
Saat Nala tengah termenung memikirkan apa yang akan dia lakukan, tiba-tiba ponsel Zack berbunyi. Zack kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam saku jasnya lalu mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo..." jawab Zack, sejenak raut mukanya berubah.
"Aku ke sana sekarang," jawab Zack. Dia kemudian menatap Nala. "Aku ada urusan sebentar, kau tunggu di sini sekarang, jangan pernah mencoba kabur dariku atau pistol ini akan menembus kepalamu sekarang juga!" ucap Zack sambil menatap Nala dengan tatapan begitu tajam. Nala pun hanya menarik kedua sudut bibirnya bercampur rasa takut di dalam hatinya.
Zack kemudian keluar dari dalam rumah, lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya, diikuti dua mobil di belakangnya. Dia tampak mengetuk-ngetuk jarinya pada jok mobil menahan perasaan yang begitu campur aduk.
"Awas kau, Gerald. Akan kusembelih kepalamu kalau sesuatu terjadi pada Athena," ucapnya sambil menghembuskan nafas panjangnya. Selang setengah jam kemudian, mobil itu pun sudah sampai di sebuah gedung tua yang ada di pinggiran kota, di sekeliling gedung itu tampak dipenuhi ilalang yang begitu tinggi.
Sedangkan di depan gedung itu ada beberapa orang yang juga berpakaian formal dengan menggunakan kaca mata hitam tampak berdiri sambil menatap Zack dan anak buahnya, serta mengisyaratkan agar Zack masuk sendiri ke dalam gedung itu.
Zack kemudian melenggang masuk ke dalam gedung kosong tersebut, lalu setapak demi setapak menaiki anak tangga menuju ke rooftop gedung itu. Saat Zack sudah sampai di rooftop, tampak seorang laki-laki blasteran dengan tinggi badan kurang lebih 185 cm, dan berperawakan kekar dibalut kemeja slim fit tampak menunggunya sambil menyunggingkan senyum smirknya.
"Aku tidak punya banyak waktu! Cepat katakan apa maumu! Apa belum cukup kau membuat kekacauan? Kekacauan yang sangat memperhatikan karena hanya mempermalukan dirimu saja! Jadi, jangan sampai kesabaranku habis dan peluru ini menembus kepalamu!"
"Ck, ck, ck, ck, ck.., apa kau sedang bermimpi, Zack? Seharusnya saat kau mengacungkan pistol itu ke kepalaku, kau harus ingat saat kau dulu kelaparan di panti, dan atas kemurahan hati ayahku, kau bisa jadi sekarang ini!"
"Cih, bedebah kau! Tidak usah banyak basa-basi, cepat katakan padaku apa maumu! Daripada kau berkata hal yang tidak penting seperti ini lebih baik kau kembalikan Athena padaku!"
"Hahhahahhaha..., apa kau bilang? Athena? Berikan dulu seluruh kekuasaanmu padaku baru kukembalikan Athena padamu!"
"Itu tidak akan pernah kulakukan! Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah mengingkari janjiku pada Papa!"
"Kau masih saja keras kepala, Zack. Asal kau tahu semua yang kau miliki seluruhnya adalah milikku!"
"Semua sudah hilang Gerald, semua sudah hilang sejak kau mengkhianati Papa lalu menculik Athena begitu saja!"
"Menculik Athena? Athena baik-baik saja denganku, jika kau tidak ingin aku menggangumu lebih baik kau serahkan lima puluh persen kekuasanmu atau jika kau ingin Athena kembali, berikan kekuasaanmu seluruhnya padaku!"
"Itu tidak akan pernah kulakukan pada pengkhianat yang tidak punya harga diri sepertimu! Kalau aku mau, aku bisa mematikan perdaganganmu detik ini juga, tapi aku masih bisa menahan egoku karena Athena ada bersama manusia rendah seperti dirimu!"
"Dasar keras kepala! Kau benar-benar tidak sadar diri, Zack! Berani-beraninya kau menghinaku!" bentak Gerald sambil menodongkan pistol di atas kepala Zack.
"Bunuh saja aku kalau kau mampu karena itu sama artinya kau sedang menggali kuburmu sendiri! Kuberi kau waktu selama satu bulan, kembalikan Athena atau kau akan kubunuh secara perlahan dengan mematikan pergerankanmu, hingga akhirnya kau sama seperti seluruh anak buahmu yang saat ini sudah jadi abu! Camkan itu!" bentak Zack sambil berjalan meninggalkan Gerald.
"Dasar brengsek kau, Zack!" teriak Gerald diiringi letusan pistol yang menggema di udara, Zack pun mengambil pistol di pinggangnya, balas menembakkan pistol itu ke samping kepala Gerald tanpa menoleh sedikitpun padanya.
Dia kemudian turun dari gedung tua itu, lalu masuk ke mobilnya dan kembali ke rumahnya.
***
Setengah jam kemudian, Zack pun sudah sampai di rumah, lalu mendekat pada Nala yang saat ini sedang duduk di atas sofa.
"Hei kau, siapa namamu?"
"Caca."
__ADS_1
"Caca?"
"Ya, namaku Caca."
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
"Oh begini Tuan Zack, bukankah kau tahu aku sangat menyukai Dokter Alvaro."
"Memangnya kenapa kalau kau menyukai Dokter Alvaro?"
"Begini Tuan Zack, kalau hari ini aku bertemu dengan Dokter Alvaro, aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku saat bertemu dengannya. Dan aku yakin, pasti akan sangat mengganggu pertemuan kalian. Emh, begini Tuan, bagaimana saat kau bertemu dengan Dokter Alvaro, aku tunggu di luar ruangan saja."
"It's a good idea."
"Baik Mr. Zack. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
"Kenapa malah kau yang memerintahku! Dasar wanita bodoh!"
"Ups maaf."
Mereka berdua kemudian menuju ke rumah sakit tempat Laurie dirawat dengan menaiki mobil Zack. Mereka duduk di jok belakang, sedangkan yang mengendarai mobil itu adalah salah satu anak buah Zack.
Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam. Nala yang tergelitik untuk menggoda Zack tampak mulai melirik pada Zack yang duduk di sampingnya. Saat ini Zack terlihat begitu sibuk memainkan ponsel dan tablet miliknya.
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan Zack?"
"Oh baiklah, Tuan. Sepertinya anda tidak seburuk yang kupikir."
"Cih! Lihat saja nanti, dan jangan terlalu berharap lebih karena aku bukanlah orang baik!"
"Aku tahu itu, kalau kau orang baik kau tidak menjadi mafia seperti ini. Mungkin kau berprofesi nenjadi ustaz. Begitu kan Tuan Zack?"
"Diam! Jangan pernah bermain-main denganku ataupun meledekku karena peluru di dalam pistol ini bisa menembus kepalamu sekarang juga!" bentak Zack sambil memperlihatkan sebuah pistol yang dia letakkan di pinggang kanannya. Nala pun terdiam, nyalinya sempat ciut melihat pistol yang ada di pinggang sebelah kanan Zack.
"Astaga, dia ternyata benar-benar mafia berdarah dingin batin," Nala.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit tersebut. Zack turun dari mobil kemudian bergegas menuju ke ruangan Alvaro. Sedangkan Nala, berjalan di belakangnya sambil memperhatikan keadaan sekitar, agar tidak bertemu dengan Olivia.
"Kau tunggu di sini saja," kata Zack pada Nala setelah mereka sampai di depan ruang kerja Alvaro.
"Iya tentu saja, aku tidak mau Dokter Alvaro jadi salah tingkah karena melihat pesonaku."
"Cih! Dasar wanita gila!" bentak Zack, dia kemudian masuk ke dalam ruang kerja Alvaro meninggalkan Nala yang duduk di depan ruangan itu sambil menghembuskan nafas panjangnya.
"Semoga aku tidak bertemu dengan Tante Olivia di rumah sakit ini," ujar Nala.
Sementara Zack yang baru saja membuka pintu ruangan Itu tampak disambut oleh senyuman ramah dari Alvaro. Zack kemudian berjalan mendekat ke arah Alvaro lalu duduk di depannya.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan Zack," sapa Alvaro.
"Selamat pagi, Dokter. Tolong jangan banyak berbasa-basi karena hari ini aku sibuk dan tidak punya banyak waktu."
"Iya Tuhan Zack, saya tidak akan berbasa-basi dengan anda saya. Sebelumnya, saya minta maaf kalau saya sudah mengganggu. Tapi memang harus ada yang disampaikan pada anda."
"Apa yang mau kau sampaikan padaku? Cepat katakan sekarang juga! Kau sudah dengar kan kalau aku tidak punya banyak waktu!"
"Iya Tuan Zack, sekali lagi saya mau minta maaf karena sudah sudah mengganggu anda."
"Tidak apa-apa, kalau ini ada hubungannya Laurie, kau memang harus segera memberitahukanku. Tapi, kau tahu sendiri aku memang tidak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu."
"Iya Tuan Zack, saya meminta anda datang karena saya harus menceritakan observasi yang telah saya lakukan tadi malam. Ini tentang kondisi kesehatan Nyonya Laurie yang sebenarnya."
"Oh iya, jadi bagaimana dengan hasil observasimu tadi malam? Dia masih bisa sembuh kan?"
Alvaro kemudian memasang wajah serius disertai dengan tatapan sendu. "Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Aku sedang tidak ingin berbelas kasih padamu! Sekarang cepat ceritakan keadaan Laurie padaku."
"Tuan Zack, saya minta maaf."
BRAK
"Cepat katakan, Dokter bodoh!"
"Begini Tuan Zack, sebenarnya ada beberapa bagian saraf dari Nyonya Laurie yang benar-benar sudah tidak bisa berfungsi, jadi meskipun suatu saat nanti Nyonya Laurie bangun dari koma-nya, dia tidak akan bisa normal kembali seperti dulu."
"Apa maksudmu!"
"Begini Tuan, kalaupun Nyonya Laurie bisa sembuh, kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan pada sebagian tubuhnya. Dan dia tidak bisa beraktifitas dengan normal."
"Apa katamu?"
"Maafkan saya Tuan, Nyonya Laurie kemungkinan mengalami kelumpuhan pada separuh tubuhnya."
"Tidak," ujar Zack lirih. Dia pun hanya termenung, tubuhnya diam membeku, sedangkan tatapan matanya terlihat kosong. Dia begitu syok mendengar semua yang dikatakan oleh Alvaro, dan benar-benar tidak menyangka jika Laurie akan mengalami kelumpuhan pada sebagian tubuhnya.
Penyesalan pun merasuk ke dalam hatinya, terbayang kembali pertengkaran dengan Laurie yang menyebabkan kondisi Laurie seperti ini. Namun, dia juga tak sanggup kalau harus menghadapi kenyataan jika ternyata istrinya kini menjadi seorang wanita lumpuh.
Apa kata dunia kalau tahu kenyataan pahit itu? Bukankah ini artinya dunia akan menertawakan dirinya? Zack, seorang pimpinan king mafia, memiliki istri yang lumpuh.
"Tidak!" gumam Zack.
Dia kemudian bangkit dari atas kursi yang dia duduki, lalu keluar begitu saja dari ruangan Alvaro, tanpa permisi.
"Tuan Zack!" panggil Alvaro, namun panggilan itu diabaikan begitu saja oleh Zack. Melihat tingkah Zack, Alvaro pun tersenyum.
"Laurie, tadi malam kau meminta padaku untuk menolongmu, hari ini hanya ini yang aku bisa untuk mencoba menolongmu melepaskan diri dari Zack. Semoga saja Zack berubah pikiran, dan mau melepasmu."
__ADS_1
Sementara itu, Nala yang melihat Zack keluar ruangan dengan tatapan wajah kosong, dan melewatinya begitu saja pun begitu terkejut dengan perubahan sikap Zack yang semakin terlihat aneh.