
"Jane bisakah kau tak melapor hal ini pada Kak Zidane?!" kata Lukas setelah berganti baju dengan pakaian yang lebih mencerminkan jiwa sultannya.
"Kenapa?"
"Terakhir kali aku membuat masalah, dia memukul kepalaku dengan stick golf! Rasanya mau pecah kepalaku waktu itu!" curhat Lukas.
Dia bahkan memperlihatkan kulit kepalanya yang sedikit botak. Ternyata pukulan itu menyisakan luka separah itu, wajar jika Arkana Grup sempat heboh karena Zidane memukul Lukas hanya karena Lukas menganiaya pelayanan bar.
"Apa yang akan Pak Zidane lakukan padamu, jika dia tau masalah ini? Apa kau akan dimasukkan ke ruang labirin di belakang rumahnya?!" ledekku.
"Ayolah, Jane!!! Ruang Labirin Kak Zidane itu bukan lelucon!" ujar Lukas sangat ketakutan.
"Kau pernah masuk ke sana?" tanyaku pada Lukas.
"Sekali! Itu juga karena aku tersesat!"
Ternyata istilah 'siapapun yang masuk ke ruang labirin Zidane akan mati, kecuali pemiliknya' itu adalah lelucon Boby. Buktinya Lukas masih masih sehat walafiat meski sudah masuk ke sana.
"Apa di dalam Ruang Labirin itu sangat mengerikan?" tanyaku penasaran.
"Kalau kau penasaran, kenapa nggak masuk sendiri?!" bentak Lukas.
Sepertinya Lukas sangat membenci Ruang Labirin di belakang rumah Zidane.
Anak Sultan yang tak punya rasa takut, bahkan setelah menghabisi manusia dengan hanya sebilah pisau ini sangat takut dengan isi di dalam ruang labirin itu. Isinya pasti sangat mengerikan dari yang kuduga.
"Apa pemandangan penuh genanggan darah di kamarmu tadi, tidak ada apa-apanya?" aku masih sangat penasaran dengan isi Ruangan rahasia Zidane itu.
"Aku sudah berjanji kepada Kak Zidane tidak akan membahas Ruangan itu dengan siapa pun! Jika kau sangat ingin tau, masuk saja sendiri!
"Kujamin kau tak akan pernah bisa tidur nyenyak tanpa bantuan obat tidur setelahnya!" jelas Lukas.
Aku masih membayangkan dan menerka-nerka, sebenarnya apa yang dilihat Lukas di ruangan itu. Kenapa lelaki dengan mulut ember seperti Lukas, bahkan tak berani meski hanya sekedar menjelaskan isinya padaku.
"Semalam aku hampir masuk ke sana!" celetuk--ku.
"Terus kenapa nggak jadi?" tanya Lukas dengan nada mengejek. "Ternyata kau masih takut mati!".
"Belum waktunya aku mati, tau!!!" ku bentak Lukas karena bicara sembarangan tentang kematianku.
"Aku pasti akan masuk ke sana! Tapi entah kapan," ujarku.
Aku malah kembali mengingat bagimana Zidane menyeret tubuh Feri dari dalam Ruang Labirin, bukankah dia bisa menyeuruhku masuk saja.
Kenapa dia memberiku pistol sebelum menyuruhku masuk???
Apa di dalam ruangan itu ada banyak senjata penyiksaan yang bisa digunakan oleh Dinan untuk menyerangku secara tiba-tiba. Atau mayat-mayat korban pembunuhan yang selama ini Zidane lakukan tak dibuang dan masih disimpan disana. Bisa jadi Labirin Zidane adalah sebuah kuburan massal.
__ADS_1
Aku bergidik ngeri saat membayangkan isi Ruang Labirin Zidane, jadi aku mengalihkan perhatianku pada kasus Lukas lagi.
.
.
Aku kembali memeriksa tas pribadi Daniel, aku menemukan sebuah ponsel. Seketika aku membukanya, anehnya tak ada kata sandi atau kunci sidik jari.
Benar saja, ponsel ini adalah ponsel baru, aku bisa melihat riwayat panggil dan juga foto di galeri yang minim sekali.
"Ini ponsel baru?" tanyaku pada Lukas.
"Dia bilang, dia menghilangkan ponsel lamanya dalam perjalanan kemari!" ucap Lukas.
Kenapa aku merasa jika ponsel lama Daniel tidak hilang.
"Apa kalian selalu bertemu di sini?" tanyaku pada Lukas.
Aku merasa ada kejanggalan besar dalam diri Daniel.
"Kami lebih sering bertemu di kosannya!" jawab Lukas.
"Dimana dia tinggal? Apa ada CCTV di dalam wilayah kosannya?"
"Ada beberapa! Aku menempatkan pacarku di tempat yang nyaman, lah!" ucap Lukas masih sok berkuasa, padahal nama baiknya sebagai anak konglomerat sudah tercoreng karena tingkah gilanya.
Dasar orang kaya tak tau balas budi, bisanya cuma memerintah orang seenak jidat.
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, jika semua orang di dunia ini hanya ingin menyakitimu???" aku kesal dengan jawaban yang diberikan Lukas padaku. "Berhati-hatilah sedikit!".
"Emang kenapa?!" Lukas masih nggak mengerti dengan maksut perkataanku tadi.
"Kau yakin Daniel kehilangan ponselnya saat perjalanan menuju ke sini?!"
"Percaya--lah!"
"Ya ampun Lukas!!! Dari semua waktu yang kalian habiskan, kenapa harus malam ini ponselnya hilang?!" aku mulai gemas pada Lukas yang bloonnya nggak ketulungan.
"Kamu tau kan aku bodoh!!! Jangan bertele-tele, cepat jelaskan!"
"Daniel ingin menghancurkanmu! Dia pasti sudah menyerahkan ponselnya pada seseorang!"
"Wahhhh gawat!!!" Lukas langsung berdiri dari duduk nyamannya.
"Baru sadar?!" desahku kesal.
Kenapa orang seperti Lukas lahir di keluarga kaya raya, benar-benar tidak adil.
__ADS_1
"Jane! Pokoknya kamu harus nemuin ponsel Daniel, secepatnya!" perintah Lukas padaku.
"Sekarang beri tahu aku, dimana Daniel tinggal!".
.
.
.
.
Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan kosan Daniel yang begitu mewah.
Entah aku bingung menyebutnya apa, tetapi bangunan di depanku ini terlalu mewah untuk di sebut kos-kosan.
Aku segera masuk ke dalam bangunan setinggi tiga lantai itu tanpa berpikir panjang.
Satelah aku memarkirkan mobilku di area parkir yang begitu luas, aku segera berjalan ke arah pintu masuk kosan yang ditempati Daniel.
Hal pertama yang kulihat adalah ruangan besar dengan meja resepsionis, seperti hotel saja.
Sambil jalan menyusui bangunan besar itu, aku memperhatikan letak CCTV apakah CCTV di sini ada sensor panas atau tidak. Ternyata tidak ada, jadi CCTV di sini ada titik butanya.
Tujuanku di sini adalah menyabotase CCTV tempat ini, karena hanya tempat ini yang bisa memberiku petunjuk tentang aktivitas harian Daniel sebelum terbunuh.
Aku segera mencari kamar no 39 di lantai tiga, tak susah karena Lukas memberiku petunjuk yang amat rinci.
Aku memberi tugas pada Tim Keamanan untuk menyabotase CCTV di kampus Daniel, jadi aku harus turun tangan sendiri untuk mengacak-acak kamar Daniel.
Saat aku berhasil memasuki ruangan kamar Daniel dengan kata sandi yang diberikan oleh Lukas. Aku segera memasang alat khusus dari Tim Monitoring, aku hanya harus mencolokkan alat itu pada aliran listrik.
Dengan alat ini, semua gedung bisa langsung di sabotase oleh Tim Monitoring kami.
Aku segera menghubungi Ruang Monitoring untuk memberitahu jika aku telah berhasil menguasai sistem keamanan gedung kontrakan Daniel.
"Sudah ku pasang, Mer!" kataku pada Meri.
"Ok siap!" jawab Meri dengan antusias.
Sepertinya permpuan yang bergaya tomboy ini tak pernah lelah jika berada di depan layar komputer.
Sambil menunggu Meri melakukan tugasnya, aku berkeliling di kamar Daniel. Aku juga harus berusaha menemukan petunjuk, mungkin saja Daniel masih menyimpan ponselnya di dalam kamar ini.
Sebab sesuai penjelasan Lukas, Daniel adalah sosok pendiam dan tak punya teman. Hanya sosok wanita itu yang akhir-akhir ditemui oleh Daniel.
Lukas menunjukkan foto-foto Daniel ketika bertemu dengan wanita itu. Wanita itu hanyalah sosok wanita muda biasa, seperti mahasiswa pada umumnya.
__ADS_1
Jika pernyataan Lukas benar, bisa dipastikan jika Daniel tak punya orang untuk diajak kerjasama untuk menjatuhkan Lukas.