
Selesai dari kamar mandi aku hendak memasuki kamar. Namun betapa terkejutnya saat merasakan pintu itu dikunci dari dalam.
Tok Tok
"Mas? Kok pintunya dikunci? Aku 'kan belum masuk!" teriakku menggedor pintu.
Suara yang familiar sontak memasuki rongga telinga. Desah dan erang erotis itu membuat atmosfer seketika memanas, mengetahui hantu pelakor itu berulah lagi.
Tok Tok
"Mas, buka pintunya!" teriakku lagi.
"Atau aku akan—" Ucapanku terhenti menyadari sesuatu.
"Astaga!" seruku berlari menuju dapur.
Ternyata aku melupakan pesan nenek Surti untuk menaburkan garam pemberiannya di sekitar rumah. Pantas saja hantu pelakor itu kembali lagi. Duh, bodohnya aku.
Segera kusambar saja bungkusan itu, lalu berlari keluar rumah. Namun belum sampai kaki ini memijak teras, suara pintu terbuka terdengar dari arah kamar kami.
Ceklek.
Aku menengok ke belakang, mas Raihan menyembuhkan kepalanya. Wajahnya begitu dung
"Mas!" pekikku berlari menuju ke dalam rumah lagi.
Mas Raihan yang tak mengenakan sehelai benang pun membuatku geram setengah mati. Lantas menerjang tubuhnya untuk merangsek masuk ke dalam kamar.
"Hantu sialan!" hardikku langsung melemparkan bungkusan garam itu sekuat tenaga ke arah hantu wanita yang sedang tiduran di ranjang.
__ADS_1
Entah karena gesekan udara yang terlalu keras atau gravitasi yang terlalu besar, bungkusan plastik itu terbuka dan menumpahkan seluruh isinya di tubuh hantu wanita tersebut.
"Argghh!" teriakan kesakitan darinya sontak menerbitkan senyuman di wajahku.
"Rasain kamu!" sarkasku melihatnya menggeliat kesakitan.
"Arghh!"
Dia terus saja berteriak hingga menggema di seluruh ruangan. Namun aku tak peduli. Kedua netraku sibuk mencari mas Raihan yang tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Mas?" panggilku seraya keluar dari kamar.
"Kamu dimana, Mas?"
"Cari siapa, Dek?"
Aku dikejutkan dengan suara dari arah depan. Sepasang kelopak mataku terbuka sempurna menyaksikan mas Raihan yang baru memasuki rumah dengan pakaian lengkap.
Aku mengucek mata, memastikan jika mata ini masih berfungsi dengan baik. Mas Raihan berjalan santai ke arahku.
"Nyariin Mas? Maaf, ya. Mas pulang terlambat."
"Emang Mas dari mana?" tanyaku heran.
"Dari luar."
"S-sejak kapan?"
"Sejak tadi," jawabnya enteng. Berbeda sekali dengan pikiranku yang seperti naik rollercoaster. Pusing. Mual pula.
__ADS_1
"T-tapi tadi .. . Di kamar .... "
"Kamu nih ngomong apa sih? Mas capek mau mandi dulu. Tolong siapin air panas buat Mas mandi, ya?" pintanya berjalan menjauh menuju ruang tengah.
Segera kunyalakan kompor guna memasak air, kemudian menuju kamar untuk mengecek hantu pelakor itu. Entah bagaimana kabarnya. Fokusku terbagi dengan hal-hal ganjil.
"Eh? Ilang?" gumamku tak menyaksikan siapapun di dalam kamar.
Bahkan aku sampai menelisik setiap sudut. Tapi tak menjumpai siapapun
"Alhamdulillah .... " ucapku syukur.
Langkah kaki menuntunku mendekati ranjang. Dimana garam dari nenek Surti berhamburan di atasnya. Apa garam ini yang membuat hantu pelakor itu menghilang?
Tak ingin berlama-lama memikirkan hal yang tak pasti jawabannya, aku pun lekas membersihkan garam yang masih sedikit itu agar tak terlihat mas Raihan. Yang tentu akan menanyaiku dengan segudang pertanyaan yang memusingkan.
Merasakan alur hidupku saja sudah pening, apalagi menceritakannya. Suara teko air yang mendayu-dayu membuyarkan lamunan. Aku tergesa menuju dapur lalu menyiapkan air panas untuk mas Raihan.
"Mas? Air panasnya udah siap," ujarku, membangunkan mas Raihan yang ketiduran di atas sofa.
"Enghh ... Iya, Dek. Mas mandi dulu," balasnya seraya bangkit dengan malas-malasan.
Entah perasaanku saja atau memang mas Raihan terlihat sedikit pucat saat ini?
Ah, paling dia sedang kelelahan. Aku tak perlu negatif thinking. Bukankah mata ini selalu tidak sehat karena terlalu sering melihat hal di luar kebiasaan?
Setelah menyakinkan diri bahwa keadaan sudah kembali normal, aku menuju kamar. Merebahkan diri di ranjang yang empuk lalu dengan mudahnya pikiranku melintasi alam bawah sadar.
......................
__ADS_1
"Dek, maafin Mas, ya?"