Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
26. Bryan dan Sekar


__ADS_3

Hawa dingin yang menusuk kulit menyadarkanku saat tengah malam. Terbangun dengan selimut yang sudah menutupi sebatas dada hingga ujung kaki. Entah apa yang terjadi dengan pakaianku. Berada entah dimana mereka.


Yang pasti sekarang aku hanya mengandalkan selimut untuk menutupi tubuh polosku. Pantas saja dingin. Mencoba mengingat apa yang terjadi denganku sebelumnya. Aku benar-benar tak mengingat apapun.


Terakhir yang diingat, aku dan mas Raihan sedang bertengkar hebat. Lalu semuanya gelap begitu saja. Sepertinya aku pingsan.


Ku lirik mas Raihan yang tertidur membelakangiku. Dia juga hanya mengandalkan selimut untuk menutupi tubuh kekarnya. Maaf, Mas. Akhir-akhir ini aku sering berbohong. Sudah mengecewakanmu, hingga terjadi salah paham yang tak diinginkan seperti ini.


"Arghh .... " rintihku. Mencoba bangun dari tempat tidur berniat menemukan baju untuk kupakai.


Sedikit tertatih untuk mencapai lemari di ujung ruangan. Tubuhku rasanya sakit semua. Kepala juga masih terasa sedikit pening. Sepertinya ini efek dari mata batin sialan ini. Aku jadi lebih sering pingsan mendadak.


Srakk Srakk


Suasana yang sunyi dan tenang membuat suara dari luar rumah masuk dengan begitu jelas pada indera pendengaranku. Segera mengenakan pakaian lengkap, lalu mengecek ada apa gerangan di luar sana.


Dengan langkah mantap, aku mendekati jendela kamar dimana sumber suara tadi terdengar. Menyibak gorden sedikit, guna mengintip halaman rumah. Siapa tahu itu maling yang memulai aksinya.


Terlihat bayangan hitam yang sedang berjongkok di dekat makam keramat itu. Postur tubuh sosok tersebut seperti familiar di ingatanku. Pun dengan potongan rambutnya.


Pikiranku langsung tertuju pada Bryan. Ya, aku yakin sosok itu adalah Bryan, anak pak Kades. Apa yang dia lakukan di sana? Tengah malam begini? Apa dia sehat?


Beberapa menit saat mengamatinya, aku baru teringat cerita Yati tentang sahabatnya Sekar sekaligus istri Bryan yang mati mendadak setelah ijab kobul.

__ADS_1


Bukankah makam itu makam Sekar? Wanita yang membuat sumpah serapah hingga seluruh warga desa kena imbasnya. Apa yang terjadi dengan Sekar sebenarnya?


Tidak mungkin arwah bisa mengutuk warga, bukan? Sepertinya ada yang harus diluruskan di sini.


Klik.


Tiba-tiba lampu padam. Aku terlonjak dari tempatku mengintip.


"Mas? Mati lampu, nih. Bangun dong!" seruku sambil merayap berusaha mencapai ranjang mencari suamiku.


"Mas Raihan .... " panggilku lagi.


Aneh sekali. Padahal seingatku ranjang ada tepat di belakangku. Namun aku tak kunjung mencapainya. Kamar ini malah terasa seperti ruangan hampa yang kosong tanpa satu benda pun.


Tap.


Nah, aku menemukan sesuatu—lebih tepatnya seseorang. Karena yang aku pengang saat ini adalah rambut.


"Mas ... Ini kamu?" Aku meraba setiap inci rambut hingga wajahnya.


"Astaghfirullah!" pekikku saat aku sadar jika yang aku pegang barusan bukan suamiku. Aku pun mundur beberapa langkah ke belakang.


Apa itu tadi?

__ADS_1


Rambut yang aku rasakan terasa panjang, kusut, dan rengket. Seperti berhari-hari tidak disisir. Boro-boro, baunya pun melebihi kata apek. Sepertinya si pemilik rambut itu malas mandi. Bahkan aku sempat merasakan wajahnya yang mengelupas dari sentuhan ujung jari saja.


Klik!


Lampu menyala kembali.


Aku bersyukur sambil bernafas lega. Mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ini memang kamarku tapi seperti ada yang berbeda.


Astaga! Dimana mas Raihan?


Tersentak ketika baru menyadari suamiku tak ada di atas ranjang. Apakah dia keluar kamar saat mati lampu tadi?Tapi bukankah dia tadi tidak memakai baju? Itu tentu tidak mungkin.


Tiba-tiba telingaku mendengar suara tangisan yang menyayat hati dari pojok ruangan. Di sana berdiri sosok perempuan mengenakan gaun pengantin berwarna putih berdiri membelakangiku.


"S-siapa itu?" tanyaku takut-takut.


Meski aku sudah sadar dia itu hantu. Setidaknya aku tetap menjaga sopan santun dengan bertanya. Belum pernah aku melihat wujud hantu itu di rumah ini. Apakah dia pedatang baru?


Lalu bagaimana dengan pagar gaib yang dikatakan Bagas waktu itu?


Belum sempat memikirkan jawaban atas pertanyaanku. Sosok di ujung sana menolehkan wajah—lebih tepatnya kepala—tanpa mengubah posisi tubuhnya. Mata merahnya yang menyala penuh dendam menatap lurus ke dalam netraku.


"Jangan ambil suamiku!" jeritnya dengan suara nyaring.

__ADS_1


__ADS_2