
"Athena?" gumam Nala, dia lalu menatap ke arah Zack yang sedang menikmati makan malam.
"Angkat saja!"
Nala kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo, ada apa Athena?]
[Caca, saat ini aku bersama Gerald. Dia menanyakan padamu, apa besok kau mau datang ke rumahku lagi?]
[Oh tentu saja, Athena.]
[Terima kasih banyak, Caca. Besok Gerald akan menjemputmu di rumah sakit.]
[Iya Athena.]
Nala kemudian menutup panggilan telepon dari Athena. "Aneh sekali, kenapa tidak Gerald saja yang meneleponku jika dia ingin mengajakku pergi ke rumah mereka," gerutu Nala.
Zack pun tersenyum kecut. 'Itu karena Gerald tertarik padamu, wanita siluman. Tapi sayangnya, aku tidak akan membiarkanmu jatuh pada pelukan Gerald, karena urusanku denganmu belum selesai,' batin Zack, seraya melirik pada Nala yang saat ini sedang menghubungi kedua orang tuanya untuk hadir pada pernikahan mereka.
Sementara itu di ujung sambungan telepon, tampak Athena melirik pada Gerald yang sedang menatapnya. "Kau sudah puas mengerjaiku? Aku bisa menelepon sendiri pada Caca kalau aku ingin mengajaknya ke rumah ini. Tapi karena permintaan konyolmu itu, aku tampak jadi seperti laki-laki pecundang di depan Caca. Apa kau..."
"Memang apa salahnya kalau aku ingin bicara pada Caca? Lagipula, selama ini aku sudah menurut pada perintahmu kan?" sela Athena sambil berjalan masuk ke dalam kamar miliknya. Membiarkan Gerald yang saat ini menatapnya dengan tatapan begitu kesal.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Athena lalu menempelkan tubuhnya pada pintu sambil memegang dadanya. "Kupikir dengan menelpon Nala, aku bisa mendengar suara Kak Zack. Tapi, ternyata tidak. Ah mungkin saja Nala tidak tinggal satu rumah dengan Kak Zack," ujar Athena.
Dia kemudian berjalan ke arah meja yang ada di dalam kamar itu, lalu mengambil foto masa kecil mereka. "Kak Zack, aku sangat merindukanmu. Semoga kita bisa bertemu secepatnya. Aku ingin kita bisa menikah, Kak," sambung Athena.
***
__ADS_1
Sementara itu, Nala yang saat ini sedang menelpon Calista tampak begitu bahagia.
[Halo Mama.]
[Halo Nala, Sayang. Bagaimana keadaanmu?]
[Baik Ma, bahkan sangat baik. Emh..., begini Ma. Apa besok Mama dan Papa bisa pergi ke Munchen?]
[Apa katamu? Ke Munchen? Untuk apa, Nala?]
[Nanti kuceritakan kalau Papa dan Mama sudah ada di sini.]
[Memangnya ada apa sebenarnya, Sayang? Kenapa kau jadi berteka-teki seperti ini?]
[Maaf Ma, aku tidak bisa mengatakannya ditelepon, yang penting Papa dan Mama harus datang ke Munchen, karena ini menyangkut tentang hidupku.]
[Hidupmu? Nala kau jangan bercanda seperti ini, Nak. Sebenarnya apa yang terjadi?]
Sementara itu, di ujung sambungan telepon Calista tampak begitu terkejut mendengar perkataan Nala. Melihat Calista yang kebingungan, Leo lalu mendekat ke arahnya.
"Ada apa, Sayang?"
"Leo, ini sungguh hal yang aneh. Tiba-tiba Nala meminta kita untuk datang ke Munchen besok."
"Apa? Datang ke Munchen? Untuk apa?"
"Entahlah, dia tidak mengatakan alasannya. Dia memaksa kita untuk datang ke Munchen besok, dan hanya mengatakan kalau ini berkaitan dengan hidupnya."
"Apa? Berkaitan dengan hidupnya? Ada-ada saja anak itu."
__ADS_1
"Leo sepertinya Nala tidak sedang bercanda. Lebih baik kau pesan tiket sekarang, agar kita bisa berangkat ke Munchen dengan penerbangan paling pagi!"
Leo pun hanya bisa menghela nafas sambil mengutak-atik ponselnya untuk memesan tiket ke Munchen.
***
Sementara itu, Nala yang baru saja menelepon Calista tampak mendekat ke arah Zack. "Kau sudah menelepon orang tuamu?"
Nala pun menganggukkan kepalanya.
"Kau bisa pastikan kan, ayahmu tidak membunuhku kan?"
"Jadi kau takut pada Papa? Apa-apaan ini? Heloww, dimana predikat mafiamu, apa sudah luntur termakan jaman? Seorang mafia terbesar takut pada Leo Saputra? Apa kata dunia, Zack."
"Apa kau sudah lupa, ada pepatah yang mengatakan kalau mertua itu jauh lebih menakutkan daripada musuh paling berbahaya sekalipun."
"Pepatah darimana itu? Apa itu pepatah dari Negeri Wakanda..."
Belum sempat Nala melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Zack sudah mengangkat tubuhnya. "Apa-apaan ini, Zack. Kau mau membawaku kemana?"
"Ke kamar, aku mau berbulan madu denganmu."
"Apa, bulan madu? Yang benar saja, kita belum menikah!"
"Sebentar lagi kita menikah kan?"
"Astaga, dasar otak mesum..., cabullll..."
Bersambung...
__ADS_1
NOTE: Maaf up dikit, besok Insyaa Allah up lebih banyak. Terima kasih sudah mau menunggu.