
Nala pun membelalakkan matanya, disertai irama degup jantung yang terdengar begitu kencang. "Kau kenapa, Caca? Apa kau kaget?"
"Ahh... Oh, ya tentu saja Gerald. Bukankah kita baru saja bertemu, dan mengenal satu sama yang lain?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak yakin padaku, hm?"
"Bu-bukan begitu. Tapi, bukankah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius itu juga harus dibutuhkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain?"
"Berapa waktu yang kau butuhkan untuk mengenalku, Caca? Satu minggu, satu bulan, atau satu tahun?"
Nala pun menatap Gerald. "Sampai hatiku bicara, Ya. Sampai hatiku bicara jika aku mencintaimu, Gerald."
"Berapa lama?"
"Aku tak tahu. Datangnya cinta itu tanpa batasan waktu, seseorang bisa saja jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Tapi cinta itu juga bisa datang saat pertemuan untuk yang kesekian kalinya."
"Lalu, mengapa kau tidak jatuh cinta padaku saat kita pertama kali bertemu? Seperti diriku yang sudah menyukaimu sejak awal pertemuan kita?"
"Karena dua kali aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan dua kali juga aku merasakan patah hati karenanya."
Gerald pun terdiam sambil menatap Nala. "Jadi..."
"Iya Gerald, dua kali aku mengalami patah hati, dan nahasnya salah seorang diantara mereka menikah dengan sepupuku. Bicara tentang cinta, sebenarnya cinta bukan hal yang mudah bagiku. Jujur saja, untuk saat ini aku masih terluka, itulah alasannya aku belum bisa membuka hatiku pada yang lain. Apa kau mengerti, Gerald?"
"Apa masih ada kesempatan bagiku?"
"Aku selalu memberikan kesempatan pada orang yang benar-benar tulus menyayangiku."
"Terima kasih, Ca."
"Gerald maafkan aku, sepertinya aku harus pulang ke rumah sakit sekarang. Aku belum membawakan baju hangat untuk Leon."
"Oh baiklah Caca, kuantar sekarang. Besok kita bisa bertemu kan?"
"Maafkan aku Gerald, sepertinya kita tidak bisa bertemu selama dua hari terakhir."
"Memangnya ada apa, Ca?"
"Aku harus pergi keluar kota, untuk mengurus sisa pekerjaan orang tuaku, dan mengurus beberapa dokumen milik mereka. Karena itulah, aku mau menemani Leon hari ini karena aku harus meninggalkannya selama dua hari."
"Baiklah kalau begitu. Jadi, dua hari lagi kita baru bisa bertemu?"
"Iya Gerald, maafkan aku."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku mengerti Ca."
"Kita pulang sekarang?"
Gerald pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka pergi dari rumah itu menuju ke rumah sakit. "Terima kasih banyak, Gerald," ucap Nala saat mereka sudah berada di depan lobi rumah sakit.
"Sama-sama, Ca."
Saat Nala hendak turun dari mobil Gerald tiba-tiba Gerald mencekal tangannya. "Tunggu Caca!" titah Gerald, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Nala.
Nala pun tertegun sejenak, dia tidak menyangka jika Gerald akan menciumnya. "Thanks for everything, Ca, kuharap suatu saat nanti kau bisa membuka hatimu untukku."
Nala pun tersenyum getir. "Iya Gerald, aku turun dulu."
"Iya."
Nala kemudian turun dari mobil Gerald, menuju ke basemen rumah sakit tersebut. Dan, disana sudah ada Zack yang sudah menunggunya.
"Lama sekali," gerutu Zack.
"Hai Tuan Mafia, kau tidak tahu bagaimana sulitnya lepas dari Gerald, jadi tidak usah banyak protes. Rekaman denah rumah Gerald sudah kukirimkan kan? Lalu, ini ada gambar bentuk kunci rumah Gerald. Kau bisa memerintahkan anak buahmu untuk membuat duplikat kunci rumah Gerald."
"Bagus kau memang sangat pintar, Nala."
"Yes, i know."
"Emhhhh Zack..."
"Ada apa?"
"Besok pagi orang tuaku sampai di sini. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju ke Munchen. Kau sudah siap kan bertemu dengan mereka?"
"Menyeramkan."
"Apa kau bilang Zack? Orang tuaku menyeramkan? Kalau mereka menyeramkan, lalu kau apa? Kau tidak lebih dari serigala berbulu domba bermuka ambigu!"
Zack pun menghela napas kasar. "Kenapa kau diam?"
"Lalu aku harus berkata apa?"
"Hei, helowww bukankah kau sudah pernah punya mertua? Dan kau tidak pernah gugup pada Om Kenan dan Tante Olivia kan? Kenapa kau tiba-tiba gugup saat bertemu dengan kedua orang tuaku?"
"Karena orang tuamu berbeda. Orang tua Laurie baik, sedangkan...."
__ADS_1
"Apa? Kau mau bilang apa cacing tanah? Jadi maksudmu orang tuaku tidak baik seperti Om Kenan dan Tante Olivia?"
"Astaga bukan begitu, bukankah orang tuamu lebih garang dibandingkan Tante Olivia dan Om Kenan? Begitu maksudku, aku jadi gugup. Lalu siapa itu cacing tanah?"
"Garang? Bukankah seharusnya kau jauh lebih garang dibandingkan dengan mereka, kalau kau seperti ini bukankah kau pantas mendapat julukan cacing tanah? Karena julukan mafia tidak pantas untukmu! Kau menjijikan dan lemah seperti cacing tanah?"
"Apa kau bilang Nala? Menjijikan? Lemah? Enteng sekali kah berkata seperti itu? Apa kau sudah lupa kalau kalau akulah yang sudah membuatmu mendessah dan berteriak di atas ranjang, hah?"
"Tapi sikapmu memang menjijikan, menyebalkan, dan ambigu!"
"Baiklah, sekarang apa kau masih bilang aku menjijikan?" sahut Zack lalu mendekat pada Nala, dan melummat bibirnya dengan begitu rakus, mau tidak mau, Nala pun membalas ciuman Zack.
"Ahhhh Zack!" protes Nala, setelah melepaskan ciumannya pada Zack.
"Hahahahaha... Baru seperti itu saja kau sudah luluh, sekarang apa kau masih bisa mengatakan kalau aku menjijikan?"
"Diam Zack!" gerutu Nala.
"Kita pulang sekarang, kita lanjutkan di rumah saja!"
"Dasar messum!"
Zack lalu mengendarai mobilnya keluar dari basemen rumah sakit itu, menuju ke apartemen yang ditinggali oleh mereka.
***
Keesokan Harinya...
Di Bandara...
Zack tampak begitu cemas saat menanti kedatangan Leo dan Calista di pintu kedatangan luar negeri. Sudah setengah jam mereka menunggu, hingga akhirnya, kedua sosok yang mereka tunggu tampak berjalan keluar dari pintu kedatangan.
"Mama... Papa..." teriak Nala sambil menghambur memeluk mereka berdua.
"Halo sayang, apa kabarmu?"
"Baik Ma."
"Lalu mana temanmu yang kau ceritakan? Bukankah kemarin kau bilang kalau kau pergi me Munchen untuk menemui temanmu?" tanya Calista.
"Oh ya, itu temanku Pa, Ma," jawab Nala sambil menunjuk Zack yang saat ini tersenyum getir pada mereka.
Bersambung...
__ADS_1