Mafia Hunter

Mafia Hunter
Kelemahanku


__ADS_3

Aku tersentak karena setelah aku selesai bicara, Zidane membalikkan badannya. Posisi awalnya memang di depanku jadi sekalinya dia berputar, kami langsung saling berhadapan.


"Jadi kita harus sedekat apa, agar kau bisa memanggilku 'Mas'? " tanya Zidane.


Aku langsung mendongak ku teliti setiap detail wajah Zidane, mencari sebuah kemungkinan kesalah ucapan karena orang di depanku ini sedang teler.


Aku tak percaya mendengar hal semacam itu dari Zidane sang Mafia terkejam di Eropa ini, ini hanya mimpi--kan???


Tak berhenti di situ, Zidane dengan aktif malah melangkah maju membuatku terpojok di salah satu sisi dinding lift.


Ia mengangkat tangan kanannya untuk membelai rambutku yang menutupi wajahku. Aku masih mendongak memandang matanya yang terlihat amat liar tapi penuh kasih, sampai-sampai aku tak berani bergerak.


"Katakan!" ucap Zidane dengan suara halus tapi penuh penekanan.


Gubrakkkkkkk.


"Maaaaaaf!!! Pak!!!" teriakku dengan penuh ketakutan.


Aku mendorong Zidane dengan kekuatan penuh, sampai tubuh mafia kejam itu terbentur di pintu lift dengan amat keras.


"Saya tidak sengaja!" kataku lirih karena ketakutan, dia tak akan membunuhku hanya karena ku tolak mentah-mentah--kan.


aku segera mendekatinya, kubantu dia berdiri tegak lagi.


Zidane hanya diam saja, tapi aku bisa melihat ada guratan rasa kecewa di wajah tampannya. Dia berlagak bodoh, seolah tak terjadi apa-apa dengan membenarkan posisi jasnya yang tak berubah berantakan, karena aku yakin aku terlalu keras mendorongnya tadi.


Aku hanya bisa menunduk merasa bersalah. Dulu aku bangga karena aku punya gerakan reflek yang amat kuat, tapi hari ini aku benar-benar menyesal sudah belajar bela diri mati-matian ketika kuliah.


Apa gunanya kuat, tapi akan jadi buruan Mafia kejam seperti Zidane.


Sedetik kemudian lift terbuka, aku membiarkan Zidane keluar duluan. Aku sudah tak punya muka lagi untuk melihat wajah tampannya yang sangar itu.


"Emmmm!" Zidane tak langsung keluar.


"Iya Pak?!" aku reflek langsung kembali patuh pada Zidane.


"Kau akan ikut masuk ke dalam rapat, karena rapat ini akan membahas tentang dokumen yang kuberikan semalam padamu!" ucap Zidane.


"Jadi!" Zidane sedikit bingung memilih kata-kata yang tepat.


"Persiapkan dirimu!" pungkas Zidane akhirnya.


Mafia terkejam di dunia itu berjalan cepat, tanpa memintaku mengawalnya.


Aku lagi-lagi termenung melihat betapa anehnya kelakuan Zidane.

__ADS_1


Dia adalah Mafia berdarah dingin yang sangat kejam, semua orang tunduk padanya. Tidak pernah dia memberi ekspresi terombang-ambing semacam itu kepada publik.


Baginya nyawa manusia seperti kacang goreng di pinggir jalan, tak ada yang berharga kecuali nyawanya sendiri.


Menyiksa orang-orang yang dia anggap bersalah tanpa mendengar pembenaran dari pihak lawan.


Ibaratnya 'Tidur di kandang harimau, lebih baik dari pada berada di jarak satu meter dari Zidane'.


Namun kenapa aku merasa dia lucu.


Tidak mungkin orang semacam itu bisa jatuh cinta. Apa lagi jatuh cinta padaku, aku tak cantik, tak anggun, tak berwibawa, tak punya sesuatu yang besar.


Tiba-tiba aku melihat ke arah dadaku yang rata seperti papan luncur.


"Apa dia masih mabuk gara-gara semalam?" gumamku.


Mungkin saja, pria yang mabuk selalu punya hasrat seksual yang tinggi. Meski Zidane bukan manusia, tapi dia adalah lelaki normal.


Karena sibuk melamunkan tingkah Zidane, pintu lift hampir tertutup untung aku langsung bisa mencegahnya tertutup dengan menekan salah satu tombol di sana.


.


.


Saat aku memasuki ruang kerja Zidane, lelaki itu sedang mengangkat panggilan ponsel.


Dia melihatku saat aku masuk kedalam ruangannya, meski Zidane sedang menghadap ke kaca besar untuk melihat pemandangan ibu kota.


"Ho già indovinato!" Zidane masih berbicara dengan orang dibalik panggilannya.


Zidane pasti mengunakan bahasa Italia, dia sama sekali tak terganggu dengan keberadaanku. Dia pasti tau, aku tak bisa bahasa Italia.


"lascialo e basta!" itu kata-kata terakhir Zidane.


Mafia yang kuanggap lucu itu segera berbalik badan setelah mematian panggilan di ponselnya. Dia tak mungkin tega membuatku menunggu perintah darinya.


"Apa kau sudah siap untuk rapat?" tanya Zidane padaku.


"Sudah, Pak! Di Tim Alpha, saya adalah Wakil ketua. Jadi saya sering terlibat langsung dalam bisnis penyelundupan senjata itu!" kelasku dengan jujur.


Zidane terdiam sejenak, ia memperhatikan mimik wajahku. Aku sadar Zidane sedang mencurigaiku, dia pasti curiga aku adalah salah satu komplotan orang yang memakai nama Arkana untuk menyelundupkan senjata dari Afrika ke Indonesia.


"Saya hanya menjalankan perintah atasan saya!" kataku.


"Kau tau?! Sekarang kau punya aku!" ucap Zidane. "Tidak ada yang bisa menyakitimu, selama kau memiliki aku!".

__ADS_1


Sedikit banyak aku tau apa maksut Zidane, dia sedang mengancamku. Dia menyuruhku setia padanya, jika tidak aku akan mati seperti Feri.


"Saya akan membuktikan, kecurigaan anda salah!" ucapku dengan sangat berani.


Aku tau benar, bisnis penyelundupan senjata yang dilakukan oleh Jendral Arkana pasti di ketahui secara rinci oleh Sadewo Arkana.


"Semoga kau bisa membuktikan jika itu kesalahanku!" kata Zidane dengan nada bicara yang mengayun. "Sulit bagiku, jika itu benar-benar nyata!".


Orang ini sedang mengancamku atau sedang curhat padaku, aku tak bisa membedakannya. Apa ini sebuah trik, agar aku luluh dan setia selama-lamanya padanya, Mafia Italia memang paling licik.


"Siapa yang ingin kau bunuh?" Zidane tiba-tiba mengingatkan--ku pada tujuanku datang padanya.


"Saya akan memberitahu Anda, setelah tugas saya selesai dengan baik!" kataku.


"Aku pasti akan membunuh orang itu untukmu! Jika tugas penyelundupan senjata ini selesai dengan baik!" ucap Zidane yakin sekali.


"Bapak harus janji padaku!" kataku, aku tak mau dia mengingkarinya nanti.


"Aku janji padamu!" Zidane mendekat padaku dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku.


Dia ingin membuat janji, dengan berjabatan tangan. Aku pun menanggapinya dengan antusias.


Orang ini benar-benar membuat perasaanku campur aduk, setiap aku ngobrol dengannya, dia selalu menampilkan sisi yang berbeda.


Dia merayuku dengan ketampanannya. Karena aku menolak, dia mengancamku dengan halus. Lalu dia mengingatkan--ku akan tujuan terbesarku, dia sedang mencari kelemahan dalam diriku.


Sebenarnya apa yang membuatnya tertarik padaku secara pribadi.


Tok Tok Tok Tok Tok


Seseorang mengetuk pintu ruang kantor Zidane, lalu membuka pintu itu dengan cepat. Sementara aku dan Zidane masih berjabat tangan saling berdekatan.


"Tuan!!!" ternyata yang membuka pintu adalah Boby. "Rapatnya mau dimulai kapan? Semua sudah di sini!".


Aku tak percaya Boby bicara sangat santai pada Zidane. Keliatannya anak itu punya nyawa cadangan.


"Kita mulai sekarang!" kata Zidane.


Zidane tampak biasa saja dengan kelakuan Boby yang tak hormat pada tuannya.


Aku melepaskan jabatan tanganku lebih dulu, lalu mempersilahkan Zidane untuk jalan duluan.


Aku berjalan di belakang Zidane dan Boby di sampingku. Dari sisi ini aku bisa melihat Boby sedang memperhatikanku dengan amat jeli.


Boby pasti sama tercengangnya denganku, sebab aku bisa menebak Boby tau persis tabiat kejam bosnya itu.

__ADS_1


Boby pasti juga tau, orang macam apa Zidane itu. Tak akan mungkin bisa bersanding denganku yang hina ini.


Kok aku malah berpikir tentang bersanding dengan Zidane sihhhhh.....


__ADS_2