
"A .... "
"Hai apa kabar? Bagaimana keadaanmu?" tanya tamuku dengan santai.
Sialan. Dia bisa sesantai ini padahal hatiku sudah tak menentu melihat kehadirannya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Pergilah! Atau aku akan berteriak agar warga segera memberimu pelajaran." Hampir saja aku menutup pintu, namun tangannya dengan sigap menahannya.
"Aku datang baik-baik sebagai tamu. Alangkah baiknya kamu menyuruhku masuk dulu. Ada yang ingin aku bicarakan."
"Pergi! Jangan ganggu aku lagi," usirku pada sosok Bryan yang sudah seperti hantu penasaran itu.
Tiba-tiba saja dia menghilang, lalu tahu-tahu dia sudah muncul begitu saja di depan mata. Semenjak kematian pak Kades dan terbongkarnya kebusukan keluarga mereka, Bryan yang hampir saja dihakimi warga mendadak pergi meninggalkan desa.
"Aku hanya ingin tahu kabarmu setelah berita kematian—" Bryan menghentikan ucapannya saat merasa ada warga yang melintas.
Sembari membernarkan letak tudung jaket yang menutupi kepalanya, Bryan sontak menerobos masuk tanpa menunggu persetujuan. Aku yang lengah karena kata kematian sempat keluar dari bibirnya tadi, hanya bisa membiarkannya masuk ke dalam rumah tanpa adanya perlawanan.
"Kita ngobrol di dalam. Di luar gak aman," ujarnya. Masih kutanggapi dengan mata melebar penuh tanya.
"Apa yang ingin kamu ucapkan tadi? Cepat katakan sebelum suamiku pulang," ujarku saat Bryan sudah mendudukkan diri di atas sofa.
Alisnya tertaut melihatku dengan tatapan aneh. Meski ada rasa was-was karena kami hanya berdua di rumah ini, tapi rasa penasaranku kambuh. Hingga tak memperdulikan konsekuensi apa yang bisa aku terima nanti.
"Apa kau belum tahu?" Bryan malah balik bertanya.
"Tahu apa sih? Udah deh jangan berbelit-belit. Cepat katakan," cecarku tak sabar.
__ADS_1
Bryan malah terdiam, membuatku semakin kesulitan menahan jiwa kepo yang sudah meronta-ronta ini.
"Apa suamimu sering pulang?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja iya."
Kenapa Bryan ini semakin ngelantur saja bicaranya? Apa ini hanya manipulasi agar dia bisa masuk ke dalam rumah? Oh bodohnya aku sudah termakan tipu muslihatnya.
"Oh."
What?! Dia hanya ber-oh ria. Wah, sudah jelas ini hanya basa-basi yang sengaja dia buat-buat agar memiliki alasan untuk bertemu denganku.
"Pergilah! Gak ada yang perlu kita bicarakan lagi," kataku akhirnya. Menyadari dia hanya mempermainkanku.
"Oke. Aku akan kesini lagi saat kau sudah tahu kebenarannya," ungkapnya, beranjak dari sofa dan mendekat ke arahku.
Aku tertegun sesaat, menyadari dia sudah lenyap dari hadapanku, barulah serentetan kata-kata kasar keluar dari bibirku dengan lancarnya.
Benar-benar pria brengsek gila. Datang cuma mau modus. Tahu begitu tadi aku tak membiarkannya masuk saja. Argh! Bodohnya aku!
Tok Tok
Saat lagi seriusnya memaki diri sendiri, pintu depan kembali di ketuk oleh seseorang. Apa itu Bryan? Dasar mesum sialan! Kenapa juga dia kembali lagi?!
Dengan emosi yang sudah meletup-letup seperti popcorn yang baru matang, bergegas aku membuka pintu.
Ceklek.
__ADS_1
"Dasar brengsek! Kenapa kamu kembali lagi, huh?!" Makianku keluar begitu saja tanpa bisa direm.
"Kok, kasar gitu sih, Dek?"
Astaghfirullah! Mas Raihan?!
"Eh, maaf, Mas. Bukan. M-maksudku tadi—" Buru-buru aku menjeda ucapan sebelum mulut ini membocorkan kedatangan Bryan ke rumah ini.
"Kamu kenapa sih, Dek? Marah sama, Mas? Mas minta maaf deh kalau gitu." Mas Raihan memasang wajah sedihnya yang membuatku tak tega.
"Bukan, Mas. Aku pikir Mas tadi orang lain," hiburku, meluruskan kesalahpahaman.
"Emang kamu kita Mas ini siapa?"
"Umm ... Kurir, Mas. Iya, aku kira kurir salah alamat tadi. Hehe bikin kesel aja," elakku, yang enggan menceritakan kisah sebenarnya.
Maafkan aku, Mas. Aku sudah terlalu sering membohongimu. Tapi ini untuk kelangsungan keharmonisan pernikahan kita. Aku takut sekali jika kamu meniggalkanku jika tahu kejadian sebenarnya.
Aku bukan istri yang baik. Maaf.
"Loh, kok malah ngelamun? Mas gak dibiarin masuk nih?"
"Oh, iya. Maaf lupa. Hehe." Aku segera menyingkir dari depan pintu, mempersilahkan suamiku masuk.
Sebelum menutup pintu, aku menyempatkan diri melihat mobil yang sudah terparkir di teras rumah. Perasaan aku tak mendengar suara mobil itu masuk. Bahkan kepulangan mas Raihan ini seperti janggal.
Ah mungkin hanya perasaanku saja.
__ADS_1