Mainan Tuan Mafia

Mainan Tuan Mafia
Hanya Milikku


__ADS_3

Keesokan Harinya..


Nala yang baru saja diantar oleh Zack, bergegas turun dari mobil karena saat ini Gerald sudah menunggunya di depan lobi rumah sakit. Pagi ini, mereka memang bangun kesiangan karena telah menghabiskan malam dengan pergulatan panas mereka di atas ranjang.


"Nala!" panggil Zack saat Nala mulai berjalan di basemen parkir mobil rumah sakit tersebut.


"Ada apa Zack?"


"Ingat, jangan biarkan Gerald menyentuhmu!"


"Iya, aku tahu itu! Cerewet sekali," gerutu Nala. Dia kemudian keluar dari basemen itu, masuk ke dalam gedung rumah sakit itu, lalu menuju ke lobi sambil sedikit berlari, karena dia tidak ingin Gerald curiga padanya jika dia membuat Gerald menunggu terlalu lama. Meskipun saat ini sebenarnya bagian tubuh bawah Nala masih terasa begitu sakit akibat permainan ranjang yang dia dan Zack lakukan tadi malam.


Setelah sampai di depan lobi rumah sakit, Nala kemudian masuk ke dalam mobil Gerald. "Selamat pagi, Gerald. Maaf sudah membuatmu menunggu," ujar Nala, dia memang bergegas masuk ke mobil milik Gerald karena salju mulai turun dengan sedikit deras.


"Tidak apa-apa, Caca. Emh Caca, ada yang ingin kukatakan padamu."


"Tentang?" balas Nala sambil mengerutkan keningnya. Sejujurnya, dia merasa takut kalau Gerald mulai curiga padanya.


"Soal telepon tadi malam. Apa aku tampak seperti pecundang karena menyuruh Athena untuk meneleponmu?"


"Pecundang? Tidak biasa saja."


"Syukurlah. Aku tidak mau kau berfikir kalau aku bukan seorang laki-laki yang gentle karena menyuruh adikku untuk meneleponmu."


"Hahahhaha... Astaga Gerald, kau ada-ada saja."


Gerald pun tampak salah tingkah mendengar perkataan Nala, karena dia ingin terlihat sebagai laki-laki yang sempurna di mata Nala.


"Gerald, kita pergi sekarang!"


"Iya Ca."


Gerald kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah miliknya. Saat mereka sampai di rumah tersebut, tampak Athena sudah menunggu mereka di depan perapian yang ada di ruang tengah rumah tersebut.


"Selamat pagi, Caca."

__ADS_1


"Selamat pagi, Athena. Pagi ini sepertinya kau terlihat lebih ceria, dan segar."


"Oh iya, tentu saja karena saat ini aku sudah memiliki seorang teman, aku tidak kesepian lagi. Sama seperti kakakku, Gerald yang juga sekarang jauh lebih ceria setelah mengenalmu. Begitu kan Gerald?" ujar Athena yang membuat Gerald salah tingkah.


"Kau bicara apa, Athena!" gerutu Gerald.


"Lihat dia tersipu malu Ca, hahahaha...." Nala pun ikut tersenyum melihat tingkah Gerald. "Athena, lebih baik kau selesaikan urusanmu dengan Caca, karena setelah itu aku juga ingin mengobrol dengan Caca, jadi jangan terlalu banyak membuang waktu, Athena."


"Bilang saja kalau kau sudah ingin berduaan dengan Caca kan?" sungut Athena. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Nala.


"Caca, kita ke kamarku saja, bagaimana?"


"Emh Athena, bisakah kita berkeliling rumah ini terlebih dulu? Aku sangat tertarik dengan desain rumah ini."


"Ah tentu saja, Caca," sahut Athena. Mereka berdua kemudian mulai berkeliling di rumah itu, meninggalkan Gerald yang saat ini sedang duduk di depan perapian sambil memainkan ponselnya. Dan, tentu saja dia tidak curiga.


Nala dengan begitu teliti memperhatikan seisi rumah, dan tujuan utamanya adalah pintu keluar yang ada di belakang rumah itu, yang akan digunakan untuk membawa Athena melarikan diri.


"Athena aku sudah merekam seluruh bagian rumahmu, nanti akan kuberikan pada Zack kalau aku sudah pulang dari rumah ini."


"Terima kasih banyak, Nala."


Athena pun tampak mengerutkan keningnya. "Kunci cadangan? Tentu saja aku tidak punya, Nala. Aku hanya punya kunci untuk kamarku, sedangkan kunci lain di rumah ini tentu saja Gerald tidak memberikannya padaku. Saat sudah malam, anak buah Gerald akan mengunci rumah ini dan menyimpan kunci itu tanpa kuketahui dimana tempatnya."


"Astaga padahal aku sangat membutuhkan kunci Itu."


"Lalu kita harus bagaimana, Nala?"


"Athena, anak buah Gerard hanya mengunci rumah ini saat malam kan?"


"Iya Nala."


"Lalu saat siang seperti ini, bukankah kunci itu masih tercantel di gagang pintu itu kan?"


"Iya Nala, memangnya kenapa? Apa kau mau membawa kunci itu? Tentu saja tidak bisa, Nala. Karena Gerald pasti akan curiga."

__ADS_1


"Tidak Athena, aku tidak akan membawa kunci itu, tapi aku akan menggambar bentuk kunci itu agar bisa membuatkan duplikatnya," jawab Nala.


"Bagus sekali, kau memang sangat cerdik. Pantas saja Kak Zack percaya padamu."


Nala pun tersenyum. "Ini bukan waktunya untuk memujiku, lebih baik kita ke pintu belakang sekarang," sahut Nala. Mereka kemudian berjalan menuju ke pintu belakang rumah itu.


Setelah sampai di pintu belakang, Athena kemudian mengambil kunci pintu belakang tersebut dan memberikannya pada Nala.


Nala kemudian mengambil kertas yang ada di tasnya lalu mulai menjiplak bentuk kunci itu pada kertas yang dibawa olehnya.


"Sudah selesai," ujar Nala. Athena pun tersenyum. "Bagus sekali, Nala. Semoga rencana kita berjalan lancar. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kak Zack."


Nala pun merasa kesal mendengar perkataan Athena. "Athena, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"


"Apa yang ingin kau katakan, Nala?"


"Sebaiknya kau tidak usah terlalu berharap banyak pada Zack."


"Apa maksudmu, Nala? Memangnya kenapa? Apa aku salah kalau aku mencintai Kak Zack? Bukankah, kau mengatakan kalau dia sudah bercerai. Lalu, dimana salahku?"


"Ya, memang Zack sudah bercerai. Tapi dia juga sudah memiliki calon istri, dan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Jadi, lebih baik kau belajar untuk melupakan Zack."


"Tidak mungkin, itu tidak boleh terjadi. Kak Zack hanya milikku."


Bersambung...


NOTE: Mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Arandiah. Dijamin keren abis and bikin baper sampe kalian terkejut-kejut. Susah makan tidurpun tak nyenyak.



Blurb:


Sherry, seorang wanita cantik berusia 24 tahun, harus di jodohkan oleh sang kakek dengan pria yang tidak ia kenal. Tentu saja hal itu ditolak dengan keras oleh Sherry. Namun siapa sangka, sang kakek malah memberikan waktu selama tiga bulan, untuk Sherry memutuskan pernikahan itu dengan tinggal di rumah sang calon suami.


Daffin Mahendra, seorang pria dewasa berusia 30 tahun. Rupanya yang tampan dan menawan, serta dikagumi wanita cantik di luar sana. Akan tetapi, Daffin tidak pernah berniat untuk menikah. Entah apa alasannya, hanya Daffin yang tahu.

__ADS_1


Lalu bagaimana nasib perjodohannya dengan wanita yang tidak ia kenal. Sedangkan ia juga tidak pernah suka jika ada wanita yang mendekati dirinya.


Akankah Sherry bisa meluluhkan hati pria arrogant itu. Atau malah Daffin yang harus bisa meluluhkan hati Sherry?


__ADS_2