Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
28. Abu-abu


__ADS_3

Selesai membahas beberapa hal, akhirnya kami pulang setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid terdekat.


Althaf sedang berada di kamarnya saat aku dan mas Raihan duduk santai di ruang keluarga. Kami saling terdiam. Tak ada yang bersedia membuka suara di antara kami.


"Dek .... "


"Mas .... "


Kami membuka suara bersamaan.


"Kamu dulu aja."


"Mas duluan gak apa-apa." Aku merasa perlu mendengarkan mas Raihan terlebih dahulu.


"Oke. Maafin, Mas, ya?"


"Eh?"


Kaget dong. Kok tiba-tiba. Kemarin mas Raihan marah-marah seperti kesetanan. Tak mau mendengar semua alasan yang aku lontarkan. Kenapa sekarang dia malah minta maaf?


"Mas minta maaf karena sudah bersikap kasar sama kamu. Mas gak tau apa yang bikin Mas jadi kayak gitu." Penjelasan mas Raihan membuatku kepikiran.


"Maksudnya gimana, Mas?"


"Tiba-tiba aja Mas kayak pengen marah-marah sama kamu. Apalagi ngeliat kamu sama Bryan. Itu kayak langsung memacu emosi yang Mas sendiri aja gak bisa ngendaliin."


Mas Raihan melanjutkan. "Tapi habis dari rumah ustadz Khalid tadi rasanya hati Mas jadi adem. Emosi, rasa dongkol atau apapun itu hilang entah kemana."


"Kayaknya ada yang ngerjain Mas deh," simpulku.


"Kamu ini ngomong apa?"

__ADS_1


"Ada yang kirim guna-guna. Biar pernikahan kita berantakan, Mas."


"Hahaha. Sejak kapan kamu percaya yang kayak begituan, Dek?" Mas Raihan malah menertawaiku.


Memang, ini adalah dugaan paling tidak masuk akal yang pernah aku pikirkan. Mau tak percaya, tapi itu nyata. Mari kita buktikan saja. Siapa sebenarnya yang berani mengusik ketenangan keluarga kami?


Dalam benak, nama Gita terngiang-ngiang begitu saja. Aku mencurigai wanita yang mengaku rekan kerja mas Raihan itu. Bahkan aku masih menaruh rasa was-was jika mereka ada main di belakangku.


"Tadi katanya mau ngomong, Dek?"


Suara berat itu sedikit membuatku tersentak karena melamun. Kutolehkan kepala ke arah mas Raihan, menatap wajah teduhnya—berbeda sekali dengan kemarin yang terlihat gelap penuh amarah.


"Aku bisa melihat makhluk yang tak kasat mata, Mas. Mata batinku terbuka," tuturku, to the point.


Alis mas Raihan sedikit naik, menatapku seperti tak percaya. Seolah ingin menanyakan. 'Apa kau bercanda?'


Maka aku menjawab sebelum dia bertanya. "Aku serius, Mas. Gak bercanda."


"Oh, jadi Mas percaya?"


Dia mangut-mangut. Aku yang merasa heran. Kenapa mas Raihan tidak terkejut atau menyangkalnya?


"Awalnya Mas emang gak percaya. Tapi kata ustadz Khalid hal itu memang benar adanya."


"Apa? Ustadz Khalid udah tau?" Mataku terbelalak.


"Gak usah kaget gitu. Bahkan beliau bisa bantu buat nutup mata batinmu lagi kok."


"Serius? Tapi .... "


"Tapi apa, Dek?"

__ADS_1


"Mata batin ini kayak ngasih petunjuk sama aku, Mas."


"Petunjuk apa?"


"Soal makam di samping rumah itu."


Wajah mas Raihan berubah pias.


"Jangan macam-macam, Dek. Kamu tau sendiri kalau makam itu sudah memakan banyak korban. Mas tau semuanya. Termasuk tentang hal yang menimpa tetangga sebelah kita."


Deg.


Jadi suamiku sudah tahu jika Yati dan suaminya meninggal karena aku?


Secara tak langsung hal itu memang fakta dan aku tidak menyangkalnya. Aku berpikir jika saat itu Yati memang sengaja menceritakan kisah tentang Sekar padaku. Entah motifnya apa. Yang pasti dia rela berkorban demi aku.


Menumbalkan diri sekaligus suaminya demi memberitahuku sebuah kenyataan. Apa dia melakukannya karena tahu jika mata batinku terbuka? Yang mana aku semakin peka dengan apa yang ada di sekitarku. Sama seperti anaknya, Bagas. Mereka seperti meminta bantuanku untuk menyelidiki kasus kematian mereka.


"Dek?"


"E-eh, apa?" Tepukan pelan pada bahu mengagetkanku.


"Kamu ini suka sekali melamun. Kalau kamu jadi kayak tadi malam, Mas 'kan khawatir," omel mas Raihan.


Aku hanya nyengir menanggapinya. Menyembunyikan pikiranku yang entah melalang buana kemana. Banyak pikiran berkecamuk. Dan belum ada pencerahan sedikit pun karena semuanya masih abu-abu.


"Aha!" seruku tiba-tiba.


"Eh, apa, Dek? Kok main teriak aja? Telinga Mas pengang, nih." Mas Raihan menatapku heran. Mengusap telinganya yang berdekatan denganku.


"Aku ingat tempat terakhir yang kudatangi sebelum sadar tadi, Mas. Gudang tua di belakang rumah pak Kades. Ya, aku tak mungkin salah." Mataku berbinar, seperti baru saja menemukan harta karun yang terpendam.

__ADS_1


__ADS_2