
Zack kemudian keluar dari kamar Athena, lalu berjalan ke arah ruang tengah. Di ruangan itu, beberapa anak buahnya tampak sudah menunggunya.
"Aku akan pergi ke Macau, tolong awasi barang-barang kita yang ada di Panti."
"Baik Tuan."
"Usahakan tetap jaga kondisi lingkungan panti dengan baik, jika ada yang mencurigakan habisi saja dan tidak usah banyak berfikir. Gerald bisa melakukan apapun, apalagi saat ini dia sudah tahu tentang panti asuhan itu. Untuk sementara aku masih bisa mengunci pergerankannya. Tapi kita juga harus cepat bertindak karena aku juga ingin melepaskan Athena darinya.
"Baik Tuan Zack."
Zack kemudian menghembuskan nafas panjangnya, lalu menatap ke arah arlojinya. "Kemana wanita siluman itu," geram Zack.
***
Sementara itu, di sebuah kamar mewah di kota Munchen, seorang wanita blasteran Jerman tampak sedang mengamati sebuah foto yang ada di tangannya. "Kak Zack, apa kabarmu? Sudah setengah tahun kita berpisah dan aku terpenjara di sini. Tahukah kau jika aku sangat merindukanmu? Tapi salahkah aku jika rasa rindu ini bukanlah sebuah rindu dari seorang adik pada kakaknya? Apakah aku salah jika selama ini aku memandangmu sebagai laki-laki yang kucintai, bukan sebagai kakak angkatku. Dan aku tahu, suatu saat nanti aku kau pasti datang padaku, aku yakin kau pasti datang untuk menjemputku."
****
Setelah mendapat ijin dari orang tuanya Nala kemudian keluar dari rumahnya, namun saat di perjalanan dia tiba-tiba teringat sesuatu. "Pak sopir bisakah kita pergi ke rumah sakit dulu? Ke rumah sakit tempat Laurie dirawat."
"Baik Nona," jawab sopir tersebut.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Nala kemudian berjalan ke arah ruangan Alvaro, namun saat tengah menyusuri koridor rumah sakit netranya tertuju pada sosok Alvaro yang sedang berjalan di lorong rumah sakit itu.
"Dokter Alvaro!" panggil Nala. Alvaro kemudian membalikkan tubuhnya, dan di saat itu pula seorang wanita berlari ke arahnya lalu memeluk tubuhnya begitu saja.
__ADS_1
"Alvaro!"
"Nala, jangan memelukku di sini. Malu..,"
Nala kemudian melepaskan pelukannya, lalu tersenyum dengan begitu ceria pada Alvaro.
"Halo Alvaro, baru sehari aku tidak melihatmu kau sudah semakin tampan saja."
Alvaro pun tersenyum mendengar perkataan Nala. "Ada apa kau datang ke sini, Nala? Apa kau ingin bertemu dengan Laurie? Ada kabar baik, Laurie sudah sadarkan diri."
"Apa? Laurie sudah sadarkan diri?"
"Iya Nala."
"Syukurlah! Aku sangat bahagia, Alvaro!" pekik Nala yang saat ini begitu girang mendengar kabar tersebut.
"Iya, nanti aku akan menemuinya. Tapiii, aku ingin bertemu denganmu dulu, Alvaro. Karena waktuku tak banyak, sebentar lagi aku mau pergi Alvaro."
"Pergi? Kau mau pergi kemana, Nala?"
"Aku ada urusan bisnis ke Macau, Alvaro. Karena itulah aku datang ke sini dan menemuimu untuk mengatakan sesuatu padamu."
Nala memainkan telunjuk jarinya sambil melirik Alvaro. "Ada apa Nala? Apa yang ingin kau katakan?"
Nala kemudian menggengam tangan Alvaro. "Alvaro liat aku."
__ADS_1
Alvaro kemudian balas menatap Nala. "Alvaro, apa aku cantik?"
"Sangat cantik."
"Apa aku menarik?"
Belum sempat Alvaro membuka suaranya Nala sudah terlebih dulu menjawab pertanyaannya. "Sangat cantik dan menarik, itu yang ingin kau katakan padaku kan Alvaro?"
Alvaro kemudian menganggukkan kepalanya sambil terkekeh. "Karena di matamu kau menganggapku cantik dan menarik, apa itu artinya kau menyukaiku?"
"Ya, aku menyukaiumu. Kau gadis yang sangat menyenangkan."
"Lalu kalau kau menyukaiku, apakah kau juga mencintaiku? Kau juga mencintaiku kan Alvaro? Tolong katakan kau mencintaiku dan mau menungguku sampai aku pulang dari Macau."
Mendengar perkataan Nala, Alvaro pun tersenyum simpul. Dia kemudian menatap Nala dengan tatapan yang begitu hangat dan membuat jantung Nala berdegup begitu kencang.
"Nala dengarkan aku, kau memang cantik dan menarik, aku juga menyukaimu. Tapi terlalu naif kalau aku mengatakan itu sebuah cinta. Nala, maafkan aku, aku belum bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, maafkan aku Nala."
Mendengar jawaban Alvaro, Nala pun terlihat begitu sedih, perlahan air mata mulai keluar dari sudut matanya, seketika Alvaro pun merasa bersalah melihat Nala yang saat ini begitu terisak.
"Nala, tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu. Tapi bukankah lebih baik aku jujur padamu, karena saat ini aku belum mencintaimu."
"Kau belum mencintaiku, apakah itu artinya suatu saat kau juga bisa saja jatuh cinta padaku. Aku akan menunggu saat itu, Alvaro."
Alvaro kembali tersenyum. "Nala, tolong jangan menungguku. Aku tidak mau membuatmu kecewa padaku."
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menunggu?"
"Karena aku juga sedang menunggu jawaban seseorang, Nala. Aku juga sedang menunggu jawaban..."