Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
54. Pemindahan Makam


__ADS_3

Semilir angin membuat daun-daun bunga kamboja saling bergesekan. Sebagian bunganya yang telah berumur pun berjatuhan ke tanah.


Aku berjalan di tengah iring-iringan manusia yang menampakkan wajah sendu. Ada pula yang hanya menatap jalan dengan nanar.


Nampaknya langit pun ikut sendu, karena enggan meneruskan sinar matahari untuk menghangatkan bumi tempat kami berpijak. Awan kelabu mulai menguasai langit. Hingga aku berdoa semoga air dari langit belum tercurah, hingga acara hari ini selesai.


Meski aku datang bersama dengan beberapa orang, namun suasana tetap terasa hikmat. Hingga angin yang menyapa pun bisa terdengar begitu jelas memasuki telinga. Isak tangis mulai mendominasi saat kami hampir mencapai acara puncak.


Tanah merah yang tadinya menganga lebar, kini mulai ditutup kembali, ditimbun menjadi sebuah gundukan kecil yang berjumlah dua biji. Tangis lirih masih setia mengiringi. Sampai lantunan doa pun mulai dipanjatkan. Membuat suasana kembali hikmat.


Para hadirin menunduk dalam. Menahan serta membendung raungan tangis yang keras.


Begitu pula denganku. Yang sedari tadi berusaha menahan air bening yang telah melapisi mata agar tidak menetes. Sebenarnya aku adalah orang yang gengsi untuk menunjukkan air mata.


Karena air mata membuatku terlihat lemah. Jika aku lemah, aku tak yakin bisa mengikuti acara ini hingga selesai.


Setelah untaian doa usai, perlahan tapi pasti, para iring-iringan mulai meninggalkan tempat ini. Kini hanya terisa aku dan seorang pria dengan wajah sendunya.


Kami melihat gundukan tanah yang masih basah dan berhias bunga itu sambil menunduk dalam. Ku lirik gundukan tanah yang berhias nisan di sebelah gundukan tanah kecil yang bertuliskan Raihan Aditama Al Qais.


Air mata yang dari tadi aku tahan akhirnya turun juga dari tempatnya. Namun segera kuseka sebelum pria di samping menyadarinya.


"Menangis saja. Itu hal yang wajar. Menangislah sewajarnya, lalu jangan lupa tersenyum lagi," ujarnya padaku, yang hanya kudengar tanpa berniat membalasnya. Diusapnya punggungku yang bergetar kecil dengan lembut.


Tak lama setelah mendapatkan pengelihatan normal kembali, aku memutuskan untuk memindah makam anak-anak yang berada di samping rumah ke tempat pemakaman umum di desa Sukaraja. Aku memindahkan makam keduanya tepat di samping makam mas Raihan dan juga kedua mertuaku.


Aku harus ikhlas, meski itu bertentangan dengan hati dan pikiran. Tak bisa selalu terpaku pada tempat yang sama. Aku harus berani melangkah maju.


Terlebih sekarang aku sudah tidak perlu khawatir dengan mata yang suka mempermainkan itu. Tapi bukan berarti sifat baik Bryan tidak mempermainkan hatiku.


Baper?

__ADS_1


Mungkin iya. Orang mana yang tidak tersentuh dengan seseorang yang selalu berusaha ada untuk kita? Bukan hanya ada tapi peduli dan memahami. Aku merasakan hal itu padanya. Bukankah insting wanita itu lebih kuat?


"Via?"


"Ya?"


"Siapa Rada?" Bryan menatap heran ke arah pusara dengan gundukan tanah kecil bertuliskan Rada Al Qaisa yang berada di samping makam Althaf.


Deg.


Oh, astaga, bagaimana aku bisa lupa menceritakan tentang Rada pada Bryan.


"Nanti aku ceritain. Tapi gak di sini."


"Hmm." Bryan mengangguk setuju.


Sangat berbeda dengan dia yang yang dulu. Bukan pria brengsek pemaksa yang berhati iblis lagi. Sikapnya padaku bahkan jauh dari gelar buaya kelas penjahat ************, yang dulu sempat aku sematkan padanya.


"Via? Kok diem?"


Bryan membuyarkan lamunanku. Aku tengah berpikir untuk menjelaskan darimana aku harus bercerita tentang asal usul Rada.


Usai pulang dari pemakaman aku singgah sebentar di rumah Bryan guna membicarakan hal ini. Lagi pula hatiku masih belum terlalu kuat untuk melihat rumahku yang menyimpan banyak akan kenangan dengan keluarga kecilku.


"Eh, i-iya?" Aku menoleh dengan manik yang tak berfokus pada Bryan.


"Siapa Rada? Anakmu dengan Raihan kah? Kenapa aku gak pernah tahu? Lalu kenapa kamu gugup seperti itu?" cecar Bryan mengamati wajahku dengan seksama.


Mungkin dia kesal saat tak kunjung mendapatkan jawaban, dan dia juga menyadari gelagat anehku.


"Rada anakku, tapi bukan anak almarhum mas Raihan," jawbaku akhirnya. Hatiku kembali merasa nyeri saat mengucapkan kata 'almarhum'.

__ADS_1


Akh! Ayo Via, kamu kuat. Jelaskan semuanya tanpa tangisan atau emosi.


Jujurly, aku sudah sangat lelah menangis. Kantung mataku bahkan sudah membengkak dan hitam. Mungkin penampilanku sekarang tak ada bedanya dengan kuntilanak.


"Lalu? Rada itu anak hasil kamu berbuat demikian dengan orang lain?" Bryan melongo dengan jawabanku.


Aku tak kalah melongonya dengan dia. Apa dia sudah lupa dengan apa yang pernah diperbuatnya dulu?


"Ayolah, Bryan. Jangan bercanda. Aku yakin kamu tahu apa yang aku maksud," sanggahku.


"Aku gak ngerti, Via."


Sial. Ekspresinya begitu meyakinkan. Apa dia benar-benar amnesia? Apa kepalanya pernah terbentur sesuatu?


"Kamu gak ingat apa yang udah kamu lakuin ke aku?"


Mulut Bryan terbuka lebih lebar dari sebelumnya. "Maksudmu aku—"


"Iya, Bryan. Kamu gak ingat udah lecehin aku? Dan itu terjadi gak hanya sekali."


Mengingat saat-saat aku tak bisa mempertahankan harga diri, seperti membuka luka lama yang sudah berusaha aku sembuhkan.


Oh, ayolah. Kapan pembicaraan ini berakhir?


Kami saling terdiam cukup lama. Waktu yang cukup untuk pria itu mencerna apa yang aku ungkapan. Air muka Bryan yang berubah keruh perlahan mulai tenang.


Dia pun berkata dengan lembut namun sorot matanya terlihat tajam. "Coba ceritakan detailnya."


What?! Dia ingin aku trauma atau gimana? Tapi melihat keseriusan dari pancaran sinar matanya yang menghujam, aku yakin dia memang tidak sedang bercanda.


Ada apa dengan ini Bryan sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2