Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
45. Livia


__ADS_3

"Dek, maafin Mas, ya?"


"Apa yang terjadi padamu, Mas?"


"Kau tak akan mengerti."


"Kau benar. Tapi aku ingin mendengarnya," pintaku memperhatikan raut sendu mas Raihan.


"Maaf jika selama ini Mas belum bisa jadi suami yang terbaik buat kamu. Mas juga sudah gagal menjaga amanah yang diberikan Tuhan pada kita," urai Mas Raihan.


Kugenggam tangan suamiku yang terasa dingin. "Mas ini ngomong apa? Aku bahagia asal memiliki suami seperti Mas. Aku bersyukur kita masih bisa bersama sampai titik ini."


Saat mengucapkannya, seketika kenangan saat sebelum kami menikah dulu melintas diingatanku. Ketika itu kami masih duduk di bangku kuliah. Masa dimana kami masih malu-malu kucing karena baru pertama kali berkenalan.


Sebenarnya aku lebih dulu kenal dengan mas Raihan. Sebab waktu itu dia pacar dari saudari kembaranku bernama Livia. Karena insiden memalukan itu kami semakin dekat seiring berjalannya waktu. Aku mendapatkan cinta dari orang lain, namun aku juga kehilangan cinta seseorang.


Flashback.


Aku sedang duduk di bangku depan rumah walau hari sudah semakin gelap. Kesepian melanda sebab saat ini hanya aku yang berada di rumah. Ayah dan ibu sedang ada acara di luar. Sedangkan saudara kembarku Livia belum kembali dari kampus dari tadi siang. Dia bilang ada acara dengan teman-temannya.


Dari kejauhan sana terlihat mobil hitam yang mendekat ke pekarangan rumah kami. Dan aku tahu itu mobil siapa. Saat hendak masuk ke dalam rumah, pemilik mobil itu lebih dulu memanggil nama saudara kembarku.


"Livia!"


Tentu saja aku tak menoleh dan memilih masuk ke dalam rumah. Kupikir dia akan pulang mengetahui pacarnya tak ada di rumah. Tapi ternyata salah. Raihan Aditama Al Qois, atau yang lebih sering dipanggil Raihan itu malah masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


Dia langsung menerobos masuk ke kamarku dan memelukku dari belakang.


"Dipanggil kok gak nyaut. Gak kangen apa sama aku?" bisiknya tepat di belakang telingaku.


"M-Mas, jangan macam-macam aku Div—argh!"


"Sstt ... Aku kangen sama kamu, Via. Akhir-akhir ini kita jarang ketemu karena tugas kampus yang merepotkan." Mas Raihan tiba-tiba memasukkan tangan kekarnya ke dalam kaos yang kugunakan.


Tangannya menelusuri lekuk perut hingga membuat menggelinjang tak karuan dan tidak sanggup meneruskan kata-kataku lagi. Sensasi rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya itu bagai menyihir duniaku untuk memasuki dunianya.


Dengan cepat mas Raihan memutar tubuhku hingga menghadapnya lalu meraup bibirku yang bergetar. Sialan! My first kiss!


Saat itu aku mengumpat dalam hati namun tubuhku menolak untuk menjauh. Bagai menikmati pagutannya yang begitu memabukkan. Sebab dia langsung memperdalam ciuman tanpa membiarkanku memahami situasi.


Aku sadar jika ini salah. Tapi tubuhku tak kuasa melawan kekuatannya yang begitu besar. Kedua tanganku sudah berusaha berontak untuk memukul dadanya, namun begitu mudahnya dia menangkap pergelangan tanganku dengan satu tangan. Dan tangannya yang lain menekan tengkukku.


"A-aku bukan Livia .... " desahku sambil terengah, seolah kehabisan nafas saat mas Raihan akhirnya melepas tautan bibir kami.


"Eh?" Dengan raut terkejut mas Raihan memperhatikan wajahku yang memerah dengan seksama.

__ADS_1


Brak!


"Raihan!!" Suara lembut namun menusuk itu membuat kami berdua terperanjat.


"Li-Livia?" gumamku dengan kedua netra terbuka sempurna.


Entah sejak kapan dia sudah berada di ambang pintu. Astaga, kenapa dia datang di saat yang tidak tepat?


"Aku gak nyangka kalian berbuat seperti ini di belakangku," ucap Livia dengan suara bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ini gak seperti apa yang kamu lihat, Liv. Kamu salah paham," belaku mencoba mengatakan kejadian sebenarnya.


"Salah paham, huh?! Semuanya sudah jelas di depan mata. Kalian berciuman!" bentaknya disertai isakkan yang membuatku merasa begitu bersalah, karena sempat menikmati ciuman dari pacar saudari kembarku sendiri.


"Kamu salah, Liv. Kami hanya—" Akh! Sialnya aku tak dapat melanjutkan pembelaanku. Dilihat dari sisi manapun perbuatan kami tetap salah.


"Brengsek!" makinya yang sontak berlari menjauh.


"Tunggu, Liv!" tahanku seraya berlari mengejar Livia. Mengabaikan mas Raihan yang masih mematung di tempat.


Nampaknya dia masih syok dengan kejadian di luar planning ini. Aku terus mengejar Livia yang berlari ke ruang depan, hingga tanganku berhasil meraih baju belakangnya.


Sret!


Grep!


"Maaf ... Tapi kamu salah paham. Aku—"


"Hiks ... Salah paham? Lalu pipimu yang merona itu juga akibat salah paham?" selanya, memotong ucapanku.


"Eh?"


Suara langkah kaki dari belakang membuat Livia melerai pelukan kami secara paksa.


"Penghianat!" cercanya sembari mendorongku dengan kuat. Tubuhku terjerembab dan berakhir di atas lantai saking terkejutnya.


"Awh!" pekikku merasakan bagian belakang yang seketika ngilu.


Plak!


Suara tamparan keras itu terdengar jelas di ruang tamu. Kepalaku menoleh guna melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sebelum sempat melihat apapun, Livia sudah kembali berlari ke luar rumah.


"Via! Tunggu!" teriak mas Raihan mulai mengejarnya.


Alhamdulillah ... Akhirnya otaknya jalan juga. Daripada terus berdiam diri lebih baik dia yang bertindak. Sepertinya Livia sama sekali tak mempercayaiku.

__ADS_1


"Aduduh .... " keluhku yang masih mencoba berdiri dengan berpegangan sofa.


"LIVIA! AWAS!!" Teriakan itu seketika mengagetkanku.


Brak!


Kenapa lagi sih itu laki. Bikin orang jantungan saja. Teriakannya itu loh, heboh. Udah kayak emak-emak abis ngeliat barang diskonan saja.


Deg.


Tubuhku yang baru saja bisa berdiri kini terjatuh lagi. Kakiku langsung lemas menyaksikan tubuh Livia yang bersimbah darah terlebih pada bagian kepala.


"Livia!" pekikku.


Berusaha agar kaki ini dapat sinkron dengan otakku. Dengan tertatih aku mendekati tubuh saudari kembarku yang tergeletak mengenaskan di pinggir jalan. Mas Raihan sudah berlinang air mata sembari meletakkan kepala Livia di atas pahanya.


"Livia bertahanlah!" seru mas Raihan di


sela kucuran air mata.


"A-aku ... Gak kuathh ... S-sakit .... " rintih Livia dengan susah payah.


"Ayo kita ke rumah sakit."


"Tidak," tolak Livia yang membuat kami semakin panik.


"Livia?" bisikku, mendekat pada tubuhnya yang mulai dingin.


"D-Divia .... " lirih Livia dengan susah payah.


Aku segera mendekatkan telingaku agar dapat mendengar suaranya lebih jelas.


"M-menikahlah dengan Ra-Raihan .... "


"A-apa yang kau bicarakan?"


"Aku ta-tahu kalau kamu j-juga suka—"


"Livia!" Teriakku dan mas Raihan bersamaan melihat Livia sudah memejamkan mata dengan hembusan berat sebelum menyelesaikan kata-katanya.


"Livia bangun!" Aku mengguncang-guncangkan tubuh Livia yang sudah tak bernyawa.


Inilah pertama kalinya aku melihat kematian tepat di depan mata. Hal itu yang menyebabkanku menutup hati pada lelaki manapun. Namun mengingat pesan terakhir Livia membuatku menerima mas Raihan saat dia ingin segera menikahiku.


Jadi panggilan Via yang mas Raihan sematkan padaku itu berasal dari panggilan sayangnya pada saudari kembarku. Sakit sih, tapi ini sebagai bentuk penghormatanku padanya. Jadi tidak masalah. Dia sudah mengijinkanku bersanding dengan pacar yang dicintainya.

__ADS_1


Flashback End.


__ADS_2