Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Bukan Hal Yang Mudah


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaa..." Spontan Calista pun berteriak saat melihat laki-laki yang ditunjuk oleh Nala adalah Zack. Sedangkan Leo, juga tak kalah terkejut, namun dia hanya diam, dan menatap dengan sorot mata yang begitu tajam pada Zack yang saat ini sedang tersenyum getir padanya. Namun, tatapan mata itu terputus saat Leo mendengar teriakkan Nala.


"Aaaaa... Mama..." Leo kemudian mengalihkan pandangannya pada Calista yang kini sudah tidak sadarkan diri.


"Calista!" teriak Leo, dia kemudian mengangkat tubuh Calista. "Om, bawa Tante Calista ke mobil!" ujar Zack, yang mendapat tatapan tajam dari Leo. Meskipun Leo tak suka, tetapi mau tidak mau dia tetap harus masuk ke mobil Zack, selain agar Calista mendapatkan kenyamanan, dia juga ingin tahu mengapa tiba-tiba Nala bisa bersama Zack.


Suasana di dalam mobil terlihat begitu tegang. Leo tampak membelai rambut dan wajah Calista, sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke arah luar. Sementara itu, Nala yang tak menyangka jika reaksi Calista dan Leo akan seperti ini, kian dihantui kecemasan.


Dia pun hanya bisa diam, sambil sesekali tersenyum getir pada Zack, yang saat ini juga terlihat begitu tegang.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di apartemen yang ditempati oleh Zack dan Nala. Leo pun begitu terkejut melihat apartemen itu. "Jadi kalian tinggal di sini berdua? Kalian benar-benar keterlauan! Sebenarnya hubungan apa yang sedang kalian jalani?" tanya Leo sambil mengerutkan keningnya.


"Papa sebaiknya, bawa mama ke kamarku saja, Pa. Percayalah ini tidak seperti yang kalian duga, karena kami sedang menjalankan misi penting di sini," sambung Nala, untuk mengalihkan perhatian Leo.


"Misi?"


"Papa.., lebih baik kita urus mama terlebih dulu!"


Leo pun menghela napas, dia kemudian menaruh tubuh Calista di atas ranjang di kamar Nala. "Biarkan mamamu istirahat, sekarang aku ingin mendengar penjelasan kalian, terutama kau Zack!" bentak Leo.


"Baik Om."


Mereka lalu keluar dari kamar Nala, menuju ke ruang tengah unit apartemen tersebut. "Jangan banyak basa-basi cepat ceritakan padaku, kenapa putriku bisa bersamamu!"


"Sebelumnya maafkan saya Om, saya memang yang meminta Nala untuk ikut bersama saya ke sini untuk membebaskan adik saya yang disekap oleh adik tiri saya."


"APA? JADI KAU MENGUMPANKAN PUTRIKU PADA SEORANG PENJAHAT? LAKI-LAKI MACAM APA KAU INI!"


"Papa, itu bukan sepenuhnya salah Zack karena aku pun menyanggupi permintaannya itu."

__ADS_1


Leo lalu menatap Nala. "Apa? Kenapa kau jadi bodoh seperti ini Nala? Kau juga menyanggupi permintaan laki-laki tidak tahu diri itu? Apa kau sudah gila?"


"Papa.., aku melakukan ini karena dulu aku juga pernah menipu Zack. Jadi, kuanggap ini sebagai penebus rasa bersalahku padanya."


"Astaga, kau benar-benar gila, Nala. Kupikir kalian tidak pernah mengenal satu sama lain. Tapi ternyata ka..."


"Papa maafkan aku, aku memang dulu mendekati Zack untuk menyelamatkan Laurie, tapi bagaimana kalau ternyata takdir berkata lain, Pa? Bagaimana kalau pada akhirnya ternyata kami merasakan kenyamanan satu sama lain," potong Nala.


"Kenyamanan? Apa maksud dari perkataanmu, Nala? Apa yang kau maksud dengan kenyamanan? Apa kalian memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman?"


"Iya..." jawab Nala sambil menundukkan wajahnya.


"Aku benar-benar tidak mengerti," ucap Leo sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kemudian menatap Zack yang saat ini hanya bisa terdiam.


"Hei kenapa kau diam saja pecundang! Apa yang sebenarnya kau inginkan dari putriku!"


"APA! Berani sekali kau mendekati putriku saat kau masih menjadi suami dari saudara sepupunya sendiri. Lalu sekarang kau mau menikahi putriku? Apa kau sudah gila? Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan putriku menikah denganmu!"


"Papa, tolong jangan selalu memojokkan Zack. Bukankah papa tahu kalau aku yang mendekati Zack terlebih dulu. Memangnya ada apa dengan Zack? Dia sangat baik padaku, Pa."


"Bisa-bisanya kau bertindak seperti itu, Nala! Kau benar-benar memalukkan! Dimana harga dirimu! Kau ini wanita Nala!"


"Cukup Leo!" teriak sebuah suara dari seorang wanita yang saat ini sedang berjalan mendekati mereka.


"Mama!" Nala kemudian mendekat ke arah Calista lalu memeluk tubuhnya.


"Tolong kau jangan rendahkan harga diri putrimu seperti itu. Dia juga punya hati. Lalu, apa kau sudah lupa bagaimana awal kedekatan kita dulu? Apa kau sudah lupa bagaimana statusmu dulu? Bukankah saat itu, aku mendekatimu padahal kau sudah berstatus sebagai tunangan Olivia? Lalu, kita juga menjalani hubungan di belakang Olivia. Apa kau sudah lupa akan semua hal itu, Leo?"


Leo pun hanya terdiam. "Jadi ini artinya kau merestui hubungan mereka, Calista? Apa kau rela putri kita satu-satunya menikah dengan mafia seperti dirinya? Ini benar-benar memalukkan!"

__ADS_1


"Leo, ini memang bukan hal yang mudah. Karena setiap orang tua pasti menginginkan putrinya mendapatkan pasangan yang baik di mata mereka. Dan, memang menurutku Zack bukan yang terbaik bagi Nala. Tapi, bagaimana kalau yang Nala cintai itu Zack? Jika Zack mau berjanji untuk membahagiakan Nala, kenapa tidak? Bukankah dari sebuah hubungan pernikahan itu yang terpenting adalah kebahagian?"


"Tapi Calistaaa..."


"Leo, aku juga kaget dengan hubungan yang terjalin diantara kita berdua. Tapi, kalau Nala bahagia dengan keputusannya. Kenapa kita harus mencegah kebahagiaan putri kita sendiri, Leo?"


"Tidak Calista. Aku tidak bisa... Aku tidak bisa merestui putriku dengan laki-laki seperti dia! Terlalu sulit bagiku untuk menerima dia sebagai menantuku. Aku bahkan masih ingat bagaimana dia dengan angkuhnya mengancam Kenan, hampir saja membunuh Vansh, dan membuat Laurie tertekan!"


"Jadi Papa tidak mau merestui hubungan kami?" tanya Nala dengan wajah sayu.


"Tidak, dan tidak akan pernah terjadi!"


"Tapi Papa harus merestui hubungan kami!" sanggah Nala.


"Bukankah Papa sudah bilang tidak, Nala."


"Om, jika dulu perilaku saya begitu buruk di mata, Om. Tolong beri saya kesempatan untuk menunjukkan kalau saya pun bisa jadi suami yang bertanggung jawab untuk, Nala. Sekaligus memperbaiki sikap dan kesalahan saya pada keluarga kalian."


"Jangan pernah bermimpi!"


"Papa! Kenapa Papa jahat sekali padaku! Bagaimanapun juga Papa harus menyetujui hubunganku dengan Zack, karena...."


"Karena apa?"


"Karena aku sedang mengandung anak Zack!"


PLAK


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2