat Pak Jendral.
"Kalian siapa?" tanyaku.
"Kami tamu Pak Jendral dan Pak Brian!" kata mereka sambil tersenyum nakal.
"Sebaiknya kalian pulang!" kataku.
"Kalian masuk saja!" kata Nyonya Anggun.
.
.
Aku sudah di ruangan Nyonya Anggun yang bak istana tuan putri di Eropa, dia menata ruangan pribadinya dengan gaya Britania yang megah dan sangat luar biasa.
"Apa akan terjadi perang untuk waktu dekat?" tanya Nyonya Anggun.
"Perang?" tanyaku balik, seorang pelayan menyuguhkan teh dan beberapa cemilan di depan kami.
"Semalam kau tampak sangat khawatir tentang ke beradaan ayah mertuaku!" kata Nyonya Anggun.
"Ada masalah kecil, yang harusku pastikan!" kataku.
"Brian, apa dia tak mendukung Zidane?" tanya Nyonya Anggun.
"Apa pun yang Pak Brian lakukan, tak akan punya pengaruh besar untuk Arkana Grup!" kataku.
__ADS_1
"Kau benar, Jane! Tapi bolehkan aku meminta sebuah permintaan padamu!" kata Nyonya Anggun.
"Apa itu?" tanyaku.
"Tolong singkirkan suamiku, dari tahtanya!" kata Nyonya Anggun. Aku hanya menagapi permintaannya dengan senyuman.
"Aku tak sekuat itu Nyonya!" kataku.
"Dan juga Brian!" lanjutnya ada raut emosi di wajahnya, saat menyebut nama Brian. Padahal dia tenang sekali menyebut kata 'singkirkan suamiku'.
"Kenapa aku harus menyingkirkan mereka?" tanyaku.
"Mereka akan menghancurkan keluarga ini, hanya untuk tujuan yang sepele!" kata Nyonya Anggun.
"Apa anda tak ingin berbicara sendiri pada Pak Zidane?" tanyaku.
"Aku terlalu malu untuk bertemu dengannya!" kata Nyonya Anggun.
Terlalu malu, kenapa Nyonya Anggun malu pada Pak Zidane.
"Saya pasti akan menyampaikan pembicaraan kita pada Pak Zidane!" kataku.
"Apa kau tak makan malam dulu di sini?" tanya Nyonya.
"Trimakasih Nyonya, saya akan langsung pulang saja!" kataku.
Sepanjang jalan menuju rumah Zidane Arkana, aku masih memikitkan rentetan kejadian di kediaman keluarga besar Arkana. Ternyata masih begitu banyak rahasia mereka yang tak kuketahui.
Sepertinya Nyonya Anggun juga menyembunyikan sesuatu. Mungkinkah dia mengenal Zidane sebelum ia menjadi menantu di keluarga Arkana. Itu mungkin bisa saja terjadi.
Lalu kenapa dia memintaku untuk menyingkirkan Pak Jenderal dari posisinya sekarang, padahal siapa yang bisa menolak dengan kenikmatan sebagai pewaris utama keluarga bangsawan.
.
.
Sesampainya di rumah, aku tak melihat Boby dan Leo, tapi aku melihat mobil Pak Zidane sudah ada di parkiran. Mungkin kedua orang itu sedang mendapatkan perintah khusus dari sang mafia.
Aku segera mandi dan ganti baju, aku membawa data pengembangan Vano Campeny ke kamar Pak Zidane.
Pak Zidane sedang menikmati angur sambil duduk santai di sofa, seperti biasa dia menyuruhku duduk di sebelahnya.
"Bagaimana kalau kita mabuk malam ini!" kata Pak Zidane.
"Memang bapak bisa mabuk juga?" tanyaku.
__ADS_1
Entah kenapa sekarang aku merasa mempunyai hubungan yang lebih akrab dengan orang ini. Sepertinya aku bisa membuka diriku untuknya tanpa syarat apa pun.