Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Tongkat Kayu


__ADS_3

Athena masih menatap abu sisa kebakaran yang ada di samping rumahnya, hingga lamunannya buyar saat ada sebuah suara di belakangnya.


"Kau belum tidur, Athena?"


Athena membalikkan tubuhnya lalu menatap Gerald dengan tatapan sengit. "Sejak kapan kau peduli padaku?"


"Kau adik kandungku, Athena. Tentu saja aku peduli padamu."


"Cih, adik kandung? Peduli pada adik kandung? Lalu bagaimana dengan orang tua kandungmu yang sudah kau hilangkan nyawanya? Jika kau tidak pernah peduli pada kedua orang tua kandungmu, bagaimana aku bisa percaya kalau kau peduli pada adik kandungmu sendiri?"


"Athena, bukankah sudah beberapa kali kukatakan kalau aku tidak sengaja melakukan itu. Itu kecelakaan, Athena."


"Kecelakaan katamu? Memangnya kau pikir aku bodoh, hah? Aku bahkan bisa melihat dengan mata kepalaku saat peluru yang berasal dari pistolmu itu menembus dada Papa dan Mama! Kau tidak pantas disebut dengan manusia, Gerald!"


"CUKUP ATHENA! AKU SUDAH MUAK MEMBICARAKAN INI LAGI DENGANMU! SUDAH BERAPA KALI KUKATAKAN KALAU AKU TIDAK SENGAJA MELAKUKAN SEMUA ITU! Ini sudah malam, lebih baik kau masuk ke dalam kamarmu!"


Athena menatap Gerald dengan tatapan tajam sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, Gerald saat ini tampak menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, lalu mengambil ponselnya, membuka galeri di ponsel itu, dan menatap sepasang foto suami istri paruh baya yang sedang duduk tersenyum di atas sofa.


"Papa, Mama.., maafkan aku. Saat itu, aku hanya ingin memberikan peringatan pada kalian, tapi kalian tetap membela anak pungut tidak berguna itu. Maaf kalau aku sampai bertindak seperti itu, Pa, Ma. Aku hanya merasa kalian tidak adil! Aku adalah anak kandung kalian, dan sudah sepantasnya aku mendapatkan bagian penuh wilayah kekuasaanku, bukan harus ada pembagian dengan Zack! Karena Zack lebih pantas menjadi pembantuku!" geram Gerald. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, sambil mencoba menenangkan perasaannya. Setelah itu, ingatannya kembali tertuju pada Nala.


"Caca, bagaimana keaadaan Caca? Bagaimana keadaan Leon, adiknya? Ah lebih baik kuhubungi saja dia." Gerald kemudian mengutak-atik ponselnya, untuk menghubungi Nala.


***


Sementara itu, Zack yang saat ini sedang berjalan masuk ke dalam hotel tampak menatap tajam pada Nala sambil semakin menekankan pistolnya pada pinggang Nala, karena berulang kali Nala tampak bergerak, dan mencoba untuk melepaskan diri.

__ADS_1


"Jangan coba-coba melarikan diri dan bersikaplah lebih tenang!" bisik Zack saat mereka sudah ada di depan resepsionis untuk memesan kamar.


Tubuh Nala pun bergetar hebat saat mereka mulai berjalan di koridor, menuju ke sebuah kamar yang ada di lantai sepuluh hotel tersebut. "Tuan Mafia, kenapa kita harus ke sini? Lebih baik kita pulang saja. Kita pasangan bukan mukhrim, Tuan. Ga boleh berduaan di dalam kamar hotel, itu kata Pak Ustadz. Kalau kita berduaan, nanti ada temanmu yang datang, Tuan!"


"Siapa? Aku tidak memanggil temanku."


"Setan..., hahahahahaha..."


"DIAM! KAU PIKIR AKU SETAN! DASAR WANITA SILUMAN! RUBAH BETINA!"


"Guminho maksudnya?"


"DIAM! SEKARANG CEPAT MASUK!" bentak Zack pada Nala, setelah membuka pintu kamar itu. Nala pun hanya terdiam di depan pintu.


"Kenapa kau diam?"


"Lebih baik kau diam dan cepat masuk ke dalam!" bentak Zack sambil menarik tangan Nala, hingga tubuhnya pun ikut tertarik masuk ke dalam kamar itu, lalu dia menghempaskannya ke atas ranjang.


Bukkkk


"Arghhhh..., sakit."


"Sakit kan? Jadi lebih baik diam dan tidurlah!"


"Apa? Tidur? Jadi kau tidak mau memperkosaku?"

__ADS_1


"Siapa yang bilang mau memperkosamu? Kau yang selalu menarik kesimpulan sendiri! Cih..."


"Baiklah, terima kasih banyak, Tuan Mafia. Aku sudah lelah, kalau begitu aku tidur dulu!" sahut Nala. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Namun, baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba Zack sudah menjatuhkan tubuhnya tepat di sampingnya. Spontan, Nala pun berteriak. "Aaaaaaaaaaa!"


"Apa-apaan ini? Bukankah tadi kau bilang tidak akan memperkosaku? Kenapa tiba-tiba kau tidur di sini?"


"Apa kau tidak lihat, hanya ada satu ranjang di sini, memangnya kau pikir aku harus tidur dimana?"


"Di sofa!"


"Tidak mau, nanti badanku bisa pegal! Lebih baik kau diam dan tidurlah! Apa kau mau..."


"Timah panasmu menembus kepalaku? Itu kan yang ingin kau katakan?"


"Bagus kalau kau mengerti! Sekarang cepat tidur!"


Nala pun memejamkan matanya. Namun, saat dia baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba tangan Zack sudah melingkar di perutnya. Hembusan nafas hangat kini pun begitu terasa di tengkuknya. "Astaga, aku bukan guling, Tuan Mafia."


"Memang di hotel tidak ada guling, karena itulah aku harus memelukmu karena aku tidak bisa tidur tanpa guling."


"Astaga, jadi aku harus menjadi guling dari seorang mafia? Ini sungguh sangat tragis."


"Diam!"


Terpaksa, Nala pun hanya bisa diam sambil menangis dalam hati, rasanya dia tak rela tubuhnya saat ini dalam pelukan Zack. Meskipun tak bisa dipungkiri jika pelukan hangat itu sangat menenangkan. Hingga tiba-tiba Zack semakin mengeratkan pelukannya, dan spontan membuat Nala tertegun, apalagi saat ada sesuatu yang keras di bagian bawah, sudah menempel di bokongnya.

__ADS_1


"Mamaaa..., tolong aku. Ada tongkat kayu di bawah."


__ADS_2