Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Membaca Mantra


__ADS_3

"Sttt ... Kendalikan dirimu, Nala. Kita akan menikah."


"Makanya Zack, punya mata itu dipake yang bener. Apa kamu nggak pernah liat film atau sinetron, kalau mempelai wanita datang, seharusnya mempelai pria terpana. Oh em ji, cantik sekali calon istriku. Nggak kaya kamu yang cuma ngomong hmmm ... Aku wanita tulen Zack, bukan Lucinta Luna. Aku punya perasaan yang halus sebagai seorang wanita."


Kepala Zack seketika terasa berat mendengar ocehan Nala. Akan tetapi, dia mencoba untuk tetap bersabar menghadapi wanita itu, apalagi tatapan tajam dari Leo terus mengekorinya. Terpaksa, Zack menarik kedua sudut bibirnya. Sedangkan Leo dan Calista hanya bisa menggelengkan kepalanya. Marah, hal itu yang masih dirasakan Leo hingga membuatnya begitu jengah melihat Zack bersanding dengan putri kesayangannya.


"Maafkan aku Nala, Sayang. Sebenarnya aku sangat terpana melihat kecantikanmu itu, wajahmu sangat imut dan menggemaskan seperti ..."


"Seperti Zhao Lusi."


"Baiklah seperti Susi Susanti."


"ZACK ..."


"Apa bisa kita mulai acaranya sekarang?" Suara seorang laki-laki paruh baya, akhirnya memutus perdebatan Zack dan Nala.


"Nala sayang, kita mulai acaranya sekarang. Nanti setelah akad nikahnya kau boleh memarahiku lagi," ujar Zack, seraya menggenggam jemari Nala. Wanita itu mengerucutkan bibirnya, lalu mengangguk, meskipun di dalam hatinya, Nala masih merasa kesal dan ingin memarahi Zack. Akan tetapi, Nala meredam semua kekesalan itu untuk melanjutkan acara akad nikahnya.


Mendapat restu untuk bisa menikah dengan laki-laki itu tidaklah mudah. Jadi, Nala tidak mau membuang-buang kesempatan. Apalagi setelah ini, mereka harus membebaskan Athena. Tentunya dia tidak ingin memberi kesempatan pada Athena untuk bisa berdekatan dengan Zack, karena mulai detik ini Zack adalah miliknya seorang.


Zack mengucapkan ijab kabul secara lantang, dengan satu kali satu tarikan napas. Teriakkan "SAH" dari para saksi, menjadi penanda jika hubungannya telah dengan Nala telah resmi.


Nala tersenyum, lalu mencium punggung tangan Zack, dan dibalas kecupan hangat di kening wanita itu. Melihat momen romatis tersebut, Leo beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju balkon. Sayup-sayup terdengar jika Leo mengeluarkan umpatan lirih. Calista yang melihat tingkah suaminya hanya menggeleng pelan, hatinya mencelos, terasa begitu sesak. Hari ini adalah hari pernikahan putri satu-satunya mereka, akan tetapi rasa bahagia itu tetap saja harus berbalut luka.


Meskipun wajah Nala begitu ceria, namun tanpa bercerita pun Calista tahu, jika pasti ada kesedihan di dalam hati Nala karena sikap Leo. Tak mau putrinya merasa tertekan dengan sikap Leo, Calista mendekat pada Nala dan Zack untuk memberikan ucapan selamat, lalu memeluk keduanya.


"Selamat ya, Sayang. Semoga pernikahan ini langgeng sampai maut memisahkan, dan selalu dipenuhi kebahagian, bersama anak-anak kalian."

__ADS_1


"Terima kasih, Ma," jawab Nala, lalu memeluk Calista dengan begitu erat.


"I love you, Sayang. Mama selalu mendoakan kebahagiaan kalian." Nala mengangguk, detik selanjutnya kemudian terdengar isakan dari bibir wanita cantik itu. Sedangkan Zack, hanya mengulum senyum, seraya mengelus bahu Nala yang kini masih terisak dalam pelukan Calista.


"Calista, setelah ini beristirahatlah karena besok kita harus pergi dengan penerbangan paling pagi!" Leo tiba-tiba menarik tangan Calista. Sontak, hal itu membuat pelukannya dengan Nala terlepas.


"Semoga bahagia, anak nakal," ucap Leo, sembari berjalan meninggalkan mereka, masuk ke dalam kamar.


"Ma, benar kata Papa, sebaiknya Mama istirahat sekarang."


Calista mengangguk, lalu mengikuti langkah Leo masuk ke dalam kamar. Sebenarnya, dia masih ingin menemani Nala. Akan tetapi, untuk saat ini Calista tidak punya pilihan selain menuruti perkataan Leo, agar suaminya itu tidak semakin marah pada Nala dan Zack.


Satu jam kemudian, apartemen itu sudah sepi. Satu jam yang lalu, Calista dan Leo masuk ke kamar mereka, tamu-tamu sudah pulang setengah jam yang lalu. Saat ini, hanya ada petugas kebersihan yang sedang membersihkan apartemen itu. Zack dan Nala, saat ini tengah berdiri di balkon apartemen.


"Apa kau bahagia?"


"Sangat, tidak bisa kuucapkan dengan kata-kata."


Nala tersenyum. "Sebenarnya Papa begitu menyayangiku, dia hanya ingin aku mendapatkan suami yang bisa membahagiakanku dan juga menjagaku. Dia hanya ragu padamu, Zack. Dan tugasmu, menepis keraguan di hati Papa dan meyakinkannya jika kau laki-laki yang pantas untukku."


Zack hanya mengangguk, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. "Jadi kalian perlu pembuktian bukan? Baiklah, akan kubuktikan siapa diriku yang sebenarnya. Aku adalah Zack, laki-laki yang pernah kalian rendahkan, kini kembali dan akan melakukan pembalasan hingga semua keluarga kalian menangis darah dan menyesal pernah bersikap semena-mena padaku," batin Zack sambil mengelus punggung Nala. Dan sialnya, sikap Zack itu diartikan sebagai tanda sayang oleh wanita tersebut.


"Aku tahu Zack, aku tahu kau pasti akan berusaha untukku." Mendengar perkataan Nala, sebuah senyuman disertai seringai tipis tersungging di bibir Zack.


Keesokan harinya, setelah mengantarkan Leo dan Calista ke bandara, tentunya dengan berbagai macam drama akan sikap ketus Leo yang membuat mereka semua bersikap canggung dan salah tingkah, Nala dan Zack yang saat ini berada di dalam mobil, tampak begitu lega.


"Maafkan sikap Papa."

__ADS_1


"Kau tenang saja, aku biasa berhadapan dengan manusia yang lebih kejam daripada Papamu."


"Apa kamu bilang Zack? Jadi menurutmu Papa kejam?"


"Astaga, salah lagi," batin Zack seraya meneguk salivanya, karena dia yakin setelah ini pasti hanyalah omelan dari Nala yang akan didengarnya. Akan tetapi, saat Nala baru saja membuka mulutnya, tiba-tiba ponselnya berdering hingga membuat atensi Nala teralihkan.


"Siapa?" tanya Zack saat melihat perubahan pada raut wajah Nala.


"Gerald, dia meneleponku."


"Coba kau angkat saja!" perintah Zack. Nala pun mengangguk.


[Halo Gerald.]


[Halo Ca, kamu di mana?]


[Bukannya aku sudah bilang kalau aku sedang mengunjungi saudaraku. Saudaraku di Hamburg, Gerald.]


[Benarkah? Apa aku boleh tahu alamat saudaramu itu? Kebetulan hari ini aku juga akan pergi ke Hamburg. Aku ingin berkenalan dengan saudaramu, Ca. Bukankah kau sudah mengijinkanku untuk mendekatimu? Jadi, boleh kan aku mengenal saudaramu?]


[Oh emh itu ... Begini sebenarnya, Gerald ... ]


[Ada apa, Ca? Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu? Apa ada yang salah dengan perkataanku? Apa aku tidak diperbolehkan untuk mengenal saudaramu?]


[Oh begini Gerald, sebenarnya sebentar lagi aku akan pulang. Kau tahu kan Leon saat ini sedang berada di rumah sakit, jadi aku tidak mungkin terlalu lama meninggalkannya sendiri.]


[Oh kalau begitu, bawa saja saudaramu itu untuk mengunjungi Leon, sekaligus bertemu denganku. Nanti aku yang akan menjemput kalian dengan jet pribadiku.]

__ADS_1


"Astaga, kenapa Gerald ngotot sekali untuk bertemu dengan saudaraku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia mulai curiga padaku?" batin Nala sembari menatap Zack yang terlihat kebingungan melihat sikapnya.


"Nala, ada apa? Kenapa bibirmu komat-kamit seperti itu? Apa kau sedang membanca mantra agar aku menjadi suami takut istri?" bisik Zack.


__ADS_2