
Gerald tampak melirik pada Nala yang saat ini duduk di sampingnya, ketika mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Raut wajahnya terlihat begitu cemas. "Kau kenapa? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu? Apa kau takut padaku?" tanya Gerald pada Nala. Nala pun hanya tersenyum.
"Kau tidak perlu takut, aku tidak bermaksud jahat padamu. Aku hanya ingin menolongmu, bukankah tadi kau meminta pertolongan kan?"
"Iya, terima kasih banyak, Tuan."
"Tolong jangan panggil aku Tuan, namaku Gerald."
"Oh iya terima kasih, Gerald."
"Caca, sepertinya kau bukan orang Jerman. Apa kau berasal dari daerah Asia?"
"Iya Gerald, kau benar. Aku berasal dari Asia, aku dari Indonesia."
"Apa Indonesia? Benarkah? Ini seperti sebuah kebetulan, Caca. Ayahku juga berasal dari Indonesia."
"Wow, benarkah? Kalau begitu, aku merasa beruntung bertemu denganmu Gerald."
Gerald pun tersenyum mendengar perkataan Nala, dia memang mulai tertarik pada wanita yang saat ini duduk di sampingnya. Sejak pandangan pertama, wajah cantik dan penampilan yang seksi dari Nala sangat menarik perhatian Gerald.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan wanita secantik dirimu."
Nala pun pura-pura tersipu malu, padahal di dalam hatinya dia berdecak sebal. 'Ck, dasar laki-laki buaya. Aku tahu, aku memang cantik dan menarik, dan semua orang yang bertemu denganku wajib memujiku, tapi entah mengapa rasanya aku sangat malas mendengar pujian dari laki-laki seperti dirimu. Laki-laki yang sudah tega membunuh kedua orang tuanya, itu sama saja iblis! Kau bahkan lebih kejam daripada raja iblis yang hampir memperkosaku itu,' batin Nala.
"Caca!" panggil Gerald yang membuyarkan lamunan Nala.
"Kau kenapa, Ca?"
"Apa kau masih takut padaku?"
"Oh, emhm.., eh.., tidak. Aku hanya sedang memikirkan adikku."
"Kau tenang saja, adikmu pasti baik-baik saja."
Nala kemudian menundukkan wajahnya, dan berpura-pura menangis. Melihat Nala yang menangis, Gerald lalu menghentikan mobilnya, dan menatap Nala dengan tatapan yang begitu hangat.
"Kenapa kau menghentikan laju mobilnya, Tuan? Kita harus ke rumah sakit menyusul adikku."
__ADS_1
"Kau tenang saja, pasti anak buahku bisa mengurusnya. Lalu kenapa kau tiba-tiba menangis? Apa kau masih takut denganku?"
"Tidak Tuan, saya tidak takut dengan anda. Saya cuma takut kalau sesuatu terjadi pada adik saya. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali adik saya, hiks.., hiks..,hiks.."
"Lalu dimana orang tuamu?"
"Orang tua kami sudah meninggal, Tuan. Awalnya kami hidup bahagia dengan kedua orang tua kami, tapi tiba-tiba usaha ayah saya mengalami kebangkrutan, hingga membuat mereka sakit, dan akhirnya meninggal. Semua harta kami habis untuk membayar hutang dan biaya pengobatan kedua orang tua kami. Dan, tadi saat kami sedang mencari tempat tinggal, tiba-tiba ada perampok yang mengambil sisa barang yang kami miliki. Termasuk perhiasan, dan sisa uang yang kami bawa. Hiks.., hiks.., hiks..."
"Astaga, kasihan sekali."
Nala pun kian terisak. Melihat Nala yang tampak begitu rapuh, Gerald pun berniat menggengam tangannya. Namun, tiba-tiba dia menolak genggaman tangan itu.
"Maaf Tuan, bukan mukhrim."
"Oh baiklah, maafkan aku."
"Tidak apa-apa, kita lanjutkan perjalanannya ya, Tuan."
"Iya Caca."
Gerald kemudian kembali mengendarai mobilnya, sedangkan Nala tampak bergumam di dalam hati. 'Cih, enak saja kau mau menyentuh tanganku. Tangan ini jauh lebih berharga daripada berlian paling mahal yang ada di dunia. Jadi, tak mungkin kau kubiarkan menyentuh tanganku ini.'
"Bagaimana adikku?" tanya Nala saat mendekat pada kedua anak buah Gerald.
"Adik anda sedang ditangani oleh dokter, Nona."
"Kau sudah mengatakan agar Leon mendapatkan penanganan terbaik kan?"
"Iya Tuan Gerald."
"Caca, ayo kita duduk."
"Tapi Gerald, kau tahu kan kami baru saja dirampok, kami tidak mungkin membayar rumah sakit Ini. Apalagi Leon sampai mendapatkan penanganan terbaik."
"Kau tenang saja, Caca. Aku yang akan membayar semua biaya rumah sakit adikmu."
"Tidak Gerald. Biar aku saja, aku tidak mau merepotkanmu."
__ADS_1
"Caca, tolong jangan berkata seperti itu, aku senang membantumu."
"Baiklah, terima kasih. Anggap saja ini sebagai hutang, nanti kalau aku sudah mendapat pekerjaan, aku akan menggantinya."
"Iya Caca, kau santai saja. Lebih baik kita duduk dulu."
Tak berapa lama, seorang dokter pun keluar dari ruang emergency tersebut. "Dengan keluarga Tuan Leon?"
"Iya Dok, bagaimana keadaan adik saya?" sahut Nala.
"Luka tembakan di kaki adik anda tidak terlalu parah, dan kami sudah menangani luka adik anda. Sebentar lagi, adik anda akan dibawa ke ruang perawatan."
"Baik dokter, terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Saat Nala akan duduk kembali di ruang tunggu, tiba-tiba Gerald mencekal tangannya. "Caca, tunggu."
"Ada apa?" tanya Nala sambil menatap tangan Gerald yang memegang lengannya.
"Oh maaf, bukan mukhrim ya?"
"Iya."
Gerald lalu melepaskan tangannya dari tangan Nala. "Caca, urusan adikmu biar anak buahku saja yang mengurusnya. Nanti kita susul adikmu kalau dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Emhh, sekarang maukah kau menemaniku makan malam?"
"Apaaaaa?"
"Temani aku makan malam, kau tenang saja. Aku tidak memiliki niat buruk padamu, aku hanya lapar Ca. Tolong temani aku ya."
Terpaksa Nala pun menganggukkan kepalanya. "Baik, aku mau menemanimu, Gerald."
"Terima kasih, kita pergi sekarang?"
"Iya," jawab Nala singkat. Sebenarnya dia malas makan malam berdua dengan Gerald, tapi dia harus bersandiwara sebaik mungkin agar Gerald tidak curiga padanya.
Sementara itu, Zack yang saat ini sedang mengamati gerak-gerik mereka, tampak begitu kesal saat melihat Nala dan Gerald pergi dari rumah sakit itu. "Heiiii, apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka malah berkencan? Ini tidak bisa dibiarkan!"
__ADS_1
Bersambung...