
NOTE: Selamat sore, ketemu lagi sama othor. Karena banyaknya permintaan yang meminta cerita ini untuk dilanjut kembali, maka othor akan melanjutkan kisah ini. Akan tetapi, maaf mungkin othor tidak bisa update secara rutin tiap hari ya, kemungkinan 2/3 hari sekali. Terima kasih yang sudah mau menyimak. Selamat membaca.
Seketika Leo pun begitu meradang mendengar perkataan Nala. Sorot mata serta raut wajahnya memerah menahan amarah di dalam dadanya. "Apa kau bilang? Hamil?" Nala pun terisak dalam pelukan Calista. Sementara itu, Zack yang merasa terkejut dengan pengakuan Nala kini menatap Leo sambil tersenyum getir. "LANCANG SEKALI KAU MENYENTUH PUTRIKU! DASAR BAJINGAN!" BUGH BUGH BUGH Beberapa kali, Leo melayangkan pukulan pada Zack.
"Pa... Jangan Pa!" isak Nala. Akan tetapi, Leo tak mengindahkan permintaan putrinya itu. Meskipun, Nala berulang kali berteriak. Sedangkan Zack, memang sengaja tidak membalas pukulan dari Leo. Dia tidak ingin membuat Leo semakin merasa marah dan membuat kondisi semakin rumit.
BUGH BUGH BUGH
"Papaaa... Papa Jahat!"
"Hentikan Pa!"
"Cukup Leo! Cukup atau aku dan putriku akan pergi meninggalkanmu!"
Spontan, Leo pun menoleh pada Calista.
"CALISTA!" "APA? KAMU MAU APA? SILAHKAN BERTAHAN DENGAN KEEGOISANMU ITU DAN BIARKAN AKU PERGI DENGAN PUTRIKU!"
"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku?"
"Tentu saja! Putriku adalah nyawaku! Aku akan melakukan apapun asalkan putriku bahagia! Termasuk meninggalkanmu, Leo!"
Calista menatap Leo dengan tatapan tajam, tak kalah dari Leo yang saat ini juga balas menatap istrinya dengan tatapan tajam setelah menghentikan pukulannya pada Zack. Akan tetapu, Leo memutus tatapan diantara keduanya dengan berdecih lirih.
"Cih! Tak kusangka anak dan istriku akan meninggalkan aku hanya demi seorang mafia tidak berguna itu! Bahkan, mafia yang sudah menginjak-injak harga diri keluarganya sendiri! Calista apa kau lupa bagaimana keluargamu dulu diinjak-injak oleh mafia brengsek itu? Apa kau lupa bagaimana keponakanmu tertekan, bahkan hampir saja mati gara-gara mafia gila itu? apa kau sudah melupakan semua itu, Calista?"
"Tapi dia sudah berubah, Pa! Zack bukanlah Zack yang dulu!"
Leo beralih menatap Nala. "Apa kau bilang? Berubah? Dari mana kau tahu dia sudah berubah Nala? Apa karena dia sudah menyentuhmu jadi kau bisa berkata seperti itu?"
"Sudah cukup, Leo! Kalau kau masih bicara lagi lebih baik kau pergi dari sini?" sahut Calista.
"Ck, dan kau akan meninggalkan aku begitu saja? Kau meninggalkan apa yang telah kita rajut hanya untuk nafsu putrimu itu?"
__ADS_1
"Bukan nafsu, tapi kebahagiaan putriku, Leo. Apa kau tidak bisa memberikan kesempatan pada orang lain? Apa kau sudah lupa pada masa mudamu dulu? Di dunia ini, tidak ada yang bisa luput dari kesalahan, Leo! Kau juga sudah diberi kesempatan oleh orang-orang untuk memperbaiki diri, lantas mengapa kau tidak bisa memberikan kesempatan pada orang lain?"
Leo terdiam, berulang kali dia mengatur napasnya. Sedangkan Nala kini mendekat ke arah Zack yang masih terkapar di atas lantai.
"Zack... Kita obati lukamu ya, Sayang!"
"Sayang? Cih! Menjijikan sekali!" gumam Leo seraya melirik pada Nala yang kini memapah Zack.
Melihat Leo yang kini terlihat lebih tenang, Calista kemudian mendekat pada suaminya itu.
"Leo..." ucap Calista dengan tatapan hangat.
"I love you, Honey. But please, give happiness to your daughter. Please..." Napas Leo masih terdengar begitu menderu, diiringi dada yang terlihat naik turun. Calista semakin mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Leo dan mengusap punggung suaminya.
"Honey, Please!"
Leo pun terdiam sejenak, hingga beberapa saat kemudian, sebuah anggukan pun mendarat di bahu Calista. Spontan, Calista pun melepaskan pelukannya.
Leo menganggukkan kepalanya kembali meskipun disertai raut wajah datar, serta emosi yang masih tergambar jelas di wajahnya.
"Terima kasih, Sayang." Calista kembali memeluk Leo sambil mengedipkan salah satu matanya pada Nala.
"Tapi kalian harus ingat, jika pernikahan ini membawa penderitaan bagi putriku, aku tidak mau tanggung jawab!" desis Leo.
"Putri kita pasti akan bahagia, Leo. Lebih baik, sekarang kita istirahat ya! Nanti malam, kita akan mengadakan pernikahan untuk putri kita."
"Apa kau bilang? Bahagia? Aku tidak yakin!" balas Leo, lalu berjalan menuju ke kamar. Calista tersenyum kecut, lalu beralih menatap Nala dan Zack.
"Kalian tenang saja, biar mama yang akan menangani ini semua."
Nala menganggukkan kepalanya, setelah itu Calista berjalan menuju kamar untuk meyakinkan Leo, meninggalkan Nala dan Zack yang masih duduk di ruang tengah unit apartemen tersebut. Kini, Nala tampak tersenyum sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Akhirnya kita menikah juga, Tuan Mafia."
__ADS_1
Namun, Zack hanya membalasnya dengan helaan napas panjang. "Kamu kenapa? Kenapa kamu nggak senyum? Kamu nggak bahagia sama pernikahan kita? Apa kamu kesal karena Papa udah memukulmu?"
"Bukan itu, Nala!"
"Lantas?"
"Nala, apa kamu nggak sadar dengan apa yang kamu katakan?"
"Apa? Memangnya apa yang aku katakan?"
"Nala, bukankah tadi kamu bilang kalo kamu lagi hamil? Kalo orang tuamu tanya tentang kehamilanmu gimana?"
"Astaga Zack, kau payah sekali! Bukankah kau seorang mafia? Masa hal kaya gitu kamu nggak ngerti sih!"
Zack mengerutkan keningnya. "Aku bener-bener nggak ngerti, Nala. Apa kita harus membeli anak? Seperti yang biasa kulakukan?"
"Oh ****, apa kau gila? Kau pikir aku manusia tidak bermoral sepertimu? Asal kau tahu Zack, calon istrimu ini adalah wanita paling indah dengan penuh pesona, dan juga berhati mulia bak intan permata. Serta tumbuh dalam bimbingan Pak Ustadz, lalu kau menyuruhku untuk membeli anak? Ide gila macam apa ini?"
"Lalu, kita harus bagaimana, Nala?"
"Zack, kau bodoh sekali. Tinggal bikin anak apa susahnya sih? Masa gitu aja pake nanya! Kalo dalam waktu deket kamu nggak bisa hamilin aku itu namanya kamu impoten, juga ejakulasi dini! Dan dugaanku selama ini kalo kamu itu cuma duda mafia yang udah karatan itu bener! Edi tansil kan jadinya!"
"Edi tansil itu apa?"
"Ejakulasi dini tanpa hasil! Udah ah, aku mau mandi dulu, sejam lagi penata rias aku dateng. Aku mau dandan yang cantik buat pernikahan kita. Ya, meskipun cuma keluarga yang dateng. Nggak masalah sih, setelah semua masalah selese, kita bisa adain resepsi. Iya kan, Edi tansil?"
"Kau pikir aku buronan? Aku calon suamimu, Nala!"
"Iya sayangnya Edi tansil, mana ambigu lagi!" gerutu Nala sambil berjalan meninggalkan Zack.
"staga, kenapa aku harus menikahi wanita seperti itu? Senjata paling berbahaya pun bisa aku taklukan tapi kenapa aku harus menikahi wanita seperti itu? Oh ****!" geram Zack. Saat sedang merasa begitu kesal, tiba-tiba siluet Nala saat mengganti baju sedikit terlihat dari celah pintu kamar. Zack menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh indah Nala yang membuatnya bergairah, bahkan tubuh bagian bawahnya pun seketika ikut bereaksi.
"Nala akan kutunjukkan padamu kalo aku bukanlah Edi tansil," gumam Zack kembali sembari berjalan mendekat ke arah kamar.
__ADS_1