Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Masalah Baru


__ADS_3

"Alvaroooo!" isak Nala.


Zack pun mendengus kesal, dia lalu mendekat ke arah Nala kembali meskipun enggan. Lalu menepuk kembali bahunya, bermaksud untuk menenangkannya. Namun tepukan itu justru membuat Nala tersentak. "Ada apa?"


"Aku cuma bermaksud menenangkanmu."


"Astaga, kasar sekali. Kupikir kau mau membunuhku."


"Bagaimana mungkin aku bisa membunuh wanita yang sedang terlihat lemah seperti ini. Ini bukan gayaku."


"Oh syukurlah. Ternyata kau masih punya hati."


Zack pun terdiam, sebenarnya dia begitu kesal Nala berbicara seperti itu. Tapi dia tidak mau membuat Nala kembali menangis. Jadi dia terpaksa diam saja, dan memilih menahan kesalnya. Meskipun di dalam hatinya, berbagai umpatan pun dia keluarkan karena harus berhadapan dengan wanita seperti Nala.


"Jadi kau benar menangis karena Alvaro?"


Mendengar nama Alvaro kembali disebut, sontak Nala pun memperkeras tangisnya. 'Astaga,' batin Zack yang mulai kehilangan kesabarannya. Akhirnya perlahan dia pun mendekatkan diri ke arah Nala, lalu memeluknya kembali.


"Tenangkan dirimu, jujur saja meskipun kau menyebalkan tapi sebenarnya kau sangat cantik. Kau sangat cantik, Caca. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu dengan laki-laki yang benar-benar mencintaimu. Aku yakin itu."


"Aku tidak yakin. Apakah kau tahu, aku sakit hati oleh dua orang laki-laki yang berbeda dalam jarak yang tidak terlalu lama, dan itu sangat menyakitkan. Aku merasa sangat terpukul."


"Jadi sebelumnya kau pernah dikecewakan?"


"Ya, mantan pacarku berselingkuh di belakangku dan memanfaatkan uang yang kumiliki untuk kepentingan dirinya saja."


"Astaga, kasihan sekali. Gadis miskin sepertimu ternyata masih saja ada yang memanfaatkan. Sangat miris sekali. Lalu bagaimana dengan Alvaro? Apa dia juga memanfaatkanmu?"


"Tidak, laki-laki sebaik dan setampan Alvaro tidak pernah memanfaatkan aku. Tapi dia menolak cintaku, karena sedang menunggu jawaban dari wanita lain."


"Astaga, jadi kau mengungkapkan cinta pada Dokter Alvaro, dan dia menolak cintamu?"


"Iya...." jawab Nala sambil terisak.


"Memalukan sekali, seorang wanita mengungkapkan cintanya lalu ditolak begitu saja, sungguh miris."


"Jadi kau menghinaku?"


"Tidak, hanya merasa kasihan dan miris, ditolak oleh seorang laki-laki."


"Kau juga sama saja, kasihan dan miris. Ditolak oleh wanita yang sudah menjadi istrimu sendiri dan lucunya kau masih saja mau mempertahankan cintamu padanya, bahkan memaksanya dalam sebuah ikatan pernikahan. Keadaanmu jauh lebih menyedihkan daripada apapun, bahkan kau sama saja dengan pengemis!"

__ADS_1


"Lancang sekali kau berkata seperti itu, dasar wanita siluman!"


"Aku tidak lancang! Aku hanya sedang berkata yang sebenarnya. Coba kau pikir baik-baik, bukankah keadaanmu sebenarnya seperti itu? Mengemis cinta pada wanita yang tidak mencintaimu, bahkan kau sampai menghilangkan nyawa orang lain agar dia bisa berhenti mencintai orang itu, kan? Lalu apa yang kau dapat? Hanya sebuah dosa saja, Tuan Zack karena istrimu itu semakin membencimu."


"Darimana kau tahu semua itu?"


"Itu tidak penting, bukankah kau Zack pimpinan mafia terbesar, mendapatkan informasi tentangmu itu mudah, Tuan."


"Benar juga, aku memang dikenal banyak orang."


"Tapi sayangnya dikenal dalam hal keburukan, bukan hal kebaikan. Bukankah kau tahu istrimu Laurie wanita yang sangat lembut. Sedangkan kau? Sikapmu saja sangat buruk dan kasar seperti ini, bagaimana dia bisa jatuh cinta padamu?"


"Jadi menurutmu aku harus mengubah sifatku menjadi lebih lembut padanya agar dia bisa luluh dan jatuh cinta padaku?"


"Ya, kau harus bersikap lembut dan memperlakukan istrimu sebaik mungkin, sentuh hatinya dengan kelembutan bukan dengan cara memperlihatkan kebengisanmu itu!"


Zack pun tampak mengerutkan keningnya, dan menenangkan hatinya, mencoba untuk berfikir dengan jernih dan memahami apa yang dikatakan oleh Nala. Memang benar, selama ini dia hanya bisa memperlihatkan kekuatan sebagai laki-laki yang tak tertandingi di mata Laurie, dan dia tidak menyadari kalau sikapnya ternyata hanya membuat Laurie semakin membencinya bukan mencintainya. Dan Zack baru menyadari kebodohan yang telah dia lakukan sekarang.


"Caca."


"Apakah ini sudah terlambat kalau aku merubah sikapku pada Laurie?"


"Tidak ada kata terlambat, memangnya kenapa?"


'Astaga, tidak. Sepertinya aku salah bicara, ini memang hal yang bagus, dia mau mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau, tapi ini hal yang sangat membahayakan bagi Laurie, apalagi saat ini Laurie sudah sadarkan diri,' batin Nala.


"Caca, ayo kita pergi sekarang."


"Kemana?"


"Rumah sakit, aku ingin menemui istriku."


'Mampus, jangan sampai dia tahu Laurie sudah sadar. Astaga Laurie, maafkan aku kalau perkataanku membuat masalah baru bagimu,' batin Nala.


"Kau mau kemana, Tuan Zack?"


"Tentu saja menemui istriku, Laurie."


"Tapi, Tuan."


"Tapi apa? Bukankah tadi kau yang mengatakan kalau aku harus bersikap baik pada istriku?"

__ADS_1


"Ta-tapi, benarkah kita batal pergi ke Macau?" tanya Nala dengan begitu terbata-bata. Sebenarnya dia senang Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau, tapi dia tidak menyangka kalau perkataannya akan membuat Zack berubah dan mendekat kembali pada Laurie.


"Ya, aku merubah semua rencanaku. Mulai hari ini aku akan bersikap lembut pada istriku. Seperti yang kau bilang tadi. Sekarang aku mau pergi ke rumah sakit dulu. Kau boleh pulang sekarang, Caca," ucap Zack sambil berjalan menuju ke arah pintu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar teriakkan Nala.


"Tunggu dulu!"


Seketika Zack pun menghentikan langkahnya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Nala sambil mengerutkan keningnya.


"Kau? Lancang sekali kau membentakku seperti itu."


"Kau yang sudah lancang, Tuan. Kau yang sudah mempermainkan aku begitu saja. Apa kau tahu bagaimana sulitnya meminta ijin pada kedua orang tuaku. Lalu, kau dengan mudahnya menggagalkan rencanamu untuk pergi ke Macau begitu saja? Kau pikir aku ini apa Tuan Zack? Mainan?" teriak Nala untuk mengulur waktu agar Zack mengurungkan niatnya untuk menemui Laurie.


"Memang apa salahnya kalau kau kembali ke rumah? Kau tinggal bilang, kau tidak jadi pergi ke Macau karena ada perubahan rencana, atau apalah. Wanita licin sepertimu pasti bisa beralasan."


"Hei, enak sekali kau berkata seperti itu. Aku bukanlah dirimu yang bisa saja membohongi orang tua kapanpun kau mau!"


"Hai, kau! Kau memang benar-benar lancang! Andai saja kau tidak berhutang padaku, kepalamu kupastikan sudah tertembus peluruku. Aku tidak peduli denganmu, karena aku tidak mau membuang waktuku untuk menemui istriku! Daripada kau mengeluh dan membuat alasan yang tidak jelas tentang orang tuamu. Lebih baik untuk sementara kau tinggal di sini saja denganku!"


"Tinggal di sini? Tidak mungkin! Tinggal berdua denganmu sangat tidak aman bagiku. Kau bisa saja berbuat yang tidak-tidak padaku."


"Apa? Berbuat yang tidak-tidak padamu? Yang benar saja? Hahhahahhaha... "


"Kau pikir aku bernafsu pada wanita siluman sepertimu? Jangan pernah bermimpi! Wanita cerewet dan menyebalkan sepertimu bukanlah tipeku. Aku tidak pernah tertarik padamu, jadi jangan terlalu percaya diri! Lebih baik sekarang kau masuk kamar! Aku mau pergi ke rumah sakit sendiri. Kali ini aku tidak mau membawamu ke rumah sakit, aku tidak mau ada yang melihatmu dan berfikiran buruk padaku karena membawa wanita lain."


Nala pun hanya terdiam, raut wajahnya yang meledek seakan membuat Zack makin kesal. "Kenapa kau diam saja wanita siluman?"


"Aku sedang berfikir raja iblis! Apa kau tidak melihat wajahku yang menggemaskan sedang berfikir?" ucap Nala dengan begitu polosnya. Mendengar dirinya disebut raja iblis, sebenarnya Zack merasa begitu kesal, tapi dia mencoba bersabar menghadapi Nala, karena melawan perkataannya hanya akan semakin membuatnya merasa kesal. Sebenarnya ada keinginan untuk membunuh Nala. Tapi entah kenapa selalu ada penolakan dari dalam hatinya.


Bagi seorang Zack, membunuh wanita adalah hal yang sering dia lakukan. Dia juga tidak merasa sungkan, apalagi wanita yang seringkali menjadi mata-mata, Zack tak segan untuk menghabisinya. Tapi, Nala yang begitu menyebalkan entah kenapa selalu membuat dirinya berhasil mengurungkan niatnya untuk menembakkan peluru ke kepalanya.


"Apa yang perlu kau pikirkan? Bukankah aku sudah sangat berbaik hati mau mempekerjakanmu untuk membayar hutang-hutangmu padaku, bahkan menampungmu sementara di rumah ini?"


"Memangnya aku bilang aku sedang memikirkanmu? Aku hanya sedang berfikir bagaimana caranya mendekati Dokter Alvaro lagi."


"Astaga, dasar wanita siluman!" bentak Zack. Dia kemudian pergi meninggalkan Nala yang masih terkekeh. Sebenarnya sejak tadi Nala hanya mengulur waktu agar pesan yang dia kirimkan pada Olivia yang memberitahukan kalau Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau mendapatkan balasan dari Olivia.


Nala sebenarnya terpaksa mengirim pesan pada Olivia tentang Zack yang mengurungkan niatnya pergi ke Macau. Tapi dia harus melakukan itu agar bisa memberi peringatan pada Olivia dan Laurie supaya waspada akan kedatangan Zack kembali. Meskipun konsekuensinya saat ini Olivia memberondong dirinya dengan berbagai pertanyaan melalui pesan yang berulang kali Olivia kirimkan. Dia merasa penasaran bagaimana Nala bisa tahu Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau. Nala pun beralasan dia bertemu dengan Zack di Bandara, meskipun jawaban itu juga terasa janggal. Tapi dia tak peduli, karena yang terpenting saat ini dia sudah memberi tahu kalau Zack mengurungkan niatnya pergi ke Macau, dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengunjungi Laurie.


Setelah Zack pergi, dan dia sudah menyelesaikan urusannya dengan Olivia. Nala kemudian berjalan menuju ke kamarnya mengikuti seorang pembantu rumah tangga yang kini berjalan di depannya.


"Nona Caca. Selama tinggal di sini, Tolong Non jangan pernah masuk ke kamar ini ya," kata pembantu rumah tangga itu saat mereka melewati sebuah kamar dengan pintu warna putih.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Bi?"


"Tidak apa-apa Nyonya, di rumah ini hanya Tuan Zack yang boleh masuk ke dalam kamar itu," jawab pembantu itu yang membuat Nala semakin bertanya-tanya.


__ADS_2