Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Badai


__ADS_3

Mendengar teriakkan Gerald, Athena sempat terkejut dibuatnya. Dia kemudian menelan salivanya dengan kasar sembari kembali menangis. "Tuhan, kenapa kami jadi seperti ini? Apakah tidak ada lagi kesempatan bagi kami bertiga untuk bisa tertawa bersama seperti dulu?"


Athena kemudian menatap kembali foto Zack di ponselnya. "Kak Zack, aku sangat merindukanmu tapi aku bisa apa? Untuk mendengar suaramu saja aku pun tak bisa, bahkan benda ini seakan tidak berguna karena Kak Gerald sudah menyadap ponsel ini hingga aku sama sekali tak bisa menghubungimu," sesal Athena yang kembali hanyut dalam isak tangisnya.


***


Malamnya...


Zack tampak mondar-mandir di lobi bandara sambil beberapa kali melihat arlojinya. "Ck, dimana wanita siluman itu? Kenapa lama sekali!"


Baru saja selesai mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba sosok wanita dengan mengenakan bodycon dress dan sedang mendorong koper serta membawa mantel yang dia sampirkan di lengannya tanpak mendekat ke arahnya.


Melihat penampilan wanita itu, seketika Zack menelan salivanya dengan kasar. Apalagi ketika tatapan mereka bertemu, kedua mata beriris coklat itu seakan tak bisa memutus pandangan matanya.


"Shhhit, kenapa dia tampak cantik sekali," gumam Zack.


"Zackkkkk! Helowwwww!" panggil Nala yang membuyarkan lamunan Zack.


"Kau lama sekali wanita siluman! Aku sudah lama menunggumu di sini."


"Maaf, tadi aku menunggu papa pulang."


"Cih! Ayo cepat pergi sekarang!"


Nala kemudian mengikuti langkah Zack sambil menggerutu. "Dasar duda mafia karatan! Aku tahu tadi kau terpesona pada kecantikanku! Matamu saja tidak berkedip saat melihatku! Tapi kau malah membentakku! Kau terlalu munafik, Zack. Lagipula mana ada laki-laki yang bisa menolak pesona wanita secantik diriku ini. Pantas saja Laurie tidak pernah bisa mencintaimu! Kau memang sangat kasar! Astaga, aku bisa gila dan kecantikanku memudar kalau hidup dengannya beberapa bulan ini."


Nala pun mengikuti langkah Zack dengan tatapan kosong. "Sepertinya aku harus berbuat sesuatu agar dia tidak selalu mengancamku. Aku tidak mau mati konyol di tangan mafia menyedihkan itu."

__ADS_1


Sepanjang berjalan menuju ke jet pribadi Zack, Nala pun tampak berfikir hingga dia tak menyadari jika ada seorang laki-laki yang berjalan di belakangnya dengan menggunakan bantuan tongkat jalan dan baru menyadarinya saat mereka masuk ke dalam jet. Melihat laki-laki asing itu, spontan Nala pun berteriak.


"AAAAAAAA KAU SIAPA? APA KAU PENYUSUP?" teriak Nala saat mereka masuk di dalam jet pribadi milik Zack.


"Hei wanita siluman, dia anak buahku, Leon. Dia yang akan membantumu untuk membebaskan Athena saat di Munchen nanti!"


Nala pun membulatkan bibirnya. "Oh, kupikir dia penyusup."


"Sudah cepat duduk! Sebentar lagi take off."


Nala kemudian duduk di belakang Zack. Namun Zack buru-buru mencekal tangannya. "Siapa yang menyuruhmu duduk di situ? Kau duduk harus duduk di sampingku!"


Nala pun menuruti perkataan Zack, dia kemudian duduk di samping Zack sambil menggerutu lirih. "Ini pasti sangat membosankan. Butuh waktu selama enam belas jam untuk sampai di Munchen dan aku harus duduk di samping laki-laki seperti dia? Semoga gendang telingaku tidak pecah mendengar teriakannya!"


"Apa kau bilang?"


"Kenapa? Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa karena aku mengatakan kau tampan? Astaga..."


"Tidak, tapi karena kau menginjak kakiku. Lihat ke bawah!" bentak Zack. Spontan Nala pun melihat ke arah bawah dan melihat kakinya yang menginjak Zack.


"Hahahhahhahaha..., maafkan aku Pak Duda," ucap Nala sambil terkekeh. Lalu duduk begitu saja, membiarkan Zack yang masih menatapnya dengan begitu kesal.


Tak berapa lama, terdengar suara dari seorang pramugari yang memberikan peringatan bahwa mereka akan melakukan lepas landas.


****


Lima jam kemudian, tiba-tiba sebuah guncangan di dalam jet itu pun seketika menyentak Nala yang sedang menonton film, sementara Zack yang sedang terlelap pun seketika membuka matanya.

__ADS_1


"Aaaaaaaa!" teriak Nala.


"Ada apa ini?" sambung Zack. Di saat itulah mulai terdengar pengumuman dari pilot jika di depan ada badai yang sedikit menggangu penerbangan, hingga mereka harus mengubah rute ataupun berputar sebentar sampai badai itu pergi.


Nala pun panik, seketika tangannya pun memegang tangan Zack karena takut saat jet itu kembali berguncang.


"Zack kenapa masih saja bergetar? Aku takut, aku baru pernah mengalami situasi seperti ini selama penerbangan," ujar Nala sambil memegang tangan Zack.


Zack pun menatap wajah Nala, ada gurat kecemasan di wajah cantik yang biasanya terlihat ceria itu. Apalagi dia juga mulai merasakan tangan Nala yang basah karena mungkin dilanda rasa takut.


"Nala sedang ada badai di depan, kau tenang saja pilot sedang mencari rute baru. Di depan banyak gumpalan awan mendung, jadi wajar kalau kalau jet ini sampai bergetar."


"Tapi aku takut, Zack."


"Ya sudah kau pegang tanganku saja," jawab Zack.


Tak berapa lama, jet itu pun kembali bergetar saat menembus awan hitam yang berarak menerpa badan jet itu. Salah seorang pramugari lalu memerintahkan untuk memakai sabuk pengaman kembali.


Zack yang melihat Nala yang mesti ketakutan, berinisiatif memasangkan sabuk pengaman untuk Nala. Dia kemudian mendekatkan tubuhnya pada tubuh Nala untuk membantu memasangkan sabuk pengaman. Di saat itulah aroma wangi vanila dari tubuh Nala tercium di indra penciuman Zack.


Sejenak Zack pun terdiam, namun lamunannya buyar saat Nala kian erat mencengkram tangannya. Setelah memasangkan sabuk pengaman Nala, tiba-tiba jet itu kembali berguncang.


Nala kemudian memeluk erat Zack yang baru saja selesai memasangkan sabuk pengaman padanya. Sebenarnya ada rasa berdebar dalam hati Zack saat dada Nala bersentuhan dengan dadanya. Dia pun hanya bisa menelan salivanya dengan kasar saat gundukan besar dan kenyal itu menekan bagian dadanya, begitu pula dengan harum vanila yang semakin menguar di indra penciumannya. Dengan sedikit berbisik Zack pun mencoba menenangkan Nala.


"Tenangkan dirimu, Nala. Ada aku disini."


Nala yang masih berada di dalam pelukan Zack pun mendongakkan kepalanya ke atas dan kemudian bibir mereka tiba-tiba menempel begitu saja.

__ADS_1


CUP


__ADS_2