Mafia Hunter

Mafia Hunter
Masa Lalu Jane


__ADS_3

masa lalu Jane


Seperti apa yang sudah kurencanakan aku pergi ke sebuah rumah sakit untuk menjalani terapi hipnotis. Aku ingin melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi malam itu.


Jujur saja aku tak punya waktu untuk menggalinya, atau aku tak pernah merasa jika ingatan yang kupunya mungkin saja terpotong.


Mataku terpejam, otakku masih memikirkan banyak hal.


"Anda bisa memikirkan apa yang membuat anda senang!"


Aku mendengar dan melakukan apa yang diperintahkan oleh psikiaterku.


"Pikirkan anda masih berusia 14 tahun!"


Meski agak berat, namun aku memikirkan hal itu lagi.


"Apa yang membuat anda senang kala itu?"


Aku berpikir sejenak, kubayangkan apa yang paling kusukai kala itu.


"Aku suka piano!" kataku. "Aku juga suka seseorang!" lanjutku.


Aku masih ingat hari itu adalah hari selasa 16 September 2007 saat aku pulang sekolah aku mendapati rumahku yang masih kosong seperti biasanya.


Aku langsung masuk kamarku dan menganti baju seragamku dengan baju rumah, aku lanjut makan di meja makan.


Waktu itu aku hanya tingal dengan dua kakak tiriku. Kak Morgan dan Kak Kian, mereka sudah kuliah dan selalu pulang larut malam.


***


5 tahun sebelum kejadian itu, ibuku menikah dengan seorang pria dengan dua anak lelaki. Ke dua anak lelaki ayah tiriku itu begitu menyayangiku. Aku selalu dilimpahi oleh kasih sayang dari kedua kakak tiriku dan kedua orang tuaku.


***


Tiga bulan sebelum kejadian, ibu dan ayah tiriku ke Amerika untuk memulai bisnis di sana. Karena keadaan di Amerika sana belum benar-benar setabil untuk sementara kami bertiga harus ditinggal dulu di Indonesia.


Semenjak itu, kedua kakakku jadi sering pulang larut dan tak memperhatikanku. Kami mempunyai pembantu untuk membereskan rumah yang datang di pagi hari dan pulang di siang hari.


Aku jadi kesepian dan sering melihat ke luar jendela di kamarku untuk melihat orang berlalu lalang di depan rumahku ketika siang hari, dan melihat bintang pada malam hari. Bagiku mereka seperti hal yang sama, yaitu sama-sama menghiasi hari-hari kesepianku.


Setelah pulang dari sekolah biasanya aku akan makan siang di rumah dan akan tidur sampai jam tiga sore dan bersiap untuk les piano, di dekat rumah hanya berselang dua gang dari rumahku waktu itu.


Seperti itulah aku menjalani hariku kala itu, sampai pada suatu hari yang cerah seorang lelaki menghadangku saat aku kembali dari les piano.


Dia...


Wajahnya...


Kenapa aku sulit mengingatnya?!


Tapi aku harus mengingatnya wajah lelaki itu.


Aku merasa lelaki itu ada hubungannya dengan orang yang menyerangku 14 tahun lalu.


Dia selalu datang setiap hari ketika aku selesai les piano, dia mengantarku sampai depan rumahku. Kami mengobrol banyak hal, dia suka es krim vanila, dia suka warna hitam, dia suka tersenyum padaku. Dan namanya

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanya lelaki itu saat kami bertemu pertama kali, dia mungkin seumuran kakakku Kian yang baru saja masuk universitas dan dia sengaja menungguku di sana.


"Jane!" Jawabku gugup.


"Kau tingal dua blok dari sini, kan?!Aku tingal tiga blok dari sini, ayo kita selalu pulang bersama!" katanya.


"Apa kau juga les di sekitar sini?" tanyaku.


"Tidak, aku tak les di sini!" jawab lelaki itu dengan sangat lembut. "Itu!" dia menunjuk sebuah rumah mewah dengan pagar besi yang indah berwarna emas yang mencolok.


"Itu rumah kakekku!" lanjutnya.


"Aku kuliah di malam hari dan akan di rumah itu sampai sore!" katanya.


"Oohhhh,iya! Lalu siapa namamu?"


"Namaku Brian Devano!" katanya sambil tersenyum manis.


Aku membuka mataku karena sesi pertamaku sudah selesai.


***


"Dok kenapa aku bisa melupakan hal itu?" tanyaku pada Dokter.


"Saat kau di serang, kau mendapat pukulan yang cukup keras di tengkorak belakang bagian bawah kepalamu. Mungkin kau memgalami ganguan ingatan sementara, atau penghapusan memori karena kau syok. Tubuhmu bisa saja menghapus sebuah ingatan jika kau merasa syok!" jelas Dokter.


Untuk apa Kak Brian mendekatiku sejak aku masih remaja?


Apa dia benar-banar menyukaiku?


Lalu kenapa dia pura-pura tak mengenalku selama ini?


Jika dia memang mendekatiku ketika aku berusia 14 tahun, bukankah harusnya dia ingat meski aku sudah banyak berubah secara penampilan.


Ada banyak pertanyaan dan dugaan karena ingatan lamaku yang muncul.


Tiba-tiba kepalaku sakit dan aku pun duduk di kursi tunggu di koridor kamar pasien yang saat itu sepi sekali.


Aku duduk cukup lama karena ingatan-ingatan tentang Kak Brian memasuki otakku secara beruntun sampai aku pingsan di sana.


***


14 tahun lalu


"Hay Jane, apa kau di rumah?" tanya Brian di balik telfon, aku sedang di rumah sendirian karena kedua kakakku belum pulang dadi pagi.


"Iya ada apa kak?" tanyaku.


"Apa aku boleh masuk?" tanyanya. "Aku sudah di depan rumahmu !" kata Kak Brian.


Aku membuka tirai di depanku sedikit, letak meja telfon rumahku kala itu di dekat jendela ruang tamu. Jadi aku bisa langsung melihat Kak Brian yang menelfonku dengan telfon gengam sedang berdiri di luar pagar dengan payung hitam di tangannya.


"Tak ada orang di rumahku, kata ibuku aku tak bisa membawa orang lain masuk jika tak ada kakakku !" kataku polos.


"Baiklah, besok jangan lupa les piano ya!" katanya.

__ADS_1


Hari itu aku tak les piano karena aku ketiduran dan bangun pukul empat sore.


Malam kejadian itu hujan dari jam tujuh malam sampai subuh.


Aku tidur di kamarku, entah apa yang terjadi aku mendengar pintu kamarku di ketuk seseorang.


Kupikir itu Kak Leo yang biasa membangunkanku karena membeli makanan untukku saat dia pulang dari kuliah.


Aku langsung bagun dan menuju dapur tapi tak ada siapa pun, aku merasa angin berhenbus kencang mengibarkan tirai ruangan depan.


Tanpa rasa takut aku berjalan ke ruang depan dan kaca rumahku pecah.


Kepalaku dipukul seseorang dari belakang diiringi gemuruh petir yang menyambar-nyambar.


Percikan air di wajahku membangunkanku.


"Kak Brian!" gumamku lirih.


Posisiku waktu itu aku tidur di bawah jendela besar di kamarku, kaki dan tanganku dalam keadaan diikat.


Samar-samar aku bisa melihat Kak Brian duduk di kursi belajarku. Aku juga merasakan rasa sakit di kepalaku, serta di pergelangan tangan serta kakiku. Hawa dingin lantai kamarku menusuk menembus kulit remajaku yang masih rentan.


"Kak tolong aku!" rengekku.


Kak Brian jongkok di depan wajahku dan memukul kepalaku entah dengan apa. Rasa sakit di kepalaku belum hilang, dia menendang perutku beberapa kali.


Aku tak bisa berteriak karena rasa sakitnya menjalar ke sekujur tubuhku, tenggorokanku tercekat.


Dia membelai rambutku yang berantakan dan mencium keningku dengan lembut. Kak Brian membisikkan sesuatu padaku tapi aku tak bisa mendengarnya.


"Tolong jangan bunuh aku!" rengekku lirih, dadaku sesak dan rasanya telingaku hanya mendengar dengungan keras.


Tapi bukannya dia berhenti, dia malah menambah kekuatannya untuk memukuli tubuku yang hanya berbobot 36 kg kala itu.


Setelah aku tak berdaya, Kak Brian melepas tali yang dia ikat di kaki dan tanganku. Dia memgambil gunting di meja belajarku dan mengunting seluruh bajuku hinga aku telanjang.


Aku bisa melihat dengan mata penuh air mata, lelaki itu menikmati keadaanku dengan senyuman yang indah tapi sadis. Aku juga bisa merasakan Kak Brian masih memastikan aku bernafas dan bereaksi dengan apa yang dia lakukan pada tubuhku.


"Jangan bunuh aku!" kataku lirih.


"Tolong jangan bunuh aku!" pintaku terus.


Dia melepas kancing celananya dan aku bisa merasakan sekujur tubuhku sakit dengan gerakan yang dia lakukan pada tubuh bagian bawahku. Tapi setiap persendianku lemas meski aku berusaha bergerak.


Entah berapa menit dia menyetubuhiku di keadaanku berlumuran darah dan tak berdaya. Senyum kepuasan dan ******* puncak nafsunya terngiang-ngiang di otakku.


Dia tak menutup mataku, tapi insting tubuhku menutup ingatanku agar aku bisa bertahan hidup.


Aku bisa melihat dia keluar dari kamarku, kupikir dia akan pergi meniggalkanku tapi dia malah datang lagi membawa sebilah pisau yang tampak sangat kukenal.


"Tolong jangan bunuh aku!" kataku terbata sambil berusaha menahan tangis dan mengelengkan kepalaku.


Tuarrrrrrrrrrr


Kaca di kamarku pecah setelah dia menusukkan pisau ke perutku. Brian lari mungkin karena kakakku datang.

__ADS_1


Aku masih ingat di pandangan sayunya, karena pecahan kaca mengenai tubuhku juga. Seseorang mengambil ponsel di sakunya dan menelfon polisi. Dan aku hilang kesadaranku sepenuhnya.



__ADS_2