
Sebenarnya Zack pun masih terkejut melihat perubahan sikap Nala yang tiba-tiba menurut padanya. Bahkan, Nala terlihat begitu menikmati ciuman panas itu, apalagi saat Zack melilitkan lidahhnya, bertukar saliva, menggigit bibirnya, hingga legguhan lirih Nala berulang kali terdengar, diantara kecapan bibir basah mereka yang menggema di seluruh mobil. Cukup lama mereka berciuman, hingga Nala baru melepaskan ciuman itu saat dia mulai kehabisan oksigen.
Setelah Nala melepaskan ciuman itu, Zack pun menatap wajah cantik Nala yang kini tampak merona, di sela nafas keduanya yang masih terdengar begitu menderu. "Ciuman yang sangat menyenangkan, wanita siluman."
Nala pun hanya terdiam, lalu menundukkan wajahnya. "Kenapa? Kenapa kau terlihat malu-malu seperti itu? Apa artinya kau mulai menyukaiku?"
"Astaga, jangan terlalu percaya diri, Tuan Mafia!"
"Lalu, kalau kau tidak menyukaiku, kenapa kau begitu menikmati ciuman kita? Bagaimana ciumanku, Sayang? Sangat dahsyat kan?"
"Tuan mafia, memangnya aku bisa apa? Mau tidak mau, bukankah aku wajib membalas ciumanmu? Apa kau sudah lupa saat aku tidak membalas ciuman darimu, kau selalu memaksaku untuk membalasnya? Bukankah aku tidak punya pilihan saat aku sedang bersamamu? Semua yang kulakukan itu atas keinginan dan paksaan darimu, tidak lebih! Kau pikir aku ikhlas? Tidak, cih!"
Zack pun tersenyum kecut, beberapa saat yang lalu, rasanya dia begitu bahagia melihat sikap Nala, yang membuatnya berfikir jika saat ini Nala mulai menyukainya. Namun, rasa percaya diri itu kini terasa dihempas begitu saja saat Nala mengatakan kalau dia membalas ciuman itu karena dia tidak punya pilihan. Dan, Nala memang benar, selama ini dirinyalah yang selalu memaksa Nala agar mau meladeninya. Entah mengapa mendengar perkataan Nala hati Zack rasanya begitu sakit, hingga membuat tubuhnya bergetar menahan rasa sakit itu.
Zack pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengendarai mobilnya keluar dari basemen rumah sakit, menyusuri padatnya jalanan kota Munchen. Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Melihat sikap Zack yang tiba-tiba berubah, Nala pun melirik ke arah Zack yang terlihat fokus mengendarai mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah gedung apartemen yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat Leon dirawat. Detik itu juga, Nala pun menyadari jika Zack telah mempersiapkan semuanya dengan rapi, mulai Leon yang dia perintahkan agar menembak dirinya sendiri agar Gerald percaya, jika Leon benar-benar terluka, dan memang kenyataannya kaki Leon terluka olehnya, bukan karena dilukai perampok. Lalu, pihak rumah sakit dan apartemen yang dekat dengan bandara yang pastinya memudahkan mereka saat membawa Athena pergi. Dalam hati terdalamnya, Nala mengakui kehebatan Zack. Dia pun melirik ke arah Zack yang saat ini berjalan di sampingnya, namun Zack tampak berjalan dengan begitu tenang dan dingin, seolah dia sedang berjalan sendiri.
"Itu kamarmu, bersihkan dirimu lalu kau boleh beristirahat. Kalau kau lapar, kau bisa memesan makanan secara online. Ini aku sudah punya katalog menu makanan beberapa rumah makan yang ada di sekitar apartemen ini," ucap Zack pada Nala. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Nala yang masih termenung menatap kepergiannya ke dalam kamar. Dengan langkah lemas, akhirnya Nala pun masuk ke dalam kamarnya, lalu mandi di dalam bathtub yang sudah ditambahkan cairan aromatherapy. Satu jam kemudian, Nala pun keluar dari kamarnya. Namun, apartemen itu tampak sepi.
"Apa Zack belum keluar dari kamar?" gumam Nala. Dia kemudian mengetuk pintu kamar Zack.
Tok tok tok
"Zack..."
__ADS_1
"Zack..."
"Ada apa, Nala?" jawab Zack dari dalam kamar.
"Zack, aku mau pesan makanan. Kau mau pesan apa?"
"Aku tidak lapar."
Nala pun tertegun mendengar perkataan Zack. "Tidak lapar? Bagaimana mungkin? Bukankah biasanya dia selalu banyak makan? Ah sudahlah mungkin dia belum lapar, lebih baik kupesankan saja makanan untuknya," gumam Nala.
Nala kemudian memesan makanan untuk dirinya, dan Zack. Tak berapa lama, makanan itu pun datang. Nala yang sudah lapar, bergegas memakan fast food yang dipesan olehnya. Namun, sampai Nala menghabiskan makanan itu, Zack belum juga keluar dari kamarnya.
"Kenapa duda mafia itu belum juga keluar dari kamarnya? Oh God, aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu kembali terulang, saat dia pingsan gara-gara patah hati. Oh tidak, sepertinya aku harus memaksanya makan agar dia tidak mengalami kejadian serupa. Apa kata dunia kalau seorang mafia besar yang wajah dan kata-katanya selalu ambigu sampai dua kali pingsan karena kelaparan. Ini sungguh sangat memalukan, sekaligus memilukan," sambung Nala. Dia kemudian berjalan ke arah kamar Zack lalu mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok
Tok tok tok
Saat Nala memasuki kamar itu, tampak Zack yang saat ini sedang duduk di dekat jendela, menatap salju yang ternyata mulai turun. Salju di awal musim dingin telah turun, musim dingin yang datang lebih awal atau memang musim panas yang perginya terlalu cepat, Nala tak peduli itu, karena yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah sikap Zack yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam.
"Ada apa?" tanya Zack saat Nala sudah didekatnya.
"Aku sudah memesan makanan untukmu, Zack."
"Terima kasih, tapi aku belum lapar. Maaf Nala, aku sedang ingin sendiri, maukah kau meninggalkanku?"
__ADS_1
Deg..
Nala pun semakin terkejut melihat perubahan sikap Zack, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. "Kenapa kau diam?"
"E-emhhh..., Zack apa kau baik-baik saja?"
"Memangnya apa pedulimu? Bukankah semua yang kau lakukan itu atas perintahku? Dan sekarang aku memerintahkanmu keluar dari kamar ini! Cepat keluar!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Aku mau menemanimu disini, aku juga ingin melihat salju bersamamu, Tuan Mafia," ujar Nala, lalu duduk di samping Zack.
Sudah hampir setengah jam Nala duduk, tapi Zack tetap saja diam, bahkan seolah-olah tidak memedulikan Nala yang saat ini duduk di sampingnya.
"Kenapa kau diam saja, Tuan Mafia?"
"Memangnya aku harus apa?"
"Baiklah kalau begitu, aku kembali ke kamar saja!" gerutu Nala sambil mendengus kesal. Saat Nala beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Zack menarik tangannya, hingga membuat tubuh Nala terhempas ke pelukannya.
"Cepat katakan, aku harus bagaimana?"
Nala pun terdiam, hanya menatap Zack dengan tatapan sayu. "Katakan aku harus bagaimana, Nala?"
Nala kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Zack lalu mengecup bibirnya. "Seperti ini, seperti yang biasa kau lakukan padaku."
"Bukankah kau tidak menyukai itu?"
__ADS_1
Nala pun kembali terdiam, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Zack, dan memaggut bibirnya, dengan ciuman yang begitu bergairah. Mendapat ciuman dari Nala, Zack pun begitu bahagia, dia membalas ciuman Nala, sambil mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.
Bersambung....