
"Apa Ayah tau? Kak Jendral memulainya lagi, setahun setelah Ayah berhenti melakukan itu?" tanya Zidane.
Pak Sadewo hanya diam.
Jika dilihat kediaman Pak Sadewo, dia pasti tau Putra Pertamanya telah melakukan sesuatu yang tak dia suka.
"Permasalahannya bukan itu!" ucap Zidane. "Permasalahannya adalah, ada beberapa oknum yang menggunakan Arkana di pasar gelap. Untuk mengedarkan senjata ilegal dan obat-obatan terlarang!" jelas Zidane.
"Apa???" Pak Jendral tampak sangat terkejut mendengar perkataan Zidane.
Aku juga sama terkejutnya dengan perkataan Zidane barusan. Selama ini aku hanya tau tentang penyelundupan senjata yang dilakukan oleh Pak Jendral dan Kak Brian.
Ternyata ini adalah kartu As yang disimpan oleh Zidane selama ini. Zidane sama sekali tak mempermasalahkan jika salah satu anggota keluarganya melakukan bisnis haram itu lagi. Tetapi Zidane tak suka jika ada orang luar yang menggunakan nama keluarganya, untuk keuntungan pribadi.
Sudah puluhan beberapa tahun aku menangani bisnis penyelundupan senjata oleh Jendral Arkana, namun aku tak menemukan celah apa pun. Memang beberapa kali aku sempat curiga dengan sebuah nama perusahaan yang ikut serta mengunakan nama Arkana untuk menyelundupkan senjata, tapi Kak Brian bilang sudah membereskan hal itu.
Apa kecurigaan Zidane kali ini, adalah pada nama baru atau nama lama yang pernah kecurigai.
"Kau bahkan tak tau hal semacam itu, bagaimana bisa kau dengan percaya diri menyebut dirimu sebagai pemimpin Arkana Grup!" Zidane mencibir kakaknya dengan sindiran halus.
"Siapa??? Siapa orangnya?!" tanya Jendral pada Zidane.
"Karena itu Jane ada di sini, dia yang akan memberitahumu siapa orang itu!" jawab Zidane.
Semua mata segera tertuju padaku, mereka memandangku dengan penuh kecurigaan. Apa lagi Pak Jendral, dia memandangku dengan tatapan menuduh.
Pak Jendral sangat tau, jika aku adalah sosok karyawan yang tak bisa diperbudaknya. Dia pasti menyangka, aku telah berhianat darinya, dengan memberi informasi bisnis rahasianya kepada Zidane.
"Saya akan menyelidikinya secara teliti! Agar semuanya jelas!" ucapku.
Aku juga tak tau pasti apa tujuan dari Zidane memberiku tugas ini. Tak mungkin Zidane mempercayaiku secepat ini. Aku tak boleh salah langkah, apa lagi terjebak dalam perebutan kekuasaan Arkana Grup.
Bisa-bisa aku menjadi kambing hitam seperti Feri.
"Aku tau Zidane kau pasti sudah menyelidikinya! Bilang saja siapa yang mencurangi Arkana! Jangan berbelit-belit begitu!" Nyonya Yahara yang ceplas-ceplos akhirnya angkat bicara.
"Aku belum menyelidiki hal ini! Kau pikir aku pengangguran yang hanya mengurusi Arkana saja.
"Aku meminta Jane berdiri di sisiku, karena aku butuh kemampuannya.
"Karena seperti yang kalian tau, aku tak boleh menyentuh Tim Alpha. Apa lagi meminta bantuan mereka secara personal!" jelas Zidane.
"Baiklah, kalau begitu! Jane kami semua percaya padamu! Lakukan perintah Wakil Presiden dengan sebaik-baiknya!
"Kau juga harus berhati-hati,jangan gegabah! Memang kelihatannya misi ini adalah hal mudah, tapi misi ini penuh resiko! Kau harus selalu menjaga dirimu, nantinya!" Pak Sadewo akhirnya memberikan arahan padaku.
__ADS_1
Dari semua anggota keluarga Arkana hanya Pak Sadewo yang memiliki rasa kasian terhadap para bawahannya.
"Baik, Pak!" kataku dengan tegas, meski dilema masih menguasai hatiku.
Zidane mungkin adalah tiang paling besar di Arkana Grup, tapi Pak Sadewo adalah pondasi. Kuasa penuh masih dipegang oleh Pak Sadewo Arkana meski secara hukum dia sudah mewariskan Arkana grup pada anak pertamanya.
.
.
.
.
"Apa yang terjadi???" Boby langsung menghujaniku dengan pertanyaan, padahal aku baru keluar dari dalam ruangan rapat.
Zidane menyuruhku keluar terlebih dahulu, sebab masih ada rahasia keluarga yang ingin mereka debatkan.
Tak mungkin mereka semua berbicara, tanpa ada otot yang menegang.
"Nggak ada apa-apa!" jawabku dengan santai.
"Tak mungkin jika tak ada apa-apa, kau sampai disuruh masuk!" Boby memang bukan orang bodoh.
Entah kenapa Boby begitu khawatir kepadaku, dia sampai menghentikan langkahku, dia mencengkeram dia sisi bahuku dengan kedua tangannya.
"Jika kau tertekan! Cerita sama aku, siapa tau aku bisa bantu!" ucap Boby.
Matanya yang biasa liar dan berkomedi, kini terlihat amat serius.
Padahal Boby juga bukan seseorang yang bisa membantu urusanku ini, lelaki ini adalah bawahan Zidane yang paling setia. Apa yang bisa dilakukan oleh Boby untukku.
"Nggak, Bob! Bener... Nggak ada apa-apa!" kataku.
Aku sebenarnya ingin berkeluh-kesah, setidaknya berdiskusi. Apakah Zidane memberikan tugas ini padaku, hanya karena dia ingin membuangku, atau mengujiku.
Biar aku tak salah langkah, aku ingin mengetahui kebenaran hal itu.
"Jika kau butuh sesuatu... Apa pun! Langsung hubungi aku, ya!" kata Boby begitu percaya diri.
Siapa dia, dia hanya seorang kacung, sama seperti aku.
"Baiklah! Aku akan langsung menghubungi kamu, jika aku butuh bantuan!" aku mengatakan ini hanya untuk membuat hati Boby merasa lega.
Sebenarnya aku tak mau menanggapi Boby, tapi jika aku tak menanggapinya urusannya akan lebih berbelit-belit.
__ADS_1
..............
..............
..............
POV ORANG KETIGA
.......
Suasana temaram, dengan sorot mata penuh kecurigaan. Sebuah keluarga yang penuh akan konflik internal.
Saling menuding dan saling menghancurkan. Arkana Grup adalah sebuah simbol kebangkitan revolusi industri di negara ini, tetapi itu hanya berlangsung selama satu dekade saja.
Arkana kini berubah menjadi medan perang penuh dengan tetesan darah. Siapa yang paling kuat, maka dia akan menjadi pemimpin Arkana baru.
"Apa kau berencana menikahi Jane?" tanya Jendral Arkana pada adiknya yang ia anggap sebagai musuh terbesarnya.
"Jangan coba-coba menyentuhnya! Dia adalah bidakku!" jawab Zidane dengan wajah yang amat garang tapi tenang.
Di ruangan rapat dingin yang luas itu hanya tertinggal Sang Pewaris Tahta dan Sang Perebut Tahta.
Bisa dibayangkan betapa kedua api ini saling menyulut, memperpanas matahari siang yang amat terik ini.
"Dia pernah jadi bidakku! Aku yakin bisa menariknya darimu, suatu saat nanti!
"Jadi jangan terlalu terlena dengan kecantikannya!" kata Jendral ia berdiri dari kursinya, lalu menghampiri Zidane yang duduk jauh di hadapannya.
Zidane yang awalnya tak ingin menanggapi secara serius, cemoohan kakaknya itu langsung berdiri. Dia menarik kerah pakaian mewah yang dikenakan oleh kakaknya dengan sangat kasar.
"Serahkan saja dokumen yang kau punya tentang bisnis gelapmu, padaku! Atau aku akan membuatmu tidak pernah bisa bercinta dengan normal lagi!" kata Zidane.
Jendral langsung terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh Zidane. Dia tak menyangka, jika Zidane bisa mengancamnya.
Selama ini Zidane hanya diam, dan tak pernah mengganggu Jendral. Jadi Jendral menyangka Zidane takut padanya.
Namun semua perkiraannya tentang adiknya terpatahkan secara langsung dengan ucapan sarkas adiknya barusan.
"Ok! Sabar Zidane! Aku tau kau hewan buas, yang sangat teritorial!
"Aku tak akan menggangu Jane!" Jendral hanya bisa mengalah.
Bagaimanapun Jendral masih membutuhkan Zidane yang memiliki nama besar di dunia gelap. Serta nama baik Zidane sebagai seorang pemimpin Kartel Mafia di Italia.
Mafia berhati mulia yang banyak menolong warga Italia yang diserang oleh Mafia lain. Ini adalah julukan Zidane di kanca Internasional.
__ADS_1