
POV ORANG KETIGA
----------------
Malam sudah menunjukkan pukul 12, Jane dan Boby masih duduk bersama di meja makan, mereka berdua menikmati satu ekor ayam goreng yang dimasak oleh Boby.
Namun Boby memasang wajah masam, sebab ayam goreng yang dia masak dengan sepenuh hati sudah raib hanya tinggal tulang-belulangnya saja. Padahal dia baru mau makan satu potong paha dari ayam perkasa gurih lezat itu.
"Akhhhhh....Kenyangnya!" ucapkan tanpa rasa bersalah.
"Aku tahu keahlian lainnya yang punya!" ucap Boby masih dengan muka masamnya.
"Apa?" Jane malah pura-pura tidak tahu.
"Kau adalah manusia yang tidak bisa merasa bersalahlai, setelah menyakiti orang lain!" kata Boby.
"Ternyata kapan di menilai orang," Jane pasti tahu Boby sedang kesal dengannya, karena dia telah menghabiskan ayam goreng buatan lelaki tersebut.
"Aku juga jadi tahu, kalau kau juga punya keahlian lain selain pintar membuatku kesal!
"Yaitu kau bisa masak, meski masakan yang kau buat rasanya tidak terlalu enak!" kata Jane.
Wanita cantik ini benar-benar tidak tahu diritap, dia bisa berkomentar jika masakan temannya ini tidak enak. Padahal baru saja dia menghabiskan maka makanannya dimasak oleh orang yang ia komentari.
"Lalu kenapa kau menghabiskan semua ayam goreng buatanku!" Boby tidak tahan untuk tidak membentak Jane.
"Tentu saja karena aku sedang lapar sekali. Jika aku tidak lapar, mana mungkin aku bisa menelan masakan yang kau buat!" ujar Jane tanpa beban.
Boby mencoba menahan amarah di dalam dirinya. Dia mungkin adalah pria terkuat di bumi, namun dia bukanlah seorang pria yang akan melawan wanita hanya gara-gara satu ekor ayam goreng.
"Terima kasih karena sudah membuatku kenyang! Maaf ya, aku tidak bisa membereskan ini. Karena aku sudah sangat mengantuk!" tanpa pikir panjang Jane meninggalkan meja makan yang berantakan bersama Boby yang masih emosi.
"Tuan Zidane memintaku untuk mengawasimu!" kata Boby.
Jane yang ingin masuk ke dalam kamarnya, seketika menghentikan langkah kakinya.
Wanita itu merasa Zidane sama sekali tidak bisa mempercayainya.
"Jadi jangan coba-coba kau menghianati Tuan Zidane!" lanjut Boby.
"Aku tak akan menghianati Pak Zidane!" ucap Jane.
Tampaknya dendam yang dia miliki terhadap seseorang, membuatnya bisa menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan sebuah hal di luar keyakinannya.
__ADS_1
Brian yang dianggap sebagai kakak kandungnya, mungkin saja harus Jane korbankan agar dia bisa mendapatkan kepercayaan dari Zidane.
Kini yang merasa kesel bukanlah Boby tapi Jane. Bagaimana seseorang bisa memintanya menyelidiki sesuatu yang sudah diketahui. Jane sangat yakin jika Zidane dan Boby tahu, rahasia dibalik kasus yang harus dia selesaikan.
"Kalian berdua benar-benar sangat licik!" umpat Jane setelah dia memasuki kamar.
Paling tidak dia harus mengetahui apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh Zidane kepadanya. Dia siap menjatuhkan Brian, jika itu untuk memenangkan hati Zidane.
.
.
.
.
---------
POV Jane
---------
Esok harinya aku mendatangi tempat penyelundupan senjata yang berkedok minimarket. Aku sudah berkali-kali mendatangi tempat ini untuk mengambil senjata untuk Tim Keamanan.
Diriku juga pernah mengambilkan senjata yang dipesan oleh Zidane melalui Brian, di tempat ini.
Rak-rak berjajar seperti seharuanya, berbagai produk-produk makanan memenuhi setiap senti ruangan minimarket.
Para pelayan yang bertindak natural, karena mereka sudah dilatih dengan baik. Mereka harus bisa mengenali pelanggan sapesial seperti aku ini.
Saat pelanggan seperti aku ini datang, otomatis mereka langsung bekerja lebih cepat jika ada orang lain di dalam minimarket itu.
Aku berjalan tanpa rasa khawatir menuju lorong yang penuh kulkas, karena aku bisa melihat kode dari pegawai di sana. Jika tak ada orang lain selain aku yang mengunjungi minimarket ini, di waktu sekarang.
Salah satu kulkas di sana adalah pintu masuk menuju ruang rahasia yang dimiliki oleh seseorang.
Di sana ada kulkas dengan tulisan Fresh end healthy di atasnya, dengan warna merah mencolok.
Letak kulkas itu selalu berpindah setiap aku ke sini, pasti agar mereka tidak terdeteksi oleh pihak yang berwajib.
Aku memang bisa langsung menemukan dimana letak kulkas itu, tapi aku tak langsung memasukinya. Karena lagi-lagi ada sesuatu di pikiranku yang sedikit menganjal, padahal aku sudah bertekat untuk menyingkirkan semua hal agar aku bisa sukses dalam misi ini.
Aku tak pernah gugup seperti ini, apa lagi hanya karena di suruh Kak Brian mengambil senjata api di tempat ini.
Ku hembuskan nafas dalam-dalam, sebagai pemulai jika aku akan menjadi sosok berbeda setelah ini,
__ADS_1
Jemari-jemari di tangan kananku, perlahan menyentuh gagang pintu kulkas itu. Kutarik secara lembut, lalu aku mencari tombol yang sudah sangat ku hafal letaknya. Aku langsung masuk ruangan itu tanpa pikir panjang.
Baru juga aku memasuki ruangan itu, sudah ada seorang pria yang menodongkan senjata api ke arahku.
"Ohhhh kamu!" pria itu langsung menurunkan senjatanya setelah tahu siapa yang datang menemuinya.
Ruangan Rahasia ini bukanlah ruangan yang besar. Hanya seperti ruangan kerja sederhana, dengan beberapa furniture kayu seadanya.
"Jane!!! Apa kabar, lama tak jumpa? Bagaimana kabar Brian, aku dengar dia sedang di Eropa?!" pria itu langsung melontarkan banyak pertanyaan kepadaku, tetapi aku tidak berniat menjawab semua pertanyaannya.
"Aku butuh informasi transaksi yang telah kau lakukan untuk Arkana!" kataku dengan lugas dan juga tegas.
Pria itu langsung menatap kearahku dengan pandangan yang penuh curiga.
"Apa Brian yang menyuruhmu?" tanya pria itu.
"Tidak. Ini untuk perusahaan!" ucapku.
Pria itu masih memandangiku, meski terlihat tidak seperti sedang mencurigaiku.
"Aku sangat penasaran dengan pria yang bernama Zidane Arkana!"
Aku tidak menyangka jika orang ini dapat menempuh tujuanku secepat itu.
"Apa dia galak dan suka mengertak?!" lanjut pria itu.
Aku memang sudah beberapa kali bertemu secara langsung dengan pria ini, namun aku masih tidak tahu siapa sebenarnya nama aslinya.
"Berikan saja yang kuminta!" kataku.
"Ayolah Jane! Santailah sedikit!" aku tahu pria itu sedang membawa waktu.
"Kau ingin menyerahkannya secara baik-baik, atau aku harus memaksamu?!" namun aku tidak punya banyak waktu untuk mengikuti permainan tarik ulurnya.
Akhirnya pria itu memasang wajah serius.
"Boleh aku tahu?! Sekaran kau ada di pihak siapa?" tanya pria itu.
Aku terdiam sejenak, karena aku harus menjawab pertanyaan pria ini dengan benar. Supaya aku lekas mendapatkan apa yang aku inginkan, tanpa adanya kekerasan.
"Apakah Arkana mempunyai, dua Dewa yang harus disembah?" tanyaku.
Pria itu malah tertawa terbahak setelah mendengar jawaban dariku.
"Ternyata kau tidak tahu apa-apa!" ucap pria itu.
__ADS_1
Pria itu tidak mengejekku, tetapi dia malah memasang wajah kasihan ketika memandangku.