Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Ular Masuk Sarang


__ADS_3

Nala memelototkan matanya, sembari menggerakkan bibir seolah sedang memarahi suaminya itu. Zack kemudian melajukan mobilnya ke jalanan yang sepi, dan menghentikan mobil tersebut.


[Ca ....]


[Oh iya Gerald, sebenarnya begini, sebentar lagi aku boarding pass. Tidak mungkin aku menggagalkan penerbanganku. Emh, begini saja saja sekitar tujuh jam lagi, aku sampai di Munchen, kau bisa menjemputku di bandara.]


[Baiklah kalau begitu.]


[Sampai bertemu nanti, Gerald.] Gegas Nala menutup panggilan telpon itu, lalu menghela napas. Sikap Nala, tak pernah sedikit pun luput dari netra Zack. Melihat sikap istrinya tersebut, firasat buruk pun hinggap di benaknya.


"Ada apa, Nala?"


"Ada apa katamu, Zack? Kau benar-benar suami durjana! Berani-beraninya kau meledekku saat nyawaku sedang di ujung tanduk! Tanduk rusa!"


Zack terkekeh, lalu mengangkat tubuh mungil Nala ke atas pangkuannya, kemudian menaruh dagunya di pundak serta menciumi ceruk leher Nala.


"Apa-apaan ini, Zack? Kita sedang di dalam mobil. Aku tahu kamu itu memalukan, tapi nggak usah bawa-bawa wanita sholehah sepertiku. Bisa turun harga diriku. Aku nggak bisa bayangin kalo harga diriku jadi turun seharga bawang merah di pasar gara-gara kelakuanmu itu!"


"No baby, bawang merah pasti insecure liat kamu."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Zack yang sedang mencium leher Nala. "Jadi kamu samain aku kaya bawang merah, Zack?"


Seketika Zack pun menghentikan aktifitas messumnya, lalu menyenderkan tubuhnya pada jok mobil. Sementara tangannya, masih melingkar di perut Nala.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Sayang? Kenapa kamu jadi cemberut gini?"


"Gerlad, Zack. Sepertinya Gerald sudah curiga padaku. Dia menanyakan tentang keluargaku, bahkan memaksaku untuk bertemu dengan mereka. Untung otak emasku langsung bekerja dan mengatan kalau dia bisa menjemputku tujuh jam lagi di bandara. Kau tadi sudah dengar semua, 'kan?"


"Oh shittt!" Sorot mata Zack menyiratkan amarah ketika mendengar pengakuan Nala. Dua hari ini, fokusnya memang tertuju pada pernikahannya dan Nala. Apalagi sikap Leo sangat tidak bersahabat, hal itu, sangat menguras pikiran hingga membuatnya lengah. Dan Zack, baru menyadari itu sekarang.


"Kau bilang tujuh jam lagi, kan?"


"Ya," jawab Nala disertai anggukkan. Zack kemudian mengutak-atik ponselnya. Sedangkan Nala, awalnya ingin beranjak dari atas paha Zack, tapi lelaki itu mencegahnya, dan justru meremmas buah dada Nala dengan begitu keras.


"Ah ... Zack, apa-apaan ini?"


"Menghadap padaku!"


"Zack jangan gila!"


Sembari mengunggu sambungan teleponnya tersambung, Zack menempelkan ponselnya pada telinga, lalu menyangga ponsel tersebut dengan bahunya. Setelah itu, dia membalik tubuh Nala dan melummat bibir wanita itu.

__ADS_1


[Halo Tuan Zack.] jawab seseorang di ujung sambungan telepon.


[Halo, tolong buatkan pembelian tiket palsu atas nama Caca. Penerbangan dari Hamburg menuju Munchen, untuk jam keberangkatan saat ini. Buat juga laporan agar ada penumpang yang bernama Caca.] Sambil memerintah, tangan nakal Zack mengangkat rok yang dikenakan oleh Nala sampai sebatas pinggang. Tentunya, hal itu mendapat tatapan tajam oleh Nala.


"Zack!" desisnya. Tapi, tangan itu malah menurunkan panties yang dikenakan oleh Nala.


[Kenapa mendadak sekali, Tuan. Sepertinya ini agak sulit, dan saya ....]


[Cepat buatkan atau bisnis harammu akan hancur! Tak hanya itu, aku juga akan menghabisi seluruh keluargamu! Apa kau mau keluargamu hanya tinggal sebatas nama!] potong Zack, emosinya meninggi mendengar penolakan itu. Bersamaan dengan bentakan pada lawan bicaranya, Zack juga memasukkkan telunjuknya ke lembah surgawi Nala.


"Ah ... Zack!" Nala yang terkejut, seketika mengerang.


"Oh shittt! Aku sudah tidak sabar!" balas Zack penuh gairah yang menggebu, saat melihat wajah Nala yang sudah diselimuti nafsu.


[Ma-maafkan saya, Tuan. Baik saya akan melaksanakan perintah Anda.] Zack terkekeh, umpatannya pada Nala, seakan terdengar sebagai ancaman. Melihat suaminya itu, Nala tidak tinggal diam, dia pun ingin balas mengerjai Zack.


Sambil mengamati Zack yang berbicara, Nala membuka zipper dan menurunkan resleting celana suaminya itu. "Ah, shitt dasar! Tunggu sebenentar, akan kumasuki sarangmu!"


[Ampun, Tuan Zack. Tolong jangan lakukan itu.]


[Aku tidak sedang bicara padamu, bodoh!] Nala semakin terkekeh melihat Zack yang salah paham dengan lawan bicaranya.


"Ah ... Oh, ah!"


[Bukan, sudah cepat kerjakan! Aku harus memasukkan ularku ke dalam sarang.] Zack bergegas mematikan sambungan telpon itu, lalu menatap Nala dengan tatapan nyalang.


"Kau berani meledekku, Nala? Sekarang rasakan ini!"


Zack menarik handle jok di samping hingga membuat jok tersebut tertarik ke belakang. Reflek, tubuh Nala seketika menindih Zack yang saat ini sudah telentang. Pria itu mellumat bibir Nala dengan rakus, lalu membuka kancing kemeja istrinya itu.


"Ah, oh Zack! Dasar duda mafia messum!"


"Kalau aku duda, lalu kau ini siapa?"


"Maaf, Zhao Lusi lupa .... Ah, oh Zack!"


***


Tujuh jam kemudian, Nala yang sudah satu jam lamanya berada di bandara, sebagai antisipasi jika Gerald menjemputnya lebih awal, kini tampak berpura-pura keluar dari pintu kedatangan. Tak lupa, wanita itu juga menenteng koper kecil di tangannya. Saat tengah mengamati sekitar, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya.


"Caca ...!"

__ADS_1


Nala kembali mengedarkan pandangannya dan akhirnya menemukan sosok Gerald yang kini berjalan mendekat padanya.


"Ca, aku kangen!" Gerald memeluk tubuh Nala begitu saja. Sontak, hal tersebut membuat Zack merasa kesal. Laki-laki itu memang mengamati mereka dari jauh. Tak mungkin, Zack membiarkan Nala sendirian bertemu dengan Gerald.


"Dasar brengsekkk! Pasti dia sengaja cari kesempatan! Dasar buaya darat!" geram Zack, di tempat persembunyiannya.


Sedangkan Nala, mendapat pelukan secara tiba-tiba, dia tidak membalas pelukan tersebut. Dengan gerakan cepat, Nala mendorong dada Gerald. Tentunya, Nala merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu, apalagi saat ini dia sudah memiliki seorang suami.


"Maaf Gerald, bukan muhrim."


Gerald tersenyum getir. "Meskipun hidup di luar negeri, sejak kecil aku selalu menjauhi kemaksiatan, Gerald. Seperti perintah Pak Ustadz," sambung Nala kembali.


"Aku makin kagum sama kamu, Ca. Oh iya, habis ini kamu mau ke mana? Kalian belum punya tempat tinggal, 'kan?"


"Aku juga nggak tau, kemarin aku memang tinggal di rumah sakit. Tapi mule besok, Leon udah boleh pulang. Dan bodohnya, aku belum cari tempat tinggal. Sebenarnya, alasanku pergi ke rumah saudaraku, itu untuk meminta bantuan. Tapi kondisi keuangan mereka juga sedang tidak baik-baik saja."


Nala menundukkan kepalanya, disertai raut wajah sendu. "Jangan sedih Ca, sebelum kalian punya tempat tinggal, untuk sementara kalian bisa tinggal bersamaku."


Nala mengangkat wajahnya, disertai mata yang tampak berembun. "Nggak Gerald, aku nggak mau repotin kamu."


"Tolong jangan ngomong kaya gitu, Ca. Kita teman, sebagai sesama teman, sudah seharusnya kita saling membantu. Please ...," balas Gerald disertai raut mengiba.


"Baiklah Gerald, untuk sementara aku akan tinggal sama kamu."


"YES!" pekik Gerald, lalu mengambil alih koper Nala.


"Biar aku saja, kita pergi sekarang!" Nala mengangguk, kemudian berjalan mengikuti langkah Gerald.


Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai. Ketika Gerald membuka pintu, tampak Athena sudah menyambut mereka dengan senyum manisnya.


"Selamat datang, Ca." Nala mendekat pada Athena, lalu memeluk gadis itu, dan berbisik, "Kau sudah siap, kan? Nanti malam, kita pergi dari rumah ini."


Bersambung ...


NOTE : Maaf baru sempat update, bukannya mengabaikan, tapi memang fokus othor di tempat sebelah karena selain menjadi penulis, othor menjadi editor akusisi di sana. Sekali lagi maaf ya, terima kasih yang masih mau menyimak.


Follow akun medsos othor juga ya.


FB : Weny Hida


IG : queenweny

__ADS_1


__ADS_2