
Olivia lalu menatap Laurie yang didorong oleh Alvaro keluar dari ruang perawatan itu. Sebenarnya Olivia merasa sedih harus berpisah kembali dari Laurie. Tapi, ini semua demi kebaikannya. Ya, sebenarnya Laurie sudah sadarkan diri dan setelah Nala menghubunginya tadi, Alvaro yang sudah jatuh cinta pada Laurie berinisiatif membawanya pergi.
"Huftttt... "
Olivia pun menghembuskan nafas panjangnya, lalu menghapus air mata yang mulai keluar dari sudut matanya. Tiba-tiba pintu perawatan itu pun terbuka. Mendengar pintu yang terbuka, Olivia lalu berpura-pura menangis sambil berteriak.
"LAURIE!" teriak Olivia histeris sambil berlinang air mata.
"LAURIE! KENAPA KAU MENINGGALKANKU, NAK! LAURIIIEEEEEE, hu.., hu.., hu..," isak Olivia sambil melirik ke arah Zack yang kini terlihat panik. Dia kemudian mendekat ke arah Olivia yang saat ini terlihat menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai sambil terus menangis dan berteriak.
"Mama, apa yang sebenarnya telah terjadi, Ma?" tanya Zack. Olivia pun melirik ke arah Zack, lalu menatapnya dengan tatapan sinis.
"INI GARA-GARA KAU! INI GARA-GARA KAU LAKI-LAKI BIADAB!"
"Mama, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi. Dimana Laurie, Ma? Kenapa dia tidak ada di atas brankar itu?"
"KAU TANYA PADAKU DIMANA LAURIE, HAH? SEMUA INI TERJADI KARENAMU! SEMUA TERJADI KARENAMU! SEKARANG DIA PERGI, LAURIE PERGI KARENA TIDAK MAU BERTEMU DENGANMU! LAURIE PERGI KARENA INGIN LEPAS DARIMU!"
"Apa maksud, Mama? Jadi Laurie sudah sadarkan diri?"
"Ya, dia sudah sadarkan diri tapi dia pergi dari rumah sakit ini! Dan semua ini terjadi karenamu! Dia melakukan semua itu karena ingin lepas darimu! Apa kau belum juga sadar, kau sebenarnya telah menyakiti putriku! Kau telah membuat putriku tertekan hingga melarikan diri seperti ini! Coba pikir bagaimana nasib Laurie? Saat ini dia pasti sedang lontang-lantung di jalanan. Dia bahkan tidak membawa uang sepeser pun. Coba kau pikir, bagaimana menderitanya putriku di luar sana? Hidup kelaparan dan tidak punya tempat untuk berteduh, tapi dia lebih memilih semua penderitaan itu daripada hidup denganmu! Sekarang kau mengerti kan bagaimana menderitanya putriku hidup bersamamu!"
Mendengar perkataan Olivia, Zack pun hanya bisa terdiam cukup lama, hingga beberapa saat kemudian suara lirih pun terdengar dari bibirnya. "Maafkan aku, Ma," ucap Zack lirih. Dia kemudian berjalan meninggalkan ruang perawatan itu dengan tatapan kosong.
***
__ADS_1
Zack tampak masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah begitu murung. Nala yang saat itu sedang menyantap makan siang pun merasa terkejut dengan perubahan wajah Zack.
'Ada apa dengan raja iblis itu? Kenapa tiba-tiba wajahnya tambah seperti iblis saja?' batin Nala. Dia pun hanya mengamati langkah lemas Zack yang saat ini berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Aneh sekali, apa dia tidak ingin menyapaku? Kenapa dia melewatiku begitu saja? Apa matanya sudah buta tidak bisa melihat bidadari kahyangan seperti ini?" gerutu Nala kembali.
Dia kemudian buru-buru mengikuti langkah Zack. "Tuan!" panggil Nala saat sudah berdiri di belakang Zack.
"Aku sedang tidak ingin diganggu," balas Zack datar.
"Apa sesuatu terjadi pada anda? Kenapa wajah anda seperti itu?"
Namun Zack tetap diam dan meninggalkan Nala begitu saja.
****
Jarum jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang, Nala tampak keluar dari kamar untuk makan siang. Namun, saat dia sudah sampai di meja makan, meja itu tampak kosong. Hanya ada seorang pembantu rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.
'Kenapa Zack belum juga turun? Apa dia tidak lapar? Bukankah sejak kemarin dia belum makan? Apa orang itu sudah berubah menjadi Superman yang sanggup tidak makan untuk berhari-hari?' batin Nala.
"Bi, apa Tuan Zack belum turun?" tanya Nala pada pembantu yang sedang menyiapkan makan siang tersebut.
"Belum Nona, bukankah sejak kemarin Tuan Zack juga belum keluar kamar?"
"Jangan-jangan dia benar-benar marah padaku? Atau dia benar-benar bunuh diri? Ah tidak ini tidak boleh terjadi kalau dia benar-benar mati pasti keseimbangan dunia akan kacau! Dia seorang pimpinan mafia, tidak boleh mati begitu saja karena cinta. Kalaupun mati, lebih baik dia mati dengan cara yang lebih keren sedikit, misalnya perkelahian dengan sesama mafia. Atau ditangkap oleh Pak Presiden. Kalau begitu lebih baik coba kulihat dulu dia sekarang!" ujar Nala. Dia kemudian naik kembali ke lantai atas lalu berjalan ke arah kamar Zack.
__ADS_1
Saat dia membuka pintu kamar Itu tampak Zack sudah terkapar di atas lantai. "Astaga! Apa dia benar-benar mati?" teriak Nala. Dia kemudian mendekat ke arah Zack dan mengamatinya sebentar, lalu melihat Zack yang masih bernafas.
"Ah ternyata belum mati, mungkin cuma pingsan berarti masih bisa diselamatkan. Keseimbangan dunia pun belum goyah, kalau tidak aku malu bekerja pada mafia lemah seperti ini. Ck, bagaimana ini dia jangan sampai mati! Ah begini saja, lebih baik kubawa saja ke rumah sakit sekarang. Biar dokter yang mengurusnya, kalau aku yang mengurusnya nanti dia benar-benar mati dan aku jadi tersangkanya? Ah ini tidak lucu!"
Nala kemudian memanggil beberapa anak buah Zack yang ada di lantai bawah untuk pembawa Zack pergi ke rumah sakit. Zack lalu dibawa anak buahnya masuk ke dalam mobil, ditemani Nala dan dua orang anak buahnya.
Saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, sekilas Nala melirik Zack yang saat ini duduk terkulai lemas di jok belakang. Raut wajahnya tampak begitu pucat, melihat keadaan Zack saat ini, Nala pun merasa kasihan. Tapi saat mengingat kembali kejahatan Zack yang sudah membunuh Derick serta membuat Laurie koma, rasa kesal pun kembali merasuk ke hati Nala, dia pun merutuki keadaannya saat ini.
'Ah sebenarnya keadaan laki-laki itu sangat menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi? Dia memang pantas mendapatkan itu, dia sudah sepantasnya melepaskan Laurie. Tapi melihat kondisi dia yang seperti ini, ada baiknya aku membicarakan ini pada Tante Olivia. Mungkin saja Laurie mau menjenguknya,' batin Nala.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di rumah sakit, Zack langsung mendapat penanganan dari dokter, sedangkan Nala dan beberapa anak buahnya tampak menunggu di depan ruang emergency. Tak berapa lama, seorang dokter pun keluar dari ruang emergency tersebut.
"Dengan keluarga Tuan Zack?"
"Ya, kami keluarganya. Bagaimana keadaannya Dokter?"
"Dia sebenarnya baik-baik saja, hanya kekurangan cairan dan asupan makanan, sehingga kadar tekanan darah dan hemoglobinnya turun. Dia hanya perlu istirahat total saja di rumah sakit ini."
"Oh, jadi dia tidak apa-apa kan, Dok?"
"Tidak apa-apa, sebentar lagi juga bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Anda bisa menunggunya di ruang perawatan."
"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih banyak, Dok."
"Iya, saya permisi dulu."
__ADS_1
Dokter tersebut kemudian meninggalkan Nala. Tak berapa lama, Zack pun dipindahkan ke ruang perawatan, Nala yang kelelahan akhirnya tidur di atas sofa, dan meletakkan ponselnya di atas nakas begitu saja.