
Zack kemudian meletakkan tubuh Nala di atas ranjang. Sadar Zack sudah membawanya ke atas ranjang, Nala pun tertegun dan melepaskan ciumannya.
"Tuan Mafia..."
"Ada apa Nala?"
"Kenapa disini? Memangnya apa yang akan kita lakukan?"
"Menurutmu? Hm?"
"Tidak Tuan Mafia, aku tidak mau ternoda."
"Memangnya siapa yang akan menodaimu?"
"Kau..."
"Benarkah?"
"Sepertinya begitu."
"Aku hanya butuh kehangatan."
"Kehangatan?"
"Ya, kau tahu kan di luar mulai turun salju, memangnya kau tidak dingin?"
Nala mulai mengerutkan keningnya, memang hawa dingin mulai merasuk ke dalam tubuhnya, bahkan sejak dia sudah menemani Zack duduk di jendela.
"Kau juga pasti kedinginan kan wanita siluman?"
"Ya, hawanya memang dingin, Tuan Mafia. Kalau begitu aku kembali ke kamar saja."
"Apa? Kembali ke kamar? Bukankah tadi kau yang meminta untuk menemaniku? Jadi, kau disini saja. Temani aku," ucap Zack, kemudian mendekap tubuh Nala dari arah belakang, dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut.
"Bagaimana? Sekarang hangat kan?"
"I-iya."
__ADS_1
"Nala."
"Apa?"
"Berbaliklah!"
"Mau apa?"
"Aku ingin melihat wajahmu."
Nala pun membalikkan tubuhnya. Wajah mereka lalu berhadapan. "Nala tatap aku!"
Zack meraih dagu Nala, lalu membawa wajah gadis itu yang sudah memerah agar menatapnya. Nala pun melihat wajah Zack yang kini tampak menatapnya dengan tatapan yang begitu sayu. Zack perlahan mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya dan memmangut bibir tipis Nala dengan begitu lembut yang membuat Nala begitu terbuai.
Nala pun membalas ciuman itu, jiwa posesifnya kembali keluar untuk memiliki Zack seutuhnya. Apalagi, saat mengingat percakapannya dengan Athena tadi siang. Tangan kekar Zack pun perlahan mulai menyibak dress yang dikenakan oleh Nala, lalu menyusuri tubuhnya hingga terhenti di punggung Nala, dan membuka zipper bra yang dikenakan oleh Nala.
"Tuan mafia, tunggu!" Nala melepaskan ciuman itu.
"Apalagi Nala?"
"Kita mau melakukan apa?"
"Apa kau ingin memberi tanda kepemilikan?"
"Ya, aku ingin memberi tanda kepemilikan padamu."
"Tidak Tuan Mafia, memangnya aku siapa? Aku bukan kekasihmu."
"Kalau begitu kau jadi kekasihku sekarang."
"Dasar ambigu! Kau menjadikan aku kekasihmu hanya untuk memberi tanda kepemilikan? Dasar laki-laki tidak jelas, tidak bertanggung jawab!"
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Bagaimana kalau kau menikahiku saja! Kau mau memberikan tanda kepemilikan padaku tanpa ikatan yang jelas? Kau pikir aku wanita apa?"
"Hahahahaha..., jadi kau ingin aku menikahimu?"
__ADS_1
"Tentu, kau tidak boleh egois! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku! Baru aku mau melakukan hal lebih denganmu!"
"Astaga, bilang saja kau tidak mau kehilangan diriku, iya kan? Baiklah, aku akan menikahimu, itu bukan hal yang sulit, Nala. Aku akan menikahimu setelah kita membebaskan Athena. Bagaimana, apa kau setuju?"
Nala pun tersenyum disertai rona wajah yang memerah, detik itu juga dia merasa sudah menang dari Athena, karena baginya Zack akan sepenuhnya menjadi miliknya, dan dia tidak akan memberikan sedikitpun kesempatan pada Athena.
Melihat senyum di wajah Nala, Zack pun kembali mencium bibir itu, lalu mulai bermain-main di atas gundukan kenyal yang begitu menggoda.
"Ahhhhh...," dessah Nala ketika Zack mulai meremmas gundukan kenyal miliknya. Zack kemudian melepaskan ciuman mereka, lalu turun dan menciumi leher dan mulai membuka pakaian yang dikenakan oleh merela, hingga tersisa pakaian dalam berenda warna hitam yang membungkus kulit putih Nala, sedangkan Zack sudah full naked.
Tubuh indah Nala, terlihat begitu menggoda bagi Zack. Dia kemudian melepaskan sisa pakaian yang menempel di tubuh Nala, lalu mulai menciumi dan mengissap gundukan kenyal milik Nala dan memberikan jejak merah keunguan di atas gundukan yang menggoda itu. Kini Zack membawa bibirnya turun menyapu perut rata Nala, sedangkan tangannya mulai meraba bagian inti Nala, dan memasukkan jarinya ke liang hangat itu, hingga membuat Nala menggelinjing bak cacing kepanasan.
"Ahhhh..., Zack."
"Nala teruslah menyebut namaku, kita mulai ke permainan inti ya, Sayang. Tolong kau tahan sebentar, ini mungkin akan menyakitkan." Nala pun mengangukkan kepalanya.
Perlahan, Zack mendorong batang miliknya dan mulai menyeruak memaksa masuk ke dalam lubang yang masih sempit itu.
"Ahhh..., shhh, sakit..." Keluh Nala, yang membuat Zack menghentikan aktivitasnya. Dia kemudian menindih tubuh Nala, lalu melummat bibir tipis itu dengan begitu lembut. Tidak ada kesan terburu-buru melakukan ciuman itu, layaknya seorang laki-laki yang ingin meniduri wanita yang dia cintai dan Nala begitu hanyut pada sentuhan Zack, hingga membuat suara dessahan kembali meluncur dari bibir Nala.
Zack kembali mengissap gundukan kenyal milik Nala. Lalu setelah dirasa cukup, dengan sekali hentakan, dia memasukkan kembali batang miliknya yang membuat Nala berteriak.
"Shhh..., sakit!"
"Sayang, maaf tahan sebentar ya!"
Zack kemudian mencium kembali bibir Nala, lalu setelah Nala merasakan rileks, dia mulai memainkan pinggulnya. Awalnya dengan tempo yang lambat, agar tidak menyakiti Nala. Lalu setelah mendengar desahhan dan errangan kenikmatan dari bibir Nala, dia mempercepat temponya.
Keduanya kini pun hanyut dalam gairah yang begitu memabukkan, dessahan dan errangan pun memenuhi sudut kamar, hingga legguhan panjang keduanya terdengar saat cairan kental milik Zack menyemprot masuk ke dalam rahim Nala, disertai getaran dari tubuh wanita itu. Setelah itu, dia mengecup kening Nala.
"Terima kasih wanita siluman, kau luar biasa," ucap Zack yang hanya dibalas senyuman oleh Nala. Zack kemudian mengeluarkan batang miliknya, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Nala, dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
Zack memeluk tubuh itu dengan erat dan berulang kali mencium puncak kepala Nala yang sudah lembab oleh keringat. Dalam pelukan Zack, Nala menutup matanya dan beberapa saat kemudian dia pun terlelap dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
Mendengar dengkuran halus dari mulut Nala yang mungkin kelelahan, Zack perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu, lalu menarik selimut dan menutup tubuh polosnya. Sementara dia, memilih duduk di sofa sambil melihat Nala yang sudah tertidur pulas. Sebenarnya dia tidak tahu bagaimana isi hatinya saat ini, sebab awalnya dia memang hanya ingin balas dendam pada Nala untuk membalas sakit hatinya karena sudah membuatnya kehilangan Laurie. Yang jelas, untuk saat ini dia tidak ingin melepaskan Nala begitu saja.
"Akhirnya kau jatuh dalam pelukanku, Nala. Tunggu saja saat itu, saat dimana kau merasakan sakit hati yang sama, seperti saat aku kehilangan Laurie."
__ADS_1
Bersambung....
NOTE: Maaf untuk permintaan double up, crazy up, othor belum bisa karena othor sedang mengerjakan 4 novel, dua di pf ini, dan dua di pf sebelah. Dan setiap bab, ini juga sudah ada seribu kata, cukup banyak ya, terima kasih atas perhatiannya. Love you dear 🤗😘💙