
"Kau pikir aku main-main dengan kata-kataku, Fred? Tanpamu aku juga sudah tahu dimana keberadaan Athena. Aku hanya ingin memberikan tekanan pada Gerald saat melihat sahabatnya sudah merenggang nyawa dengan penuh kehinaan. Cih!"
Zack kemudian keluar dari lift dan berjalan keluar dari mansion itu. "Apa semuanya sudah kau persiapkan?" tanya Zack pada anak buahnya saat sudah di dalam mobil.
"Sudah Tuan."
"Kita pergi sekarang!" perintah Zack.
Tak berapa lama, mereke pun sudah sampai di panti asuhan. Zack bergegas berjalan masuk ke panti asuhan itu, menuju ke sebuah ruangan bertuliskan penanggung jawab panti. Zack kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu, lalu Nick berdiri di sampingnya.
"Bagaimana Nick? Apa sudah ada anak panti yang sudah bisa kau jadikan anak buahku? Aku butuh wajah baru agar tidak dicurigai Gerald."
"Iya Tuan, namanya Leon. Dia mungkin seumuran dengan adik anda, Athena. Dan sudah menjadi penghuni panti sejak usianya sepuluh tahun."
"Apa kau yakin dia setia padaku?"
"Tentu saja, Tuan."
"Tapi sayangnya aku tidak. Panggil dia kemari!"
Nick kemudian keluar, dan tak berapa lama masuk ke dalam ruangan itu kembali dengan seorang laki-laki tampan dengan postur tubuh jangkung. Zack kemudian melihat laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tersenyum smirk.
"Siapa namamu?"
"Leon Tuan."
"Apa kau memiliki kemampuan untuk menjadi anak buahku?"
"Dulu saya selalu mengikuti kegiatan beladiri, Tuan."
"Oh jadi maksudmu kau memiliki kemampuan bela diri yang cukup?" tanya Zack. Leon pun menarik kedua sudut bibirnya lalu menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan senjata api? Apa kau bisa menggunakan senjata api?"
__ADS_1
"Iya Tuan. Tuan Nick sering mengajari saya menggunakan senjata api."
"Bagus, lalu apakah kau bersedia setia padaku?"
"Iya Tuan, saya bersedia setia pada anda."
"Kalau begitu, tolong tunjukkan kesetiaanmu padaku!" perintah Zack sambil tersenyum smirk.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan?"
"Aku ingin melihatmu menggunakan senjata api! Sekarang tolong tunjukkan kesetiaanmu padaku dengan menggunakan pistol ini!" perintah Zack sambil melempar pistolnya ke atas meja.
"Dengan menggunakan pistol? Apa maksud anda, Tuan?"
"Tolong tembak kakimu dengan menggunakan pistol ini!" perintah Zack sambil tersenyum kecut.
Mendengar perkataan Zack, Leon pun tampak tertegun. "Kenapa? Apa kau takut? Apa kau tidak mampu menunjukkan kesetiaanmu padaku dengan hal kecil seperti ini? Bukankah itu hal yang sangat mudah? Apa kau sudah lupa dengan perkataanmu tadi yang ingin menunjukkan rasa setiamu? Ingat, aku tidak mau memiliki anak buah yang pengecut! Jadi tunjukkan kesetiaan itu dengan menembak kakimu sendiri!" perintah Zack sambil memelototkan matanya pada Leon.
Dia kemudian mengambil pistol yang diberikan oleh Zack yang ada di atas meja, lalu menembak bagian paha kakinya sendiri.
Dorrrrr
Setelah itu tubuh Leon pun ambruk ke atas lantai disertai darah yang mengalir deras dari pahanya. Melihat kondisi Leon, Zack pun tersenyum sambil bertepuk tangan.
Prok prok prok
"Bagus sekali!"
Dia kemudian memberi kode pada Nick untuk memberikan pertolongan pada Leon. "Sekarang obati kakimu! Sebentar lagi, kau akan pergi ke Munchen bersamaku!" ucap Zack sambil berlalu, meninggalkan Leon yang masih meringis kesakitan di atas lantai.
***
Munchen 11.00 pm
__ADS_1
"Athena, apa kau mau menikah denganku?"
"Tentu saja, Kak Zack."
"Kalau begitu tunggu aku. Aku akan menjemputmu, kau mau kan menungguku?"
"Iya Kak."
Dorrrr dorrrrrr dorrrrr
"Papaaaa... Mamaaaaa! Tidakkkkk!"
Athena lalu membuka matanya, diiringi nafas yang begitu menderu, keringat dingin pun tampak keluar dari seluruh tubuhnya. "Mimpi buruk lagi," gerutu Athena, dia pun menyeka keringat yang ada di wajahnya seraya menetralisir nafasnya.
Setelah cukup tenang, dia kemudian mengambil ponsel yang ada di nakas samping tempat tidurnya, lalu membuka galeri ponsel itu sambil menatap foto seorang laki-laki tampan yang sedang berdiri sambil menggunakan kaca mata hitam serta tangan yang dia simpan di saku celananya.
Cukup lama Athena memandang wajah laki-laki itu, hingga matanya terasa panas, lalu detik selanjutnya butiran-butiran bening pun menetes dari kedua sudut matanya.
"Detik demi detik aku bergelut dengan berbagai kerumitan hidup. Sejak kejadian itu, hidup ini rasanya begitu gelap. Saat pagi, aku tidak bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Malamku pun terasa lebih gelap, dan semuanya begitu melelahkan. Tapi, piringan takdir menyuruhku untuk harus menerima kenyataan. Mungkin, Tuhan ingin menguatkanku dengan semua ujian yang kualami. Hari demi hari berlalu, nyatanya semua tidak menjadi mudah. Bahkan aku tidak tahu dimana ujung langkahku dalam labirin kehidupan ini. Namun, apapun akhir dari perjalanan ini, aku terima karena aku yakin, bahwa selama ini tidak ada takdir yang sia-sia. Dan aku yakin suatu saat takdir juga yang akan membawaku kembali padamu."
"Aku sangat mencintaimu, Kak Zack."
Tepat di saat itulah sebuah suara dari ruang tengah tiba-tiba membuyarkan lamunan Athena.
BRAKKKKKK
"Jadi Zack sudah membunuh sahabatku, Fred?"
"Iya Tuan Gerald. Seperti sebelumnya, anak buah kita dihabisi dengan begitu tragis, sudah tidak berbentuk sama sekali."
"BEDEBAHHH KAU ZACKKK! KAU MEMANG BENAR-BENAR BAJINNGAN! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALAS SEMUA INI DAN MEMBUNUHMU DENGAN PENUH KEHINAAN!"
Bersambung...
__ADS_1