
Zack kemudian bangkit dari atas sofa, dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi, dia merebahkan tubuhnya di samping Nala sambil mengutak-atik ponselnya, lalu menempelkan ponsel itu di telinganya, untuk menelepon anak buahnya, dan memantau perkembangan bisnisnya.
Cukup lama Zack menelepon Nick, hingga setengah jam kemudian, dia tampak menutup telepon itu, bersamaan dengan Nala yang mulai terbangun. "Kau bangun?"
"Aku lapar, Tuan Mafia."
"Kau mau makan?"
Nala pun menganggukkan kepalanya. "Sebentar aku pesankan, kau mandi dulu saja wanita siluman."
Mendengar perkataan Zack, Nala pun memonyongkan bibirnya ala duck face. "Kenapa bibirmu seperti itu? Apa kau mau kucium lagi?"
"Bukan ituuuu...."
"Lalu?"
"Bukankah kau mengatakan ingin menikahiku? Kalau kau mau menikahiku, kenapa kau masih saja menyebutku dengan wanita siluman?"
Zack pun terkekeh mendengar perkataan Nala. "Lalu kau ingin aku menyebutmu dengan apa? Hm?"
"Kau pikir saja sendiri? Bukankah kau yang mengatakan kalau mulai hari ini kita pacaran? Lalu, kau sendiri yang bingung mau menyebutku dengan apa."
Zack pun tersenyum. "Apa kau mau kupanggil dengan sebutan sayang?"
Nala pun tersenyum. "Baiklah kalau begitu, lebih baik kau mandi dulu, Sayang."
Nala pun tersenyum, kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dia kemudian menatap wajahnya di cermin. "Pacar? Astaga, ini rasanya seperti mimpi. Sekarang aku berpacaran dengan Zack? Bahkan sudah memberikan kesucianku padanya? Ini benar-benar tidak bisa masuk dalam logikaku! Bukankah seharusnya aku membenci Zack? Kenapa tiba-tiba perasaanku berubah padanya? Huft, mungkin benar kata orang kalo perbedaan antara benci dan cinta itu tipis. Tapi, kenapa aku harus jatuh cinta pada duda mafia karatan itu? Astaga, lalu apa yang harus kukatakan pada Laurie? Aku malu saat nanti aku mengatakan kalau aku jatuh cinta pada mantan suaminya."
Nala pun menghela napas. "Ah, begini saja nanti saat aku bertemu dengan keluargaku, aku bilang saja kalau duda mafia karatan itu yang memaksaku untuk menikah dengannya," ucap Nala, bermonolog pada dirinya sendiri.
Setelah selesai mandi, Nala kemudian menghampiri Zack yang saat ini sudah menunggunya dengan berbagai macam makanan yang sudah ada di meja. Nala pun menatap Zack lekat. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku sangat tampan?"
"Cihhhh..."
__ADS_1
"Kalau aku tidak tampan, kau tidak mungkin takut kehilanganku kan? Bahkan kau sampai cemburu pada Athena. Athena itu adikku, aku tidak mungkin menikah dengannya," gerutu Zack.
"Tapiiii, bagaimana kalau Athena menyukaimu?"
"Ck, tidak mungkin. Sejak dulu, kami sudah tumbuh besar bersama, sebagai saudara. Tidak mungkin Athena jatuh cinta padaku!"
Nala pun menghela napas, mencoba menyadari jika mungkin saat ini Zack memang belum mempercayai kata-katanya karena Nala tidak mempunyai bukti apapun.
"Kenapa kau diam?"
"Emh begini Zack, kau tahu kan tadi aku sudah bertemu dengan Athena?"
"Ya, lalu ada apa?"
"Zack, tadi Athena menceritakan padaku kalau satu minggu lagi, Gerald akan pergi ke Asia."
"Apa? Jadi, dia mau pergi ke Asia?"
"Iya Zack, dan kita punya kesempatan untuk membebaskan Athena saat Gerald pergi."
"Besok, aku akan mengajak Gerald pergi ke rumahnya lagi. Aku ingin mempelajari seluk beluk rumah itu."
"Bagus Nala, kau memang sangat pintar."
"Tentu saja, aku kan wanita terjenius sepanjang masa. Apa kau bangga punya pacar sepertiku?"
Zack pun tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Nala. "Kenapa mau tidak menjawab, Tuan Mafia?"
"Baiklah aku bangga punya pacar sepertimu, Nalaku sayang...."
"Bagus, kalau begitu, kapan kau mau menikahiku?"
"Apa menikah? Uhukkkk..., uhukk...," teriak Zack, bahkan sampai mengeluarkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa kau terkejut seperti itu? Bukankah kau yang mengatakan kalau kau akan menikahiku?"
"I-iya..."
"Kalau begitu, aku mau kau menikahiku secepatnya! Aku ingin kau menikahiku sebelum kita membebaskan Athena! Bagaimana?"
"Tapi itu tidak mungkin, Nala. Jadi maksudmu kau ingin aku menikahimu dalam waktu dekat? Dalam kurun waktu satu minggu ini? Ini benar-benar tidak mungkin."
"Tidak mungkin? Kenapa?"
"Nala, kau tahu kan ada banyak hal yang harus dipersiapkan saat kita menikah?"
"Banyak hal yang harus dipersiapkan bagaimana? Kau saja bisa menikahi Laurie dalam waktu dua hari, tanpa persiapan apapun kan? Jadi, itu artinya jauh lebih spesial Laurie di hatimu dibandingkan aku?"
"Bukan begitu, Nala. Kau tahu kan kita sedang di luar negeri? Pasti akan sulit mengurus surat-suratnya."
"Helowww Tuan Mafia, kita bisa nikah agama dulu, kan? Pokoknya sebelum membebaskan Athena, aku minta kamu nikahin aku dulu!"
"Harus?"
"Harus! Kalau kau tidak mau menikahiku dalam waktu dekat, aku juga tidak mau membantumu membebaskan Athena!"
Zack pun terdiam, tampak berfikir sejenak lalu menghela nafasnya. "Baiklah, aku akan menikahimu! Tiga hari lagi kita menikah!"
"Hahahahaa, ini sangat bagus Tuan Mafia, kalau begitu aku hubungi orang tuaku dulu."
"Apa? Orang tuamu? Jadi maksudmu aku harus berhadapan dengan Papamu yang preman itu?"
"Apa? Kau sebut Papa preman? Apa kau sudah lupa, kalau kau itu bahkan seorang mafia? Dasar ambigu! Wajah dan kata-katamu selalu saja ambigu! Kalau begitu aku tidak mau membantumu!"
Zack pun mengusap wajahnya dengan kasar. "Baiklah beri tahu orang tuamu!"
"Bagus," balas Nala, sedangkan di dalam hati, Nala hanya bergumam. "Kau mengatakan ingin menikah dengan Zack kan, Athena? Sayangnya aku sudah mencuri start terlebih dulu, dan takkan kubiarkan kau mengambil kesempatan sedikitpun."
__ADS_1
Namun, saat akan menghubungi orang tuanya, tiba-tiba ponsel Nala berbunyi, dan melihat nama Athena di layar ponsel itu. 'Kenapa Athena berani meneleponku? Bukankah Gerald menyadap ponselnya?" batin Nala.
Bersambung...