Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
42. Bersetubuh


__ADS_3

Sepertinya kita diikuti hantu, Mas. Atau lebih tepatnya kamu."


"Apa?!" Mas Raihan terkejut. Terlihat sekali jika dia tidak tahu apa-apa.


Kuabaikan suamiku yang masih belum memahami situasi itu. Mendekati hantu dari hotel yang aku anggap sudah menghilang tadi.


"Apa kau yang bernama Gaby?" tanyaku memastikan.


"Tidak ada urusannya denganmu," sewotnya. Membuatku semakin geram saja.


"Tentu ada. Kau selingkuhan Mas Raihan 'kan? Dia itu suamiku tahu!"


"Dia kekasihku. Kau yang merebutnya dariku." Gaby menatapku penuh dendam.


Aku memicingkan mata. Setahuku mas Raihan tak memiliki mantan bernama Gaby. Apa ada yang mas Raihan sembunyikan dariku?


"Mas?" Aku menoleh ke belakang.


"Apa, Dek?" tanya Mas Raihan penasaran. Dia tahu mata batinku terbuka, jadi dia tidak terkejut jika aku seperti berbicara seorang diri seperti orang gila dari tadi.


"Apa kamu punya mantan bernama Gaby?"


Suamiku nampak berpikir, sebelum menjawab. "Tidak ada. Aku sudah jujur padamu saat kita pacaran. Apa kamu lupa?"


"Tidak, Mas. Aku percaya." Ku ulas sebuah senyuman, lalu kembali memandang sosok di depan kamar mandi.

__ADS_1


"Kau lihat? Suamiku tak mengenalmu. Sepertinya kau salah orang. Atau kau yang mengaku-ngaku jika mas Raihan adalah kekasihmu? Aku tahu yang membuatnya berubah aneh itu kau." Telunjukku mengarah pada sosok wanita yang malah tertawa terbahak-bahak itu.


"Hahaha. Dasar bodoh. Bahkan kami sudah menyatu. Itu artinya pria itu milikku."


Mulutku sontak terbuka lebar. Apa yang dia maksud dengan menyatu? Apa dia dan mas Raihan sudah melakukan hubungan di luar nalarku?


Sosok itu terus tertawa semakin lama semakin keras pula.


"Stop!" jeritku seraya menutup telinga.


"Kamu kenapa, Dek?" Langkah mas Raihan mendekat.


Tangannya berusaha menyentuhku, namun aku segera menjauh. Tak sanggup membayangkan jika pria yang paling aku sayangi sudah berbuat mesum dengan hantu.


Mungkin terdengar aneh jika aku cemburu dengan makhluk dari dunia lain. Tapi yang namanya istri tentu akan cemburu jika suaminya berhubungan dengan wanita lain.


"Hiks .... " Bukannya menjawab dia malah menangis tersedu-sedu.


"Suamimu mirip dengan lelaki yang sudah meninggalkanku sehari sebelum pernikahan kami karena orang lain."


Mendengar pengakuan itu tiba-tiba hatiku ikut terenyuh. Dia kah wanita yang katanya mati bunuh diri di hotel dengan nomor kamar 444 itu?


"Aku sudah mengawasi pria itu sejak lama. Sampai aku bisa mendekatinya dan mengajaknya main di rumahku," lanjutnya.


"Dimana rumahmu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Hotel."


"Jadi kalian sudah .... " Rasanya aku tak sanggup melanjutkan kalimat itu. Sakit hati ini mengingat segala hal yang mungkin terjadi di antara mereka.


"Ya, dan aku sedang mengandung anak dari suamimu. Hahahaha." Tawa membahana itu membuat tanganku terkepal geram.


Sejauh itukah hubungan mereka?


Dugaan nenek Surti berarti salah. Mas Raihan bukannya diguna-guna. Tapi dia dicintai oleh makhluk halus. Bahkan mereka sudah memiliki anak saat ini. Benar-benar hal di luar nalar.


Siapa yang bisa aku percaya sekarang?


Bukankah makhluk halus itu suka berbohong?


"Arghh!" gusarku mengacak-acak rambut hingga membuatnya berantakan bak orang gila yang suka berpetualang tak tentu arah.


"Dek, kamu ini kenapa? Jangan buat Mas bingung." Mas Raihan meraih kedua tanganku.


"Lepas, Mas!" bentakku menepis tangannya seraya mundur beberapa langkah.


"Kamu ini kenapa? Aku salah apa sampai kamu bentak Mas kayak gini?" tanyanya bingung.


"Pikir sendiri," ketusku seraya keluar kamar.


Hanya ada satu orang yang bisa aku tujuan sekarang. Melangkahkan kaki keluar rumah guna menuju sebuah gubuk tua di ujung desa. Air mata yang jatuh seenaknya itu tak dapat kutahan lagi, saat menapakkan kaki pada jalan setapak yang menuntunku menuju rumah nenek Surti.

__ADS_1


"Kamu tega, Mas .... " lirihku pilu.


__ADS_2