
"Sejak kecil Brian Devano mendapatkan pendidikan yang sama dengan keluarga Arkana yang lain, meski ayahnya penghianat tapi Pak Darma sangat menyayanginya!" jelas Ayah Xia.
"Pak Darma Arkana Ayah Pak Sadewo?" tanyaku.
"Benar sekali Penerus dan juga mebuat Arkana grup menjadi sebesar sekarang!
"Apa kau tau kenapa aku dan Xia sembunyi?" tanya Paman. Aku hanya mengeleng karena benar-benar tidak tau.
"Kami menghindari Brian Devano!" perkataan paman yang membuatku tak percaya, bukan menghindari Zidane Arkana tapi Brian Devano.
"Paman yakin!" tanyaku, aku masih tak percaya saja.
"Brian masih seperti dulu, menyembunyikan jiwa predatornya dari orang-orang dan menyalahkan Zidane!" kata Paman.
"Apa kau pernah mendengar Zidane membunuh orang yang tak bersalah?" tanya paman, aku hanya mengaguk mengiyakan.
Zidane memang suka membunuh seseorang, tapi selama aku bekerja di Arkana tak sekalipun mafia Italia itu membunuh orang secara acak. Malah Pak Jendela, Nyonya Yahara atau Alex, suka membunuh orang-orang yang bahkan tak punya salah apa pun.
"Itu pasti ulah Brian, jika kau tak percaya cari tahu lah sendiri!" kelakar Si Paman.
Aku kembali merenung dan mencoba mengingat kejadian-kejadian apa yang tampak janggal, selama aku bekerja di Tim Alpha.
"Oh iya dulu waktu kau diserang, kau tingal di mana?" tanya paman.
Aku menulis Alamat lamaku di sebuah kertas dan kusodorkan pada paman karena aku mau melanjutkan makanku.
Paman tampak terkejut dan melihat isi kertas yang ku tulis.
"Kau harus hati-hati pada Brian! Jika ingin tau bagaimana dia sebenarnya, jangan sampai ketahuan!" nasehat paman, aku hanya menganguk mengerti.
Hari itu aku langsung pergi dari rumah Ayah Xia dan kembali ke hotel, aku sampai di hotel sekitar tengah malam.
Aku langsung mandi dan tidur sangat pulas di sana, rasanya ada satu orang lagi yang membantuku menemukan orang itu dan hal itu membuatku agak tenang.
Pagi harinya aku pergi ke swalayan untuk membeli hp baru dan pergi jalan-jalan di jembatan Ampera lambang kota Palembang.
Aku menikmati udara pagi yang hangat di sana, karena aku akan terbang jam satu siang aku bergegas kembali ke Hotel dengan naik ojek.
Aku sedikit bercakap-cakap dengan tukang ojek, tapi sama sekali nggak nyambung. Mungkin karena faktor bahasa dan cara bicara kami yang berbeda.
Aku baru ingat Ayah Xia tampak sangat fasih mengunakan bahasa Palembang, apa mungkin dia sudah lama tingal di sana. Kenapa dia menjalani hidup seperti itu, padahal dia bisa hidup mewah. Setakut itu--kah mereka pada kak Brian.
Aku menyalakan ponselku setelah aku sampai di Jakarta, yang pertama ku hubungi adalah Mayang istri Feri karena aku membawakan empek-empek kesukaannya.
Aku mengabaikan semua pangilan yang masuk, karena meski ponselku hancur sim-chat--ku tidak dan aku memasangnya di ponsel baruku.
__ADS_1
Aku senang melihat Mayang sangat menikmati empek-empek yang ku bawakan.
"Dulu mas Feri juga suka empek-empek!" katanya sambil melamun.
"Mayang kau tak boleh setres, ingat bayimu!" kataku.
"Jane jangan berakhir seperti Mas Feri ya!" katanya, aku hanya memandangnya nanar.
"Aku sudah janji padamu,kan! Aku pasti akan menepati janji-janji yang kubuat denganmu!" kataku, seakan Mayang tau saja apa yang di alami Feri sebelum melepas nyawanya.
Di perjalanan ada sebuah pangilan dari Zidane dan Kak Brian, Aku menghela nafas panjang dan menekan nomor Kak Brian untuk kuhubungi lebih dulu.
"Hallo?!" tanyaku pada Kak Brian melalui hendsed bluetooth di telingaku.
"Di mana kamu, kemarin ponselmu mati!"
"Aku membantingnya!" kataku bohong.
"Kenapa!"
"Zidane itu....manusia apa bukan sih?!" aku berbicara dengan nada kesal."Ku rasa dia psychopath!".
Aku harus pintar ekting jika ingin melihat bagaimana keaslian Kak Brian.
"Dia menyulitkan mu?!" tanya Brian nadanya sedikit tertawa mengejekku.
"Tapi jangan membanting ponselmu lagi lain kali! Aku jadi sangat khawatir padamu!"
"Akan pulang, karena kau susah kuhubungi!" kata Kak Brian.
"Apa kakak akan pulang sekarang ?" tanyaku pura-pura senang.
"Iya apa kau senang ?" tanyanya.
"Tentu saja, jangan lupa oleh-oleh untukku, yaaaa! Yang bermerek remes yang mahal itu!" kataku pura-pura bahagia.
"Ok sayangku, aku tutup dulu ya telfonnya! Aku harus naik ke pesawat!" kata Kak Brian.
"Bay kakak!" kataku dengan riang gembira.
Aku segera kesal saat terdengar nada telfon telah ditutup.
"Bajingan, kenapa malah pulang sekarang!" desahku kesal.
Aku pergi ke kantor Zidane dengan pakaian santai. Kaus oblong putih bersih yang kumasukkan ke dalam celana jins pendek dan jaket bomber merah tua. Alas kakiku berupa sepatu kets putih dan topi putih.
__ADS_1
Hampir semua orang di kantor tak mengenaliku, tapi semua mata tertuju padaku saat aku berjalan.
Mereka semua pasti tak menyangka, wanita dengan pakaian minim ini punya name tag untuk akses masuk ke dalam ruangan Wakil Presiden Direktur.
Aku masuk begitu saja ke dalam ruangan Zidane tanpa rasa takut, ternyata Zidane sedang berbicara pada Boby dengan serius.
"Siapa kamu?" tanya Boby.
Tanpa menunggu jawaban, Boby langsung menyerangku tapi berhasil kutangkis dengan mudah. Meski tanganku terasa agak sakit karena harus memelintir lengan Boby yang kekar itu hinga dia bersimpuh di depanku.
"Jane!" pekik Boby sambil menahan sakit karena plintiranku.
Zidane masih bengong dengan apa yang kulakukan di depannya, aku melempar Flashdisk berbentuk peluru yang kudapat dari penadah senjata ke arah Zidane dan dengan sigap Zidane menagkapnya.
"Jika anda sudah tau, kenapa menyuruhku mencarinya!" kataku pada Zidane.
"Aku perlu bukti!" kata Zidane, aku melepas Boby dan Zidane memberi isyarat pada Boby untuk pergi dari ruanganya.
"Apa kau kecewa?" tanyanya.
Aku hanya diam saja, aku hanya memasang wajah cemberut dan kuabaikan pandangan matanya yang tajam itu.
"Jika kau menyerahkan ini padaku?! Apa itu artinya aku boleh berharap padamu?" tanya Zidane.
"Bersiap saja untuk menepati janji anda kepada saya! Saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik!" kataku.
Zidane tersenyum kecut padaku, mungkin dia merasa terintimidasi oleh janjinya sendiri.
"Brian akan pulang malam ini dari Eropa, apa anda ingin saya menaganinya secepatnya?" tanyaku.
"Aku akan mengikuti rencanamu!" kata Zidane.
"Bolehkah aku mengali lebih dalam!" tanyaku.
Zidane berjalan ke arahku dan lagi-lagi dia menyibakkan rambut di bahuku.
"Jangan sampai terluka , aku tak bisa melihatnya untuk yang kedua kalinya!" katanya.
Aku sedikit bingung dengan perkataan Zidane tapi aku juga tak mau memikirkannya. Intinya dia hanya mau aku hati-hati dan tak membahayakan Arkana Grup kan.
"Baik Pak, saya pergi dulu !" pamitku, aku pun langsung pergi dari sana.
-----------
Zidane terlihat tersenyum senang karena niatnya percaya pada Jane membuahkan hasil.
__ADS_1
-----------