Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Berteman


__ADS_3

"Apa maksudmu mengatakan sekarang?" protes Zack sambil berbisik. Nala pun memelototkan matanya.


"Sebentar Gerald, sedang ada perawat yang memeriksa Leon, kau jangan tutup dulu teleponnya."


Nala kemudian menutup ujung telepon agar Gerald tidak mendengar, saat dia bicara dengan Zack. "Jangan berisik, atau Gerald akan curiga."


"Lalu apa maksudnya dia mengatakan sekarang?"


"Dia mengajakku pergi."


"Apa Gerald sudah gila? Ini hampir dini hari!"


"Memangnya kenapa?"


"Kau tidak boleh pergi! Ingat anak gadis tidak boleh pergi malam-malam! Kehidupan di luar berbahaya!"


"Tapi jauh lebih berbahaya kalau aku bersamamu!"


"Apapun yang terjadi kau tidak boleh pergi! Apa kau sudah lupa ancamanku padamu?"


"Ancaman? Helowwww, aku juga bisa mengancammu, Tuan Mafia. Sekarang, aku mau membuat sebuah penawaran denganmu."


"Jangan gila!"


"Kalau begitu, aku pergi dengan Gerald!"


"I-iya, baiklah. Apa yang kau inginkan wanita siluman?"


"Aku tidak akan pergi dengan Gerald, asalkan..."


"Asalkan apa?"


"Asalkan malam ini kau tidak menyentuhku!"


"Astaga, tidak mungkin."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dengan Gerald!"


"Baiklahhhh wanita siluman, dasar bedebah."


"Bagus, Tuan Mafia."


Nala kemudian melanjutkan lagi percakapannya dengan Gerald, sedangkan Zack tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengamati Nala yang saat ini sedang berdiri di balkon kamar, sambil tertawa.


"Kenapa dia sok centil sekali, seperti bola bekel saja. Sebenarnya apa yang sedang dia bicarakan dengan Gerald? Menyebalkan sekali!" gerutu Zack.


"Ehemmmm..."

__ADS_1


Mendengar deheman Zack, Nala pun tetap cuek, dan melanjutkan perbincangannya dengan Gerald. Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka baru mengakhiri percakapan itu.


"Rasakan permainan dariku, Zack. Kau pikir aku bisa saja dipermainkan layaknya boneka olehmu! Sebenarnya Gerald tidak mengajakku bertemu, tapi hanya mengajakku untuk video call. Tapi aku bukan orang bodoh, aku harus memanfaatkan setiap kesempatan, kesempatan agar bisa mengelak darimu," kekeh Nala.


Dia kemudian masuk ke dalam kamar, lalu merebahkan tubuhnya di samping Zack yang saat ini terlihat sudah terlelap.


***


Keesokan harinya, saat Nala membuka matanya, tiba-tiba ada sesuatu yang terasa menempel di tubuhnya. Bahkan ketika dia menggerakkan kepalanya, ada benda kenyal yang menyenggol keningnya. Dan, betapa terkejutnya Nala saat dia membuka matanya dan melihat jika saat ini wajahnya sudah ada di depan leher Zack. Tak hanya sampai di situ rasa terkejut Nala, saat mata itu sepenuhnya terbuka, dia mendapati dirinya dan Zack tengah berpelukan. Spontan, Nala pun berteriak.


"Aaaaaaaa..." teriak Nala yang sontak membuat Zack terkejut dan membuka matanya.


"Ada apa wanita siluman? Kenapa kau berteriak?"


"Duda Mafia Karatan, apa yang kau lakukan? Bukankah tadi malam kau sudah berjanji untuk tidak menyentuhku? Tapi kenapa kau melakukan itu! Kenapa kau malah memelukku seperti ini? Cihhhh!"


"Astaga, apa kau sudah lupa? Bukankah tadi malam kau yang terlebih dulu mendekat padaku, lalu memelukku!"


"Bohong!"


"Buat apa aku berbohong? Apa kau tidak lihat noda lipstik yang menempel di bajuku ini? Bukankah ini lipstikmu? Kau yang terlebih dulu menempelkan wajahmu di dadaku!"


"Benarkah? Kau pasti bohong!"


"Terserah kalau kau tidak percaya! Lebih baik kau mandi! Lalu kita sarapan! Setelah itu, aku harus mengantarmu ke rumah sakit, agar Gerald tidak curiga!"


Nala pun bangkit dari atas ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setengah jam kemudian, Nala pun sudah selesai mandi, dia mendekat pada Zack yang saat ini sudah menunggunya di meja makan yang ada di kamar hotel president suite itu.


"Cepat makan, setelah itu kita harus kembali ke rumah sakit."


Nala dan Zack kemudian sarapan bersama, namun keduanya tak berbicara sepatah katapun, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Nala sibuk memikirkan bagaimana nanti saat bertemu dengan Gerald, sedangkan Zack saat ini merasa begitu kesal saat mengingat Nala akan bertemu dengan Gerald nanti.


Sebenarnya, Zack tak rela. Tapi hanya ini salah satunya cara agar dia membebaskan Athena. Nala dan Leon, bukanlah sosok yang dikenal oleh Gerald, sehingga kecil kemungkinan jika dia curiga pada mereka.


"Kau sudah selesai?"


"Iya," jawab Nala singkat, seolah memahami pergolakan batin yang dirasakan oleh Zack. Entah mengapa, dia merasa kalau Zack cemburu pada Gerald. Tapi, mengingat sikap Zack yang selama ini memperlakukannya dengan sesuka hatinya, Nala pun merasa kesal.


"Ayo kita pergi sekarang!" perintah Zack, yang dijawab anggukan kepala oleh Nala. Mereka kemudian keluar dari hotel tersebut, menuju ke rumah sakit tempat Leon dirawat.


Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit tersebut. "Aku turun dulu," pamit Nala pada Zack.


"Sebentar!" cegah Zack saat Nala akan membuka pintu mobil. Nala pun terdiam, dan perlahan menutup matanya saat melihat Zack yang saat ini mendekat ke arahnya.


'Jangan, jangan, jangan,' batin Nala.


Cup

__ADS_1


Sebuah kecupan pun menempel di pipi Nala. Spontan Nala pun membuka matanya, dan tepat di depan wajahnya, saat ini Zack sudah tersenyum padanya.


"Ingat wanita siluman, kau milikku, hanya milikku, karena kau hanya mainan bagiku, apa kau mengerti?"


Terpaksa, Nala pun menganggukkan kepalanya, saat ini dia tidak sedang ingin berdebat dengan Zack. "Aku turun dulu," pamit Nala yang dibalas anggukan kepala oleh Zack.


Nala lalu turun dari mobil Zack, masuk ke dalam rumah sakit itu, menuju ke kamar perawatan Leon.


CEKLEK


Saat Nala membuka pintu kamar itu, tampak Leon sedang duduk di atas brankar sambil memainkan ponselnya.


"Halo, Leon."


"Halo, Nala."


"Bagaimana keadaanmu, Leon? Anak buah Gerald tidak curiga padamu kan?"


"Tidak, aman."


Saat baru saja memulai percakapan dengan Leon, tampak pintu perawatan itu kembali terbuka, dan sosok Gerald, muncul dari balik pintu itu.


"Selamat pagi," sapa Gerald.


"Selamat pagi, Gerald."


"Leon, bagaimana keadaanmu?"


"Sudah jauh lebih baik, terima kasih Tuan Gerald. Kalau anda tidak menolong kami, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, Tuan."


"Kau berlebihan, aku hanya sedikit membantu kalian."


"Kau banyak membantu kami, Gerald."


"Benarkah?"


"Ya."


"Kalau begitu, maukah kau membantuku sekarang?"


"Membantumu? Membantu apa Gerald?"


"Nala, maukah kau bertemu dengan adikku, Athena? Dia kesepian, mungkin kedatanganmu bisa membuat Athena tidak kesepian lagi, atau mungkin kalian bisa berteman."


'Yes, masuk perangkap juga kau, Gerald,' batin Nala.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2