
"Nala, kenapa kau diam?"
"Oh, tidak apa-apa, hanya sedang memikirkan cara untuk membantumu keluar dari sini. Sepertinya ini bukan hal yang mudah, karena banyak anak buah Gerald yang menjaga rumah ini."
"Iya, aku tahu itu, Nala. Ada anak buah Gerald di setiap sudut bagian rumah ini, bahkan kalau aku keluar dari rumah, mereka juga selalu mengikutiku. Dan, asal kau tahu kalau ponselku juga disadap oleh Gerald. Aku tidak bisa menghubungi teman-temanku ataupun Kak Zack, rasanya hidup ini benar-benar tidak berguna."
"Athena, kau tenang saja. Kami pasti akan memikirkan cara agar bisa membebaskanmu."
"Iya Nala, terima kasih. Oh iya Nala, kalau tidak salah, satu atau dua minggu lagi Gerald ada urusan ke Asia, dia pergi selama satu minggu. Tolong sampaikan ini pada Kak Zack, mungkin dia bisa memikirkan rencana agar bisa membebaskanku."
Mendengar perkataan Athena, Nala pun mengerutkan keningnya. "Jadi satu atau dua minggu lagi Gerald akan meninggalkanmu sendiri?"
"Iya Nala."
"Bagus sekali, Athena. Sepertinya aku punya cara untuk membebaskanmu."
"Benarkah?"
"Iya Athena. Nanti saat aku pulang, tolong kau yakinkan Gerald agar dia percaya kalau kita benar-benar sudah berteman dan kau merasa nyaman denganku."
"Oh baiklah, itu bukan hal yang sulit Nala. Tampaknya kakakku juga tertarik denganmu kan? Jadi, itu bukan hal yang sulit bagiku untuk meyakinkan dirinya. Lalu selanjutnya, apa rencanamu Nala?"
Nala kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Athena, lalu membisikkan sesuatu hingga keduanya tampak terkekeh. "Ide yang bagus, Nala."
"Iya Athena semoga kita berhasil."
"Iya, semoga saja. Aku sudah sangat merindukan kehidupan dunia luar, dan yang paling penting adalah bertemu Kak Zack. Aku sangat merindukannya, Nala. Kak Zack, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, hahahahaha..."
Melihat Athena yang terlihat begitu bahagia saat menyebut nama Zack, sebuah rasa sesak pun kembali merasuk ke dalam hati Nala. Rasa sesak yang saat ini tak dapat dia artikan.
"Nala, kenapa kau diam?"
"Oh tidak apa-apa, Athena. Aku hanya sedang berdoa, semoga rencana kita bisa berjalan dengan lancar," dusta Nala.
"Iya Nala, aku pun berharap yang sama. Emh Nala, bahkan aku berharap jika sudah bebas, Kak Zack bisa secepatnya menikahiku."
Nala pun begitu tertegun mendengar perkataan Athena, dia pun terdiam kembali, tubuhnya seakan membeku mendengar penuturan Athena, rasanya dia tak sanggup lagi lama-lama bersama Athena, entah mengapa semua perkataan Athena membuatnya merasa tak nyaman.
"Emh, Athena. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku harus menceritakan keadaanmu pada Zack."
"Oh iya, tentu saja Nala. Sampaikan salamku pada Kak Zack."
"Iya Athena, tapi sebelumnya bolehkah aku mengambil fotomu untuk kuberikan pada Zack?"
"Oh, tentu saja Nala."
Nala kemudian beberapa kali mengambil foto dan video Athena. Setelah dirasa cukup, dia lalu keluar dari kamar Athena, dan menghampiri Gerald yang sedang duduk bersama beberapa anak buahnya di ruang tengah rumahnya.
__ADS_1
"Gerald!" panggil Nala. Gerald pun menghentikan perbincangannya dengan anak buahnya lalu mendekat pada Nala. "Caca, kau sudah selesai bicara dengan Athena?"
"Ya."
"Apa sikapnya membuatmu kurang nyaman?"
"Tidak, dia gadis yang manis dan baik."
'Sebenarnya iya, entah mengapa dia membuatku merasa tidak nyaman saat dia berbicara tentang Zack,' batin Nala.
"Oh syukurlah kalau kalian merasa cocok."
"Iya Gerald."
"Caca, bagaimana kalau setelah ini kita makan siang bersama? Lalu, setelah itu kita..."
"Tidak Gerald, maaf aku tidak bisa. Adikku sedang sakit, tidak sepantasnya aku bersenang-senang saat adikku sedang sakit."
"Tapi, bukankah ada anak buahku yang menemaninya di rumah sakit?"
"Maafkan aku Gerald, aku tidak bisa. Bagaimanapun juga aku kakaknya, bukankah sudah sepantasnya aku menemaninya saat dia sakit? Memang ada anak buahmu, tapi tetap saja Leon masih jadi tanggung jawabku. Lagipula bukankah kita masih punya banyak waktu untuk bersama setelah Leon sembuh?"
Gerald pun tersenyum mendengar perkataan Nala, dia semakin kagum pada wanita cantik yang ada di hadapannya, baginya Nala tidak hanya cantik tapi juga memiliki pemikiran yang dewasa dan bertanggung jawab.
"Kau benar Ca, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang."
"Sure."
Mereka kemudian keluar dari rumah Gerald menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nala tampak terdiam, entah mengapa rasanya dia begitu bimbang saat mengingat semua perkataan Athena. Tak hanya bimbang, tapi juga ada rasa takut dan tak rela saat mengingat dia menyebut nama Zack, bahkan sampai membayangkan Zack menikah dengannya.
"Huftttt..." Nala menghela nafasnya kasar, setelah mengirimkan pesan pada Zack untuk memberi tahu jika saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Rasanya Nala sudah sangat ingin bertemu dengan Zack. Raut cemas yang begitu jelas tergambar di wajah Nala pun akhirnya menyita perhatian Gerald.
"Caca, kau sebenarnya kenapa? Apa ada sesuatu? Apa tadi Athena menyakitimu?"
"Oh tidak, Gerald. Aku hanya ingin bertemu dengan Leon. Bukankah tadi aku sudah bilang padamu kalau aku merasa bersalah karena sudah berulang kali meninggalkannya saat dia sakit?"
"Dan semua ini karenaku kan? Astaga, maafkan aku, Ca."
"Tidak apa-apa, Gerald. Aku senang bisa menemanimu, dan bertemu dengan Athena."
"Terima kasih, Ca. Kau wanita yang sangat baik."
Nala pun hanya tersenyum tipis mendengar pujian Gerald. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Seperti biasa, Nala meminta Gerald untuk menurunkannya di depan lobi, karena Zack sudah menunggunya di basemen.
"Sampai bertemu besok, Caca."
"Sampai bertemu besok, Gerald," jawab Nala. Dia kemudian turun dari mobil Gerald, lalu berjalan ke arah basemen, menuju ke mobil Zack. Di dalam mobil, tampak Zack sudah menunggunya.
__ADS_1
Zack pun mengulaskan senyum tipisnya saat Nala sudah memasuki mobil itu. "Apa Gerald menyentuhmu?"
"Tidak."
"Bagus."
"Apa yang kalian lakukan?"
"Aku hanya bertemu dengan Athena."
"Jadi kau sudah bertemu dengan Athena?" tanya Zack disertai raut wajah yang begitu bahagia.
"Sudah, aku bahkan sudah meminta fotonya, seperti permintaanmu."
"Jadi, kau sudah punya foto Athena?"
"Ya, ini foto-fotonya," jawab Nala sambil memberikan ponselnya pada Zack.
Zack kemudian menatap layar ponsel Nala sambil tersenyum bahagia. "Apa kau bahagia?"
"Tentu saja, aku sudah lama tidak melihat wajah Athena, kau tahu kan sudah satu tahun aku tidak bertemu dengannya?"
"Lalu, saat nanti kau bertemu dengannya, apakah kau mau menikahinya?"
"Apa? Menikah? Menikahi siapa?"
"Tentu saja, Athena!" gerutu Nala kesal.
"Kenapa kau bertanya seperti itu wanita siluman? Apa kau cemburu?"
"Apa? Cemburu? Tidak mungkin aku cemburu pada orang sepertimu!"
"Benarkah?"
"Kalau begitu aku akan menikah dengan Athena."
"DASAR AMBIGU! SEMUA KATA-KATAMU AMBIGU! SAMA SEPERTI WAJAHMU!"
"APA KAU BILANG?"
"AMBIGU!"
Mendengar teriakkan Nala, Zack lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nala, lalu mencium bibir Nala yang kini seakan menjadi candu baginya. Mendapat ciuman tiba-tiba dari Zack, spontan Nala pun membalas ciuman itu, bahkan kini tangannya melingkar di leher Zack.
'Ada apa dengan wanita siluman ini? Kenapa dia sudah mau membalas ciumanku?' batin Zack.
Bersambung....
__ADS_1