
Cekrek!
"Yes, dapat!" gumamku kegirangan.
Aku sudah kembali di kafe yang sama seperti kemarin. Dimana tempat janjian mas Raihan dengan wanita pelakor itu untuk makan siang. Diam-diam aku mengecek ponsel mas Raihan saat dia mandi tadi pagi. Dan aku juga mendapat informasi jika pelakor itu bernama Gita.
Sekarang aku memiliki bukti kedekatan mereka. Waktunya membongkar permainanmu di belakangku, Mas.
"Hihihihi .... "
Suara lengkingan yang berhasil membuat bulu kudukku meremang. Dia muncul lagi. Sosok kuntilanak peliharaan pemilik kafe ini. Aku segera pergi sebelum dia terbang mendekat ke arahku. Hari ini aku tidak memesan apapun, hanya duduk dan mengamati.
Beberapa karyawan kafe menetap tak suka padaku, yang hanya numpang duduk saja di sini. Bodoh amat. Siapa suruh bos mereka menggunakan jasa kuntilanak sebagai penglaris. 'Kan serem.
Oke, waktunya pulang.
...----------------...
"Mas!" panggilku sedikit ketus.
Seperti biasa, mas Raihan langsung merebahkan dirinya ketika malam tiba.
"Apa, Dek? Besok aja, ya? Mas capek."
Huh! Selalu seperti itu.
"Mas ini kenapa, sih? Sekarang beda. Mas gak sayang lagi sama aku?"
Mas Raihan mengubah posisinya agar menghadapku.
"Kamu ini mau ngomong apa?"
"Mas ... Selingkuh 'kan?"
Ada sedikit rasa takut saat mengucapkan kalimat itu. Takut jika hal itu benar-benar terjadi. Namun kenyataannya memang seperti itu.
"Apa maksudmu, Dek? Kamu lagi ngelindur? Apa mimpi buruk?"
"Jangan bohong, Mas. Aku punya bukti."
Segera kuraih ponsel di atas meja nakas samping tempat tidur. Membuka kunci pada ponsel, lalu masuk ke galeri.
__ADS_1
"Nih! Mas selingkuh sama wanita bernama Gita 'kan? Mas sering chatan sama dia, makan siang sama dia. Iya 'kan, Mas?!" Suaraku mulai bergetar.
Menahan gejolak hati yang semakin bergemuruh. Mataku sudah ikut panas dibuatnya.
Ekspresi mas Raihan seketika berubah. Dia mengubah posisi menjadi duduk. Kemudian mengambil ponselku, untuk melihat foto yang kuambil dengan diam-diam tadi siang.
"Kamu dapat darimana, Dek?"
"Mas gak usah ngelak lagi, sudah ada bukti. Jujur aja, Mas. Kamu ada main 'kan sama pelakor itu?" Aku pun ikut mengubah posisiku. Duduk bersila di hadapan mas Raihan dengan selimut yang sudah turun menutupi tubuh bawahku.
"Kamu ngikutin Mas?" Mas Raihan menaikkan alisnya.
Aku terdiam membisu.
"Dek? Kamu diem-diem ngintilin Mas kerja?" tanya mas Raihan lagi.
Ku ambil nafas dalam-dalam, lalu membalas, "Iya. Biar aku dapet bukti perselingkuhan, Mas, sama wanita itu. Puas?!"
"Hahaha. Gak boleh su'udzon sama suami sendiri. Mas gak ada apa-apa sama Gita. Kami hanya sebatas rekan kerja, Dek. Gak lebih."
"Bohong. Hiks .... " Air mataku sudah tumpah, beberapa diantaranya membasahi selimut yang menutupi sebagian tubuh.
"Mas sayang sama kamu, Dek. Mana mungkin Mas berani mendua. Jadi kamu gak perlu khawatir Mas bakal pindah ke lain hati."
Tuturnya terdengar jujur. Hatiku langsung luluh serta merasa bersalah dibuatnya. Sadar jika masalah ini sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik tanpa adanya tindakan saling tuduh.
"T-tapi, Mas. Hal wajar 'kan jika aku mencurigaimu?" tanyaku, menunduk penuh sesal.
"Kalau kamu gak percaya, kita bisa telpon Gita sekarang," tawarnya.
"Eh?" Tentu saja aku terkejut.
Sebelum aku mengiyakan tawaran itu, mas Raihan sudah lebih dulu meraih ponselnya. Lalu menghubungi nomor seseorang.
"Halo? Gita?" sapa mas Raihan saat panggilannya tersambung.
Kemudian dia memencet tombol loudspeaker dan membesarkan volumenya agar aku bisa mendengarkan suara seseorang di seberang sana dengan jelas.
"Halo, Mas? Ada apa?" Suara wanita itu terdengar lembut.
"Ada seseorang yang ingin berbicara denganmu."
__ADS_1
"Siapa, Mas?" Mas Raihan mendekatkan ponselnya padaku.
"Bicaralah. Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan padanya," bujuknya lirih padaku.
"H-halo, Mbak? Mbak ini ada hubungan apa, ya, sama suami saya? Kok saya pernah lihat Mbak ngobrol sama suami saya di kafe?"
"Oh, ini pasti istri Mas Raihan,ya?Perkenalkan nama saya Gita. Sekertaris dari pemilik proyek yang kerjakan oleh tim Mas Raihan , Mbak. Kami bertemu hanya membahas seputar proyek saja. Tidak lebih."
"Begitu, ya. Saya hanya mau menanyakan hal itu. Maaf jika mengganggu." Aku memberi isyarat pada mas Raihan agar dia mengambil alih situasi yang mulai canggung ini. Aku merasa seperti seorang polisi yang sudah salah tuduh.
"Tidak apa-apa, Mbak. Santai saja."
"Sudah ya, Gita. Aku tutup dulu." Suamiku mengambil alih ponselnya.
"Baik, Mas. Jangan lupa besok siang ada pembahasan lebih lanjut tentang proyek kerja sama kita."
"Baik. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Pip
Aku memukuli dada mas Raihan, setelah dia mematikan sambungan telepon.
"Mas ini mau ngerjain aku, ya?" tanyaku kesal.
"Emang kenapa, Dik?"
"Masa langsung main sambungin gitu aja. 'Kan jadi malu," Aku memanyunkan bibir.
"Lah, katanya kamu nggak percaya sama Mas. Makannya Mas buktiin, kalau Mas ini nggak ada apa-apa sama Gita."
"Ya deh, iya. Aku percaya," balasku pasrah. Seperti ada sedikit perasaan aneh yang mengganggu.
"Nah gitu, dong. Tidur yuk? Mas udah capek, nih. Kerjaan Mas besok banyak."
"Mabar dulu yuk, Mas." Alisku naik turun memberi kode.
Mas Raihan tersenyum penuh arti. Lalu mendekap tubuhku, sambil merebahkannya. Tak lama kami mulai terlena dalam permainan malam ini.
Meski rasa curigaku belum sepenuhnya menghilang. Setidaknya aku berusaha untuk percaya pada suamiku sendiri. Mencoba berbaik sangka meski yang terjadi malah sebaliknya.
__ADS_1