
Setelah masuk ke dalam kamar, Zack memeluk tubuh Nala dari belakang, lalu mengecup tengkuk dan meremas bongkahan kenyal yang menggantung di bagian depan tubuh Nala. Akan tetapi, bukannya membalas sikap mesra Zack, Nala malah membalikkan tubuhnya lalu mendorong Zack seraya menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam.
"Apa-apaan ini Zack!" Melihat sikap Nala, Zack pun mengurutkan keningnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Memangnya ada apa Nala? Bukankah kita sudah biasa seperti ini? Bukankah sebentar lagi kita juga akan menikah? Kau harus secepatnya hamil kan? Sekarang aku akan membuktika kalau aku bukanlah seorang edi tansil."
Zack tersenyum menyeringai sembari mengedipkan matanya "Kata-katamu enteng sekali, Zack. Memang kita akan menikah, tapi tidak sepantasnya kita bersikap seperti ini saat ada kedua orang tuaku! Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat tadi mengatakan kalau aku sedang hamil anakmu? Bayangkan betapa malunya aku, Zack. Kau tahu sendiri kan, aku seorang wanita yang seharusnya sholehah, tapi aku sampai merendahkan harga diriku demi laki-laki sepertimu."
"Jadi kamu nyesel nikah sama aku?" Zack mengangkat salah satu alisnya seraya menatap Nala dengan tatapan tanda tanya.
"Aku bukannya nyesel nikah sama kamu Zack. Tapi, lebih menyalahkan diriku sendiri kenapa aku jatuh cinta dengan duda sepertimu. Lihatlah pesonaku yang begitu indah rupawan bagaikan bidadari di Surga Firdaus, tapi malah dipinang seorang duda sepertimu. Mana mafia lagi."
"Astaga Nala, bukanya kamu yang minta aku buat nikahin kamu? Terus, sekarang kamu bersikap seperti ini? Dasar wanita siluman labil!"
"Apa kamu bilang? Wanita siluman? Aku nuntut kamu nikahin aku karena kamu udah ambil kesucianku, ingat itu! Daripada kamu buang-buang waktu di sini, lebih baik kamu persiapkan diri kamu untuk pernikahan kita karena kita harus menikah secepatnya sebelum membebaskan Athena adikmu itu."
Zack tampak mengerutkan keningnya. "Aku sudah mempersiapkan semuanya Nala, aku sudah menyiapkan mas kawin yang akan kuberikan padamu. Anak buahku sudah mempersiapkan semua itu, kau tenang saja."
"Memangnya menikah hanya sebatas itu? Apakah kau sudah hafal dengan ijab qabul yang harus kau ucapkan nanti?"
"Ijab qabul? Haruskah aku menghafalkan itu?"
__ADS_1
"Cukup Zack, jangan membuatku gila dengan tingkah bodohmu itu. Kau ini seorang mafia, kau harus memiliki harga diri. Kau bisa menghabisi nyawa orang lain. Tapi hal seperti itu saja tidak tahu! Astaga menyedihkan sekali hidupku ini, sudah berulang kali kasih tak sampai, eh begitu dapat suami dapatnya model beginian lagi. Huhuhu ... "
Zack melihat tingkah absurd Nala seraya memijit pelipis dan menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu sudah paham bagaimana tingkah calon istrinya tersebut. Meskipun sebenarnya dia merasa kesal, akan tetapi Zack berusaha menahan emosi di dadanya.
"Kenapa kau masih berdiri di situ, Zack. Aku mau mandi, sebentar lagi MUA-nya datang. Walaupun ini pernikahan dadakan, tapi aku harus terlihat sempurna cantik jelita sepanjang masa, aw, aw, aw."
Nala menaikkan bola matanya seraya memegang wajahnya. Hal itu, semakin membuat Zack tampak berdecak sebal. Dia lalu keluar dari kamar Nala, dan menutup pintu kamar tersebut "Dasar wanita siluman, iblis betina, enteng sekali dia berkata seperti itu. Awas saja, setelah semua ini selesai, aku akan membuangmu layaknya sampah. Kau pikir aku tulus melakukan semua ini? Kau terlalu naif wanita bodoh!"
Zack melangkahkan kakinya menjauh dari kamar tersebut, hingga tiba-tiba langkahnya tertahan seraya tersenyum menyeringai. "Hamil? Sepertinya itu ide yang cukup bagus untuk meninggalkan luka yang sempurna untuk wanita siluman itu. Hahahahaha ..."
Di salah satu kamar di apartemen tersebut, Calista tampak mendekat pada Leo yang saat sedang duduk di bibir ranjang. Wajah laki-laki itu terlihat begitu sendu, namun juga tersimpan emosi yang tampak terlihat jelas dari kilatan matanya, meskipun tatapan mata itu terlihat kosong. Tak hanya itu, tangan laki-laki paruh baya itu pun terlihat mengepal, dengan urat yang menonjol.
"Pertanyaan macam apa itu Calista?" Leo menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya.
"Kau masih belum merestui mereka? Leo, bagaimanapun juga ini adalah pilihan Nala. Dia sudah dewasa, pasti dia tahu mana yang terbaik untuk hidupnya. Kau tahu bagaimana Nathan kan? Aku juga sempat khawatir dengan kenakalannya dulu. Akan tetapi, dia bisa memperoleh istri yang sangat baik."
Calista lalu duduk samping Leo, seraya menaruh kepalanya di bahu laki-laki itu, dan melingkarkan tangannya di perut Leo.
"Bibit istri Nathan dengan laki-laki yang akan menikahi putri kita, itu beda Calista. Kau tidak bisa menyamakan hal itu."
"Leo, kita harus percaya pada anak kita. Cinta itu masalah hati, cinta akan menuntun dan berlabuh sesuai dengan kata hati, seperti yang terjadi pada kita. Leo, apa kau sudah lupa dengan yang terjadi pada kita dulu? Apa kau sudah lupa bagaimana cinta menuntun kita untuk bersatu?"
__ADS_1
Leo hanya terdiam. "Leo ..."
Calista mengelus bahu suaminya itu. "Aku tidak tahu Calista, aku tidak tahu harus berkata apa tentang pernikahan mereka. Aku melakukan semua ini hanya untuk putriku saja, aku menikahkan putriku karena kewajibanku sebagai seorang ayah yang menuruti keinginan putrinya, ya hanya sebatas itu. Selebihnya, aku tidak akan pernah merestui hubungan mereka, apalagi jika sampai Zack mempermainkan Nala, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak takut pada Zack meskipun dia adalah pimpinan mafia besar."
Leo menjeda perkataannya ada letupan emosi yang dia tahan, tubuh laki-laki itu pun tampak bergetar. "Jika mafia breengsek itu berani mempermainkan putriku, maka aku sendiri yang akan menghadapinya, meskipun nyawaku menjadi taruhannya! Karena sampai saat ini, aku tidak yakin jika mafia itu benar-benar tulus mencintai Nala."
Leo bangkit dari atas ranjang lalu meninggalkan Calista yang tampak menatapnya dengan tatapan sendu, disertai helaan nafas berat.
"Leo, sebenarnya aku juga belum yakin dengan pernikahan Nala, tapi mau bagaimana lagi? Nala sudah menjatuhkan pilihannya, dan aku tidak bisa memaksakan kehendak apapun pada putriku. Apalagi saat ini dia sedang mengandung darah daging Zack, sudah sepantasnya laki-laki itu bertanggung jawab pada putriku, meskipun setelah pernikahan ini aku pun tidak tahu bagaimana rumah tangga mereka kelak."
***
Sementara itu, Athena tampak menatap salju yang mulai turun dari jendela kamarnya. "Mengapa tiba-tiba perasaanku cemas seperti ini? Mengapa tiba-tiba hatiku bertanya-tanya siapa Nala sebenarnya? Benarkah dia tidak memiliki hubungan lebih dengan Kak Zack? Mengapa tiba-tiba aku jadi cemas seperti ini? Memang dia mengatakan kalau Zack masih mencintai Laurie. Tapi, apakah benar seperti itu? Bagaimana kalau semua itu hanya sebatas alibi dari Nala saja?"
Athena menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak boleh, aku tidak boleh bersikap ini. Aku tidak boleh curiga pada Nala yang sudah sangat baik padaku. Tapi, bukankah tidak salah jika aku menyelidiki siapa Nala sebenarnya? Apakah seharusnya aku menyelidiki Nala terlebih dulu? Tapi ... "
Athena tampak memejam mata. "Hm, aku punya ide, sepertinya ini cukup efektif untuk mengetahui jati diri Nala yang sebenarnya."
Athena keluar dari kamarnya lalu menghampiri Gerald yang sedang duduk di depan ruang televisi seraya membersihkan pistolnya.
"Gerald aku mau bicara denganmu ... "
__ADS_1