
"Mama..., aku takut. Tongkat itu sepertinya keras sekali, pasti sangat menyakitkan," isak Nala saat merasakan milik Zack yang kini menempel di bokongnya, apalagi saat ini Zack hanya mengenakan kaos putih tipis dan celana boxer. Hembusan nafas Zack yang begitu terasa di tengkuknya pun terasa semakin dekat dan hangat.
"Kau kenapa?" tanya Zack yang melihat Nala seperti orang ketakutan.
"Tuan Mafia, bisakah kau menjauh dariku? Kita belum menikah, tidak baik sedekat ini. Aku juga tidak mau menikah denganmu, wanita seindah diriku, kurang cocok dengan laki-laki sepertimu."
"Kau bilang apa wanita siluman?"
"Jangan menyentuhku!"
"Cih, apa kau sudah lupa siapa dirimu di depan mataku? Hanya sebatas mainan bagiku! Dan ingat apa yang tadi kukatakan, malam ini akan kupastikan agar kau jadi milikku seutuhnya."
"Jadi benar kau mau memperkosaku? Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau tidak akan memperkosaku? Kenapa kata-katamu sangat ambigu, Tuan Mafia? Sama seperti wajahmu, sama-sama ambigu."
"Lebih baik kau diam atau kusumpal mulutmu dengan..."
"Tolong jangan dengan tongkat kayumu, aku tidak akan pernah mau melakukan itu! Itu sangat menjijikan dan cabbul, Tuan Mafia!"
"Apaaaa? Menyumpal mulutmu dengan tongkat kayu? Apa itu? Aku benar-benar tidak mengerti!"
"Baiklah kalau kau tidak mengerti, cukup lupaka saja kata-kataku. Akan sangat berbahaya kalau kau sampai memahami kata-kataku."
"Apa kau tidak bisa diam? Lebih baik kau diam dan cepat tidur!"
Nala pun memejamkan matanya, namun baru saja dia memejamkan mata itu, Zack kembali mengeratkan pelukannya, dan tentunya benda di tubuh bagian bawah Zack pun semakin mengeras.
'Astaga, tenang Nala. Kalau aku panik, dia pasti semakin senang. Keep calm, Nala. Keep calm,' batin Nala. Namun, baru saja Nala selesai menenangkan dirinya, tiba-tiba Zack sudah menciumi tengkuknya, dan seketika membuat bulu kuduk Nala berdiri.
"Tu-tuan mafia, cukup! Bukan mukhrim."
"Kau harus ikut pada aturanku, wanita siluman! Kalau tidak, aku akan menembak kepalamu sekarang juga!"
"Ini pemaksaan, Tuan Mafia. Kau sudah melanggar hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat!"
"DIAM!"
Nala pun terdiam, sedangkan Zack saat ini mulai kembali menciumi tengkuk Nala, wangi aroma vanila di tubuh Nala membuat hasrat Zack semakin menggebu.
__ADS_1
"Wanita siluman, biarpun kau sangat menyebalkan tapi sebenarnya kau sangat seksi," bisik Zack, lalu mengecup telinga Nala, dan memainkan lidahnya di telinga itu.
"Shhhh..., Zack..."
Mendengar dessahan lirih dari Nala, Zack kemudian membalik tubuh Nala lalu menatap wajah cantik di depannya sambil tersenyum smirk, Nala pun tampak begitu ketakutan. Sedangkan Zack sangat menikmati keresahan Nala saat melihat sikapnya. Zack kemudian mengelus wajah Nala, mulai dari kening, hidung, pipi, dan memainkan jarinya di bibir Nala.
"Wanita siluman, tahukah kau bibirmu juga ternyata sangat manis, dan aku suka bibirmu itu."
"Itu hanya kamuflase, Tuan Mafia. Sebenarnya bibirku sangat pahit."
"Sangat manis, bagaimana kalau aku mencicipinya lagi. Kau pasti suka."
"Tidak, jangan Zack. Tolong jangan sentuh aku, aku tidak ikhlas. Kalau tidak ikhlas nanti jadi buah simalakama bagimu, tolong jangan lakukan itu!" rengek Nala. Namun, Zack mengabaikan rancauan itu, dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir Nala, lalu memaggut bibir tipis itu yang selalu beraroma strawberry.
"Empthhh..."
'Oh my God,' batin Nala.
Nala pun terdiam tidak membalas paguttan dari Zack. "Balas aku, Nala," bisik Zack, saat melepaskan ciumannya. Dengan terpaksa, Nala pun membalas ciuman itu sambil memejamkan matanya, dan membayangkan yang saat ini berciuman dengannya adalah seorang foto model China, Zu Xhi Bin.
Melihat Nala yang membalas ciumannya, Zack pun semakin memperdalam ciumannya, kemudian mulai menindih tubuh Nala.
"Ahhhhh..., empthhh Zack. No...."
"Diam!"
Nala pun berulang kali mengumpat dalam hati, rasanya saat ini dia ingin mengambil gelas yang ada di atas nakas lalu memukul kepala Zack dengan gelas itu. Dia merasa tidak nyaman, apalagi bagian bawah tubuh Zack yang kini semakin keras terasa begitu menggangunya.
"Zack..."
"Ada apa? Kau menikmatinya, hm?" bisik Zack di telinga Nala.
"Sama sekali tidak."
Zack pun merasa begitu kesal. "Lalu, kenapa kau memanggilku?"
"Keras sekali."
__ADS_1
"Apanya?"
"Bagian bawahmu keras sekali, Zack."
"Oh jadi kau sudah tidak sabar untuk melihatnya."
"Bukannnn, tapi aku takut."
"Kenapa harus takut? Pegang saja pasti sangat menyenangkan."
"Tidak mau, dasar messum! Aku benar-benar menyesal, ikut pergi denganmu."
"Tidak perlu menyesal, karena meskipun kau lari sampai ke lubang semut pun tetap akan kukejar. Sekarang nikmati saja tanda kepemilikan dariku."
"Dasar dada mafi..."
"Emphhhhh..."
Zack pun kembali mencium bibir Nala, bahkan dengan ciuman yang begitu bergairah, hingga Nala kesulitan untuk mengimbanginya. Zack kemudian melepaskan ciumannya lalu mulai menciumi leher Nala, sambil membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Nala.
"Emhhh, Zack. Please..."
"Baik aku akan melakukannya."
"Maksudku hentikan..."
"Tidak..."
Saat baru saja menempelkan bibirnya di dada Nala, tiba-tiba ponsel Nala berbunyi. "Zack ponselku berbunyi."
"Biarkan saja."
"Bagaimana kalau yang meneleponku Gerald? Apa kau mau kalau dia curiga padaku?"
"Oh shitttt!" umpat Zack sambil bangkit dari atas tubuh Nala, lalu membiarkan Nala mengambil ponselnya.
"Halo Gerald," sapa Nala saat mengangkat panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Apa Gerald? Sekarang?" sahut Nala lagi.
"Brengsekkkk!"