
Zack kemudian mengikuti mobil Gerald yang saat ini sedang melaju di jalanan kota. "Ini sudah malam! Mau kemana mereka malam-malam seperti ini!" gerutu Zack saat mengikuti mobil itu.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah yang ada di pusat kota. "Apa-apaan ini? Kenapa mereka malah berkencan? Dasar Gerald tidak punya hati, bukankah adik dari wanita yang ditolongnya itu sedang terluka? Kenapa dia malah membawanya ke rumah makan mewah seperti ini?" gerutu Zack sambil mengamati gerak-gerik Gerald dan Nala yang saat ini sedang masuk ke dalam rumah makan tersebut. Zack kemudian ikut masuk ke dalam rumah makan itu, dan duduk di tempat yang cukup jauh dari Gerald dan Nala, tapi dia masih bisa mengamati keduanya.
Sementara itu, Nala yang terkejut karena Gerald tiba-tiba membawanya ke sebuah rumah makan, tampak duduk dengan begitu canggung. "Kau kenapa?" tanya Gerald saat melihat Nala yang tampak resah.
"Gerald, kenapa tiba-tiba kau membawaku ke rumah makan seperti ini? Bukankah kau tahu adikku sedang sakit? Mengapa kita malah makan di tempat yang mewah seperti ini?"
"Caca, bukankah kau tadi sudah mendengar perkataan dokter kalau adikmu baik-baik saja? Mungkin saat ini dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dan beristirahat dengan nyaman ditemani oleh anak buahku."
"Tapiiii..."
"Tidak ada tapi-tapian Caca, malam ini kau harus menemaniku makan malam, hm?"
Nala pun tersenyum kecut, terpaksa dia mengikuti keinginan Gerald untuk menemaninya makan malam. Dengan berat hati, dia juga harus meladeni Gerald bercakap-cakap saat menunggu hidangan makan malam mereka datang. Entah mengapa, Nala merasa kurang nyaman saat berada di samping Gerald. Bagi Nala, Gerald terlalu angkuh dalam menggambarkan dirinya, seolah-olah dia begitu hebat dan memiliki kekuasaan.
"Sebentar Ca," ucap Gerald saat melihat ada saos di atas bibir Nala. Dia kemudian membersihkan saos di wajah Nala, yang sontak membuat Nala terkejut.
"Terima kasih, Gerald."
"Iya, Ca."
Zack yang melihat Gerald menyentuh wajah Nala, kian tersulut emosinya. "Apa-apaan ini, lancang sekali! Baru pertama bertemu saja sudah berani menyentuh wajahnya. Aku saja yang sudah lama mengenalnya baru berani menciumnya beberapa hari yang lalu! Bedebah kau, Gerald!"
Zack kemudian mengambil ponselnya, lalu menelepon anak buahnya. "Sekarang lihat apa yang akan terjadi karena sudah berani menyentuh wanita siluman itu!" ujar Zack setelah selesai menelepon anak buahnya.
Setelah selesai menikmati makan malam, ponsel Gerald tiba-tiba berbunyi. Dia kemudian mengangkat panggilan ponsel itu yang ternyata dari anak buahnya.
"Halo ada apa?" ucap Gerald.
Namun, saat mengangkat panggilan telepon itu tiba-tiba raut wajah Gerald pun berubah. Dia tampak mengerutkan keningnya sambil mengangkat salah satu alisnya disertai raut wajah yang terlihat begitu kesal. Nala yang baru melihat perubahan wajah Gerald pun merasa penasaran.
__ADS_1
"Ada apa Gerald?" tanya Nala setelah Gerald menutup panggilan telepon dari anak buahnya.
"Caca, sepertinya kita harus pergi sekarang. Ada sesuatu hal buruk yang terjadi di rumahku."
"Ada sesuatu yang buruk? Apa itu Gerald?"
"Ada orang iseng yang melempar botol yang disumpal kain dan berisi bensin ke salah satu pojok rumahku, hingga membuat rumahku mengalami kebakaran."
"Astaga, jadi rumahmu kebakaran?"
"Iya Ca."
"Kalau begitu, kau langsung pulang ke rumah saja, Gerald.
"Tidak Ca, kau datang bersamaku, jadi aku harus mengantarmu lebih dulu ke rumah sakit sebelum aku pulang."
"Tapi bagaimana dengan keadaan rumahmu, Gerald?"
"Oh begitu."
"Iya, kalau begitu ayo kuantar ke rumah sakit sekarang."
Nala pun mengikuti kemauan Gerald untuk diantar ke rumah sakit terlebih dulu sebelum Gerald pulang. "Emhhhh.., Gerald bisakah anak buahmu kau suruh pulang saja saat aku sudah sampai di ruang perawatan adikku? Maafkan aku Gerald, aku sedikit kurang nyaman kalau ada anak buahkmu saat aku menunggu adikku."
"Oh tenang saja, itu bisa diatur, Ca."
"Terima kasih," jawab Nala. Sepanjang perjalanan itu, Gerald tidak terlalu banyak bicara, tidak seperti saat mereka pergi, mungkin dia sedang memikirkan apa yang terjadi di rumahnya. Nala tahu, jika semua itu pasti ulah Zack, karena Zack sudah berulang kali protes lewat pesan yang dia kirimkan pada Nala sejak mereka pergi ke rumah makan itu.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit tempat Leon dirawat. "Ca, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke dalam."
"Tidak apa-apa, Gerald. Lebih baik kau pulang saja sekarang."
__ADS_1
"Iya Ca, see you tommorow."
"See you tomorrow, Gerald."
Nala kemudian masuk ke dalam rumah sakit, namun saat sedang berjalan, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah tangan kekar yang menarik lengannya. "Zack!"
"Iya aku."
"Zack, anak buah Gerald masih ada di sini."
"Makanya kita masuk ke mobilku sekarang!"
"Ke mobil? Memangnya ada apa harus ke mobil?"
"Sudah diam saja! Lebih baik kau ikuti perkataanku!" perintah Zack sambil menarik Nala ke basemen.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di basemen, tempat Zack memarkir mobilnya. "Ayo masuk, Nala."
Nala pun masuk ke mobil Zack, diikuti Zack yang duduk di sampingnya. "Ada apa sebenarnya, Zack? Apa kau tidak takut kalau ada anak buah Gerald yang mengetahui keberadaanmu?"
"Diam kau wanita siluman!"
Zack kemudian mendekat ke arah Nala, lalu menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang begitu dalam.
"Zack.., kamu kesurupan? Atau lagi cacingen?"
"Astagaaa.., kau memang benar-benar menyebalkan."
"Baiklah, kalau aku menyebalkan lebih baik aku turun saja," ucap Nala. Dia kemudian membalikkan tubuhnya ke arah pintu mobil, namum saat Nala akan membuka pintu mobil itu, tiba-tiba Zack menarik lengannya kembali hingga membuat Nala berhadapan dengan Zack. Dan saat tubuh mereka berhadapan, tiba-tiba Zack mendekat ke arahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Nala, kemudian memaggut bibir itu.
"Emphht...."
__ADS_1