Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Posesif


__ADS_3

"Kak Zack, aku sangat merindukanmu," ucap Athena sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. Entah mengapa saat melihat Athena menyebut nama Zack disertai raut wajah yang begitu bahagia, dada Nala tiba-tiba sesak. Ada sebuah rasa yang saat ini sangat sulit dia artikan.


"Emh Caca, siapa kau sebenarnya?" tanya Athena, beberapa saat kemudian.


"A-aku, namaku sebenarnya Nala. Aku diminta oleh Zack untuk membantunya agar bisa lepas dari Gerald."


"Benarkah? Benarkah Kak Zack yang melakukan semua ini?"


"Iya Athena, kau tenang saja. Aku dan Zack pasti akan berusaha untuk membebaskanmu dari Gerald."


"Lalu, kau siapa? Apa hubunganmu dengan Kak Zack?" tanya Athena curiga.


"Ka-kami hanya berteman."


"Teman?"


"Ya teman."


"Hanya sebatas itukah?"


"Ya, hanya sebatas teman. Aku hanya membantu Zack untuk melepaskanmu dari Gerald. Dia meminta bantuanku karena sebelumnya kami tidak pernah bertemu, dan Gerald pasti tidak akan curiga padaku. Kau tenang saja, kami pasti akan berusaha membebaskanmu."


"Ya, aku tahu itu. Aku yakin Kak Zack pasti membebaskanku, aku juga tahu selama ini Gerald mempermainkan Kak Zack yang membuatnya kesulitan untuk mencariku."


"Iya, Athena. Lalu, bagaimana keadaanmu selama satu tahun bersama Gerald?"


Athena tampak menundukkan wajahnya, lalu memejamkan matanya, kemudian mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Dari raut wajah cantik itu, terlihat tekanan yang dialaminya.


"Gerald membawaku secara paksa setelah dia membunuh kedua orang tua kami. Hatiku begitu hancur saat melihat kedua sosok itu tergeletak tidak berdaya di atas lantai dengan bersimbah darah. Tubuhku rasanya melemas, saat melihat kedua sosok yang sangat kusayangi meregang nyawa di depanku. Namun, di saat itu pula, aku juga harus berpisah dengan mereka. Ya, aku tidak pernah melihat jenazah kedua orang tuaku untuk terakhir kalinya. Bahkan sampai satu tahun kematiannya, aku belum pernah sama sekali berkunjung ke makamnya. Coba kau pikir, apakah aku bisa hidup dengan tenang selama satu tahun terkahir ini? Rasanya bahkan sangat sakit melihat Gerald masih bisa tersenyum setelah semua yang telah dia perbuat, aku sakit Nala. Rasanya sungguh sakit."


Butiran bening kini mengalir deras membasahi wajah Athena, Nala kemudian menggengam tangannya sambil menatap wajah cantik itu dengan tatapan sayu.


"Maafkan aku bertanya seperti itu padamu, Athena. Aku tahu ini pasti tidak mudah bagimu."


"Sangatttt, Nala. Karena ambisinya, Gerald telah merampas kebahagiaan kami, menghabisi nyawa Papa, dan Mama, serta membuat keluarga kami hancur. Apa kau tahu, aku sangat membencinya, Nala. Aku sangat membenci Gerald meskipun dia kakak kandungku."


"Dan kau lebih menyayangi Zack meskipun dia bukan kakak kandungmu?"


Mendengar nama Zack kembali disebut oleh Nala, seketika raut kesedihan di wajah Athena pun memudar, berganti senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Lebih dari itu, aku menyayangi Kak Zack lebih dari apapun."


DEG


Nala pun kembali tertegun mendengar perkataan Athena. Bagi Nala, saat Athena menyebut nama Zack, ada sebuah rasa kekaguman, dan rasa sayang, bukan layaknya seorang saudara. Tapi, di balik itu semua, seperti ada sebuah rasa cinta. Ya cinta, dan Nala yakin itu.


Nala pun terdiam sejenak, sambil mengamati raut bahagia di wajah Athena, hingga tiba-tiba lamunannya tersentak saat sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya. Nala kemudian melihat layar ponsel itu, dan melihat nama Zack di layar ponsel itu.


"Emh, Athena. Bisakah aku masuk ke dalam untuk mengangkat panggilan telepon ini?"

__ADS_1


"Oh silahkan. Apa pacarmu yang menghubungimu?"


"Ya, pacarku yang meneleponku," jawab Nala spontan.


"Baiklah, silahkan Nala, kau masuk saja ke kamar. Aku masih ingin menikmati musim gugur, kau tahu kan mungkin beberapa hari lagi kita memasuki musim dingin."


"Iya Athena."


Nala kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Athena, awalnya Nala ingin menerima panggilan telepon itu di dalam kamar tersebut. Tapi, entah mengapa jiwa posesifnya tiba-tiba menguasai hatinya. Entah mengapa, tiba-tiba Nala tidak ingin Athena tahu kalau yang menghubunginya adalah Zack.


[Halo.] jawab Nala.


[Wanita siluman, kau dimana?]


[Di rumah Gerald.]


[Apa? Di rumah Gerald? Untuk apa kau kesana, hah?]


[Tentu saja untuk bertemu dengan Athena.]


[Hanya bertemu dengan Athena kan?]


[Tentu saja. Bukankah kau yang menyuruhku untuk menolongmu membebaskan Athena? Seharusnya kau bahagia aku bisa bertemu dengan Athena!]


[Lalu apa kau sudah bertemu dengannya?]


[O-oh, emhhm..., tentu saja belum.]


[Eh-emh karena Athena saat ini sedang tidur.]


[Oh, jadi Athena sedang tidur?]


[Ya, dia sedang tidur.]


[Baiklah kalau begitu, nanti tolong fotokan Athena untukku. Aku sangat merindukannya.]


[Apa? Jadi kau merindukannya?]


[Tentu saja aku merindukannya. Bukankah dia adikku?]


[Adikmu?]


[Ya, adikku. Apa kau sudah amnesia, wanita siluman?]


[Hanya sebatas adik kan?]


[Ya, sebatas adik. Kenapa kau cerewet sekali.]


[Oh baiklah, aku tidak akan cerewet lagi. Sekarang kututup dulu teleponnya.]

__ADS_1


[Iya, setelah bertemu Athena, lebih baik kau minta Gerald untuk mengantarkanmu segera kembali ke rumah sakit.]


[Iya Tuan Duda Mafia, aku tutup dulu teleponnya.] sahut Nala, saat mulai mendengar panggilan dari Athena.


[Iya, hati-hati wanita siluman.]


Nala kemudian menutup panggilan dari Zack, saat Athena terdengar berulang kali memanggilnya. "Nalaaaa..."


"Nalaaaa..."


Bergegas, Nala pun membuka pintu kamar mandi, lalu mendekat pada Athena yang sedang memanggilnya. "Athena, aku di sini. Tadi aku hanya sedang merapikan penampilanku di kamar mandi."


"Oh, kupikir kau sudah pulang."


"Belum, oh iya Athena. Kemarin Zack berpesan padaku untuk mengambil fotomu saat kita bertemu."


"Benarkah?"


"Ya."


"Pasti Kak Zack sangat merindukanku."


"Tentu saja, dia merindukanmu sebagai adiknya."


"Tidak Nala, pasti dia memiliki perasaan yang lebih padaku."


"Tidak Athena, dia menganggapmu sebagai adiknya," jawab Nala spontan yang membuat Athena merasa tersinggung dengan jawaban Nala yang seolah-olah berasumsi sendiri.


"Nala, kenapa kau mengambil kesimpulan seperti itu?"


"Oh, emh maafkan aku Athena. Maaf kalau aku berkata seperti itu, karena setahuku satu-satunya wanita yang Zack cintai adalah Laurie, mantan istrinya."


"Apa Laurie? Siapa dia Nala?"


"Dia mantan istri Zack."


"Mantan istri? Jadi Kak Zack sudah pernah menikah?"


"Ya, dia menikah dengan Laurie, tapi karena sesuatu hal, mereka akhirnya berpisah, dan setahuku Zack sangat mencintai Laurie. Maafkan aku kalau aku harus mengatakan ini, Athena. Aku hanya tidak ingin kau terkejut kalau selama setahun terakhir ada banyak kejadian yang tidak kau ketahui, Athena."


Athena pun begitu terkejut mendengar perkataan Nala, dia hanya termenung. Dan tak lama, butiran bening pun lolos begitu saja dari kedua sudut matanya. Melihat air mata di wajah Athena, Nala pun merasa menyesal telah menceritakan masa lalu Zack pada Athena, entah mengapa tiba-tiba hari ini dia begitu posesif. Detik itu juga, dia merutuki kebodohan dirinya sendiri saat melihat Athena yang kini tampak begitu terpukul.


"Athena, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu," ucap Nala sambil menggengam tangan Athena dan menyeka air matanya.


"Tidak apa-apa, Nala. Aku malah berterima kasih kau menceritakan semua ini padaku."


"Sekali lagi maafkan aku."


"Tidak apa-apa, Nala. Bukankah Laurie itu mantan istri Zack? Jadi aku masih punya kesempatan untuk merebut hati Kak Zack kan?"

__ADS_1


'Astaga, oh nooo,' batin Nala.


Bersambung...


__ADS_2