
Nala berusaha melepaskan ciumannya sambil mendorong dada Zack. "Apa-apaan ini, Tuan Duda Mafia? Kenapa kau menyentuhku lagi? Bukankah kemarin kau sudah berjanji untuk tidak menyentuhku lagi? Cih!"
"Itu kemarin, tapi tidak sekarang!"
"Dasar busuk, kau pikir aku ini apa? Kau tidak bisa seenaknya menyentuhku seperti ini! Aku tidak rela tubuhku dijamah oleh laki-laki sepertimu!" protes Nala. Zack kemudian menatap Nala dengan tatapan tajam. "Kau bertanya padaku siapa kau?"
"Ya, bukankah aku hanya sekedar membantumu menjalankan rencanamu? Setelah adikmu Athena pulang, kau juga akan membebaskan aku kan? Lalu, diantara kita semuanya berakhir, dan aku sudah menunggu saat-saat itu! Karena aku sudah ingin lepas darimu, Tuan Duda Mafia Karatan!"
Zack tersenyum smirk mendengar perkataan Nala. "Kau ingin secepatnya lepas dariku? Jangan bermimpi, Nala."
"Apa maksudmu?"
Zack semakin menatap Nala dengan tatapan mata tajam. "Bukankah kau dulu yang datang padaku? Membohongiku dan membuat hidupku hancur? Ingat wanita siluman, kau sudah mempermainkan aku! Jadi, kau harus membayar semua yang kau lakukan padaku!"
"Tapi tidak seperti ini! Kau tidak boleh menyentuhku semaumu seperti itu! Aku tidak mau tubuh menawanku terjamah oleh laki-laki sepertimu! Bagaimana nanti kalau pesona dan kecantikanku memudar gara-gara terkontaminasi virus mafia sepertimu!"
"Apa kau bilang! Sekali lagi kau mengatakan hal seperti itu, maka aku akan membunuhmu!"
"Heiiii helowww, mau membunuhku? Yang benar saja, memangnya kau sanggup hidup tanpa melihat wanita paling indah seperti diriku?"
"Diam! Dasar wanita siluman! Lebih baik kau tidak usah banyak bicara! Sekarang diam dan ikut aku!"
"Ikut kamu? Kemana? Bukankah aku harus menjaga, Leon?"
"Leon baik-baik saja, bukankah kau tahu itu hanya pura-pura, jadi lebih baik kau ikut denganku!" ucap Zack sambil mengendarai mobilnya keluar dari basemen parkir mobil di rumah sakit itu.
"Astaga, kemana? Bagaimana kalau anak buah Gerald tahu?"
"Tidak akan! Leon baru saja mengirimkan pesan padaku kalau mereka sudah pergi!"
__ADS_1
"Lalu kita mau pergi kemana, Tuan Mafia?"
"Ke suatu tempat untuk memastikan kalau kau hanya jadi milikku!"
"Apa maksudmu? Kenapa ini kedengarannya sangat menakutkan! Tuan Mafia, lebih baik kau hentikan mobilmu, atau aku akan teriak!"
"Teriak saja wanita siluman! Tidak akan ada yang mendengar teriakkanmu! Apa kau sudah lupa, kita ada di dalam mobil, hah?"
Nala pun terisak. Melihat Nala yang menangis, Zack pun meliriknya. "Kenapa kau menangis? Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?"
"Bagaimana tidak menangis karena ada mafia buruk rupa yang mau menculikku!"
"Cih! Aku tidak menculikmu! Apa kau sudah lupa kedatangan kita ke sini untuk membebaskan Athena! Kalau aku menculikmu, lalu siapa yang menggoda Gerald?"
"Lalu? Kita mau kemana? Bukankah kau tadi mengatakan kalau kau mau memastikan agar aku menjadi milikmu? Aku tidak mengerti maksudmu!"
"Apa kau sudah lupa apa yang tadi kau lakukan dengan Gerald?"
"Cih, hanya makan malam? Apa kau sudah lupa kalau tadi Gerald memegang wajahmu?"
Mendengar perkataan Zack, sontak Nala pun terdiam. Namun detik selanjutnya, dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha...., hahahaha..."
"Kenapa kau tertawa?"
"Aku baru tahu ternyata mafia sepertimu bisa cemburu. Jadi kau cemburu pada Gerald hingga bersikap seperti ini kan?"
"Enak saja, aku tidak cemburu! Aku hanya ingin memastikan kalau kau hanya menjadi milikku!"
"Dasar munafik, bilang saja kalau kau menyukaiku, iya kan? Nggak heran sih, mana ada yang bisa menolak pesona dan keindahan wanita seperti diriku ini."
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri! Aku berbuat seperti ini karena kau saat ini tawananku, Nala. Kau cuma mainanku! Dan tidak boleh ada satupun yang bisa menyentuhmu kecuali aku! Apa kau paham! Jadi sekali lagi, jangan terlalu percaya diri!"
"Cih dasar munafik, seperti ular berbulu domba!" gumam Nala.
"Apa kau bilang wanita siluman?"
"Nggak, aku nggak ngomong apa-apa. Aku cuma sedang membandingkan antara kau dan Gerald. Sepertinya kau jauh lebih tampan dibandingkan Gerald, si raja iblis yang sebenarnya itu!"
"Jadi menurutmu aku jauh lebih tampan dibandingkan dengan Gerald kan?"
"Ya menurutku begitu," dusta Nala, yang sontak membuat Zack tersenyum.
'Idih, dasar mafia karatan! Dia tadi yang mengatakan agar aku tidak terlalu percaya diri, tapi sekarang dia ternyata jauh lebih percaya diri dariku. Lagipula muka kaya gesekan amplas aja ngrasa cakep. Helow, kalo lu cakep Dilraba Dilmurat juga pasti mau. Lah ini, Laurie aja melarikan diri, howek. Iyuh menjijikan kamseupay,' batin Nala sambil terkekeh. Namun, raut bahagia Nala tiba-tiba memudar saat melihat Zack ternyata membawanya pergi ke sebuah hotel.
"Astaga, Tuan Mafia? Apa yang kau lakukan? Jadi kau mau memperkosaku? Aku tidak rela, Tuan Mafia! Aku tidak rela wajah cantikku dan tubuh indahku kuberikan pada laki-laki gesekan amplas sepertimu! Astaga, apa kata dunia? Putri dari pengusaha ternama bernama Leo Saputra diperkosa oleh seorang Duda Mafia Karatan! Oh noooo!" teriak Nala saat Zack baru saja memarkirkan mobilnya.
"Diam wanita siluman! Kalau kau berani berteriak lagi atau melawanku, aku akan membunuhmu dan seluruh keluargamu yang ada di Indonesia! Apa kau mengerti?" bentak Zack sambil menodongkan pistolnya pada Nala.
"Apa kau mengerti?"
Nala pun menganggukkan kepalanya. "Ayo cepat turun!" bentak Zack.
Nala kemudian turun dari mobil, lalu Zack menarik tubuhnya, dan melingkarkan tangannya di pinggang Nala sambil menodongkan pistol di belakang pinggang Nala.
"Mama..." isak Nala saat mereka memasuki hotel.
"Jangan menangis!"
***
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di salah satu bagian kota Munchen, Athena tampak melihat sisa abu dari bekas kobaran kain dan botol yang dilempar oleh seseorang ke rumahnya. Dan saat dia melihat Gerald pulang dengan raut wajah panik, Athena tampak menarik kedua sudut bibirnya.
"Aku tahu itu pertanda darimu, Kak Zack. Aku tahu pasti kau yang melakukan semua ini. Aku tahu kau sudah ada di sini, dan aku tahu kedatanganmu ke sini untuk menjemputku kan? Kak Zack, apa kau tahu, aku sudah sangat merindukanmu."